MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 36


__ADS_3

Waktu terus berlalu tanpa bisa dihentikan, tak terasa kehidupan pernikahan pasangan Arion dan Aruna kini telah memasuki bulan ketiga. Tak ada kemajuan yang berarti dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tinggal di rumah milik mereka sendiri karena ingin hidup mandiri pun tak mempengaruhi sikap Aruna.


Arion mulai putus asa dan sering pulang malam. Ia menghabiskan waktunya bersama Restu dan Putra. Beruntung istri Putra wanita yang pengertian.


"Aku berangkat duluan, Yang ,,, mungkin telat tiba di kantor, aku ada janji dengan Putra." Ucap Arion menyelesaikan sarapannya.


Aruna hanya menganggukkan kepalanya karena mulutnya penuh dengan nasi goreng. Saat Arion berdiri, Aruna tetap melanjutkan makannya seolah Arion tak kasat mata.


Sejenak Arion menatap Aruna dengan tatapan tak terbaca sebelum kemudian mengambil tas kerjanya dan meninggalkan meja makan.


Terdengar deru mobil semakin menjauh pertanda Arion sudah berangkat barulah Aruna menyelesaikan sarapannya. Beberapa ART yang mereka pekerjakan hanya bisa terdiam dengan sejuta pertanyaan. Pasangan yang terlihat sangat serasi namun saat berada di dalam rumah, mereka bagaikan dua orang asing.


"Bi, berangkat dulu, ya ,,," Pamit Aruna


"Hati-hati bu ,,,"Balas wanita paruh baya itu tersenyum lembut.


Aruna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju perusahaan PT Glo_Tech. Ia tak lagi berharap mendapatkan panggilan dari perusahaan Wijaya Group.


Hampir satu jam waktu yang Aruna habiskan untuk tiba di kantor. Aruna langsung menuju lift karyawan seperti biasanya. Ia menggunakan lift khusus pemilik perusahaan jika kebetulan pulang bersama Arion. Belum seorangpun karyawan yang mengetahui pernikahan mereka kecuali Restu dan Syasya tentunya. Kedua manusia itupun memilih diam dan tak mengurusi pasangan aneh yang sayangnya adalah sahabat mereka.


"Pak bos kemana ?" Tanya Restu melihat Aruna muncul dari eskalaltor.


"Katanya ada janji sama mas Putra." Jawab Aruna terus melanjutkan langkah menuju meja kerjanya.


"Tumben ,,," Gumam Restu pelan namun masih terdengar oleh Aruna.


"Mana aku tahu pak, bukan urusanku juga, kan ?" Balas Aruna cuek.


Walaupun penasaran pertemuan kedua sahabatnya tanpa dirinya namun Restu menepis segalanya. Ia harus memanfaatkan kesempatan untuk berbicara panjang lebar dengan Aruna. Kebahagiaan keduanya akan memutuskan jalan Restu untuk menghalalkan Arista. Gadis itu hanya akan menikah jika Aruna bisa menerima Arion seutuhnya.


"Bisa kita bicara ? Mumpung suamimu gak di kantor." Restu mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Lho bukannya dari tadi kita bicara ?" Aruna menatap Restu tak mengerti.


"Iya sih, tapi yang aku maksud bicara tentang kehidupan kalian." Balas Restu terus terang.


Aruna tersenyum menanggapi ucapan Restu. Ia kini mengerti arah pembicaraan sahabat pria yang telah menikahinya secara resmi.


"Gak ada yang menarik untuk dibicarakan, pak."


"Setiap hubungan pasti memiliki keunikan, kebahagiaan dan daya tarik tersendiri hanya tergantung kita bagaimana menyikapinya." Balas Restu namun sekali lagi Aruna hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.


"Nenek Sarah dan kakek Ramdhan semakin tua, harapan mereka hanya ingin melihat cucu-cucunya berbahagia." Restu mencoba menyentuh perasaan Aruna.


Seperti halnya Arion yang sangat menyayangi kakek Ramdhan maka seperti itu pula Aruna pun sangat menyayangi neneknya. Restu memahami hal itu.


"Bener sih pak, tapi terus terang aja, setiap kali aku mencoba membuka hatiku untuk pak Arion tapi bayangan pak Arion yang suka main perempuan membuatku sangat jijik bahkan teramat sangat jijik. " Balas Aruna


Aruna memutuskan untuk berterus terang pada Restu tentang apa yang ia rasakan selama ini. Ia tak sanggup lagi menyimpan beban selama tiga bukan terakhir ini. Mungkin semua orang yang mengetahui tentang pernikahan mereka menyalahkan Aruna yang terkesan tak berusaha membuka hati namun mereka pun tak tahu sekuat apa Aruna berusaha, namun masalah hati yang pernah terluka hingga saat ini belum bisa tertata dengan baik.


"Jangan mudah percaya dengan omongan orang ,,, kalau gak benar, itu jatuhnya fitnah lho. " Restu mulai memancing Aruna.


Mumpung gadis itu mulai terbuka padanya. Restu tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Entah mengapa kali ini Aruna merasa bebas bercerita tanpa tatapan Arion.


"Aku dengar sendiri, kok. Waktu itu kalian bertiga sedang berbicara di teras rumah nenek Sarah."


Lagi-lagi Restu terdiam, berpura-pura mengingatnya padahal sebenarnya Restu mencoba menyusun kata-kata agar pikiran Aruna tak terpengaruh dengan semua itu.


"Terkadang jika kami bertiga sedang ngumpul, kami suka ngomong asal sepertinyang kamu dengar waktu itu."


"Aku bukan anak kecil atau gadis lugu, pak. Saya hidup di Eropa kurang lebih enam tahun dan pak Restu tahu kan gimana pergaulan disana." Balas Aruna terkekeh.


"Oh ya, kabarnya kamu memiliki kekasih juga saat menikah dengan Arion ?" Testu mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Betul dan beberapa hari lalu dia meminta untuk bertemu, hanya saja belum ada waktu yang tepat untuk menemuinya." Balas Aruna enteng seenteng permen kapas.


"Kamu masih mengharapkan bersatu dengan kekasihmu ?"


Aruna kembali tertawa mendengar pertanyaan Restu yang sangat lucu menurutnya. Aruna dan Kevin memang belum mengucapkan kata putus dalam hubungan mereka. Hanya saja Aruna langsung menganggap kisah mereka berakhir saat Kevin mengatakan jika hubungannya dengan Aruna hanyalah sebatas teman pada gadis yang bersamanya waktu itu. Dan hingga saat 8mi Aruna belum oe4nah bertemu dengan Kevin.


"Soal itu biarlah waktu yang menentukan. Karena selama ini takdir baik sepertinya tak pernah berpihak padaku." Balas Aruna kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Melihat Aruna seolah tak ingin membahas lebih lanjut kisah tentang Kevin membuat Restu segera pamit ke ruangannya. Hari pun beranjak siang. Restu melirik jam tangannya dan berusaha menelepon Arion namun tak diangkat.


'Pantas saja Aruna tak bisa memberimu kepercayaan.' Batin Restu kesal.


Hingga jam makan siang, Arion belum juga kembali. Aruna memutuskan untuk mengajak sahabatnya makan siang di luar. Mumpung sang bos tidak ditempat dan pekerjaan Aruna pun sudah selesai.


Aruna turun kelantai empat dengan menggunakan eskalator kemudian memasuki lift menuju lantai tiga dimana ruangan Syasya berada.


"Tumben nih ngajak makan ci luar." Syasya menyambut Aruna dengan gembira.


"Lqgi bosan aja makan di kantin." Balas Aruna merangkul pundak sahabatnya.


Kedua gadis itu kemudian berceloteh sambil berjalan memasuki lift. Aruna memang akan sangat cerewet jika sedang bersama dengan Syasya. Segala macam topik pembicaraan yang bisa menjadi bahan obrolan seru bagi mereka. Hingga akhirnya tiba di parkiran keduanya tak berhenti bicara dan mengacuhkan orang-orang disekitar mereka. Dunia seolah milik mereka berdua.


"Kita makan di restoran yang baru buka dan katanya menunya enak-enak." Ucap Aruna saat mereka telah berada di jalan raya.


"Aku sih terserah yang ngajak ,,, yang penting gratis." Balas Syasya terkekeh.


🌺🌺🌺🌺


SELAMAT SORE READERS


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA

__ADS_1


__ADS_2