MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 43


__ADS_3

Keluar dari dapur, Aruna kembali berbasa basi dengan kedua sahabat pria yang berstatus sebagai suaminya. Putra tak melewatkan kesempatan dan segera memulai rencananya.


"Duduk dulu, Run ,,, mas ada perlu sama kamu." Ucap Putra lembut.


Aruna mengernyitkan dahinya tak mengerti, mereka hanya sekedar kenal dan tidak seakrab itu hingga bisa duduk bersama sambil bercanda qpalagi sampai Putra memiliki keperluan dengannya.


"Gak apa-apa, kok. Kami hanya ingin memperlihatkan sesuatu." Timpal Restu yang melihat kebingungan Aruna.


Arion memilih diam dan duduk dengan tenang bersama kedua sahabatnya. Sejak kedatangan Maretha, jarak antara dirinya dan Aruna semakin terbentang luas sehingga mereka lebih mirip penghuni kost-kostan yang tak saling mengenal.


Dengan lincahnya Putra segera mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Sementara Aruna hanya diam dalam keinginan tahuannya. Penasaran ? Tentu saja ia sangat penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Putra. Dengan segera Putra menyalakan laptopnya dan memutar rekaman CCTV.


Awalnya Aruna terkejut namun sesaat kemudian wajahnya nampak biasa-biasa saja. Aruna tetap tenang melihat rekaman tersebut hingga akhir. Senyuman tipis menghiasi bibir mungil Aruna, melihat hal itu Arion berteriak girang dalam hati namun saat Aruna berbicara, dunianya terasa hancur.


"Maaf mas, keputusanku bercerai sudah bulat. Aku tak bisa hidup dengan pria yang sudah kesana kemari membuang benihnya." Datar dan dingin terdengar kata-kata yang keluar dari bibir Aruna.


"Jangan harap aku akan mengabulkan keinginanmu ! Kecuali ajal yang memisahkan kita !" Arion tak dapat lagi menahan amarahnya.


Aruna tak ingin bertengkar di depan kedua sahabat Arion. Ia hanya diam dan memilih untuk meninggalkan mereka. Rasanya risih juga berada diantara ketiga pria yang tidak akrab dengannya. Namun saat Aruna sudah membelakang, Putra berdiri dan membekap Aruna dari belakang.


"Apa yang kamu lakukan ?" Kesal Arion melihat Aruna tiba-tiba pingsan.


"Aruna terlalu keras kepala makanya kita harus melakukan rencana B." Balas Putra kembali duduk santai setelah tubuh Aruna berada dalam pelukan Arion.


"Maksudnya ?" Arion semakin bingung. Kekesalannya tak lagi mampu membuat otaknya bekerja.


"Lakukan sesuatu agar kalian terkesan melakukan hubungan suami istri." Ucapan Putra membuat Restu tersenyum jahil.


"Jangan hanya terkesan, langsung melakukannya pun gak ada masalah. Kalian adalah pasangan sah." Timpal Restu.


"Aku memang akan melakukannya tapi tidak sekarang. Gak mungkin aku memperkosa istriku sendiri." Ucap Arion menggendong tubuh Aruna memasuki kamarnya.

__ADS_1


Setelah meletakkan Aruna diatas tempat tidurnya, Arion kembali keluar menemui kedua sahabatnya.


"Jangan buang-buang waktu, lakukan sebelum Aruna sadar kembali."


"Gimana aku melakukannya jika kalian masih disini ?"


"Ok, kami pulang. Jangan lupa ceritakan hasilnya." Ucap Putra setengah menyeret Restu pergi dari hadapan Arion.


"Terima kasih untuk semuanya." Teriak Arion menghentikan langkah keduanya.


"Tak ada yang gratis di dunia ini, bung. Bayarannya sedang kami pikirkan." Balas Putra bertos ria dengan Restu. Jangan lupakan senyumnya membuat Arion merasa gelisah.


Arion merasa imbalan yang akan diminta oleh kedua pria itu paling kecil adalah liburan. Semoga saja permintaan mereka benar-benar hanya liburan.


Putra tersenyum membayangkan sesuatu yang menyenangkan dan gratis. Demikian pula haknya dengan Restu, ia akan meminta sesuatu yang akan sangat membahagiakannya. Keduanya memiliki pemikiran yang berbeda namun sama-sama menyenangkan dan membahagiakan.


Setelah kedua sahabatnya menghilang, Arion segera masuk ke dalam kamarnya dimana Aruna terbaring tak sadarkan diri. Perlahan Arion mendekati Aruna yang masih berpakaian lengkap. Arion termenung sesaat, tampak ia ragu melakukan saran Putra. Ia memikirkan tanggapan Aruna padanya saat gadis itu sadar.


Arion kesulitan menelan salivanya kala melihat tubuh polos sang istri. Sangat sempurna dan menantang namun pikiran jernihnya masih bekerja. Ia pun segera membuka seluruh pakaiannya lalu berbaring disamping Aruna. Posisi mereka yang sangat intim membuat pedang sakti yang tumpul karena tak pernah lagi terasah tiba-tiba menggeliat minta diasah dan digunakan. Arion sangat tersiksa namun tak mungkin ia melakukannya tanpa persetujuan sang istri. Perlahan Arion memeluk erat Aruna dan memejamkan mata.


Pria itu sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Aruna saat bangun. Daripada Aruna meminta cerai lebih baik ia menerima amukan sang istri. Arion sudah pasrah, ia tak mungkin melepaskan wanita yang mampu mengalihkan dunianya.


Mata Arion akhirnya tertutup sempurna, rasa kantuk selama dua hari tak bisa tidur dengan nyenyak membuatnya seketika terlena. Hingga Aruna bangun dan kaget dengan kamar yang ia tempati.


"Aaaaaa ,,," Teriakan Aruna memenuhi kamar luas milik Arion kala menyibak selimut.


Aruna menangis meraung-raung manakala menyadari tak selembar benangpun melekat pada tubuhnya. Beruntung kamar Arion kenapa suara sehingga para ART tak mendengarnya.


"Ada apa sih, Yang ,,," Arion pun melupakan keadaan tubuhnya yang tak berbeda dengan Aruna.


Rupanya tidur nyenyak membuat ingatan Arion sedikit melemah. Ia duduk memperhatikan Aruna yang menangis meraung-raung. Detik berikutnya Arion tersenyum tipis bahkan teramat tipis hingga Aruna tak menyadarinya. Arion mulai melakukan sandiwaranya.

__ADS_1


"Aku membencimu !!" Teriak Aruna dengan airmata membanjiri wajah cantiknya.


"Maafkan aku, Yang ,,, aku hilang akal, hanya dengan mengambil hakku sebagai suami agar kamu tak meninggalkanku. "


Plaaakkk


Aruna memberikan salam lima jari pada wajah tampan Arion. Ia sangat marah mendengar kata-kata tak bermutu Arion.


"Dasar laki-laki buaya ! Kita akan tetap berpisah !" Ucap Aruna berapi-api seraya meninggalkan kamar Arion.


Braaakkk


Aruna membanting pintu kamar Arion membuat ART yang sedang menyapu terjingkat kaget. Aruna masuk ke dalam kamarnya dan memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Setelah itu Aruna mengguyur tubuhnya dengan air dingin kemudian memakai jeans dipadukan dengan kaos bundar leher yang sangat pas pada tubuhnya. Tak lupa ia mengambil semua dokumen pentingnya.


Sementara di dalam kamar yang ditempati oleh Arion, pria itu masih termenung dengan kata-kata Aruna barusan. Kegigihan gadis itu untuk terbebas darinya tak pernah surut. Aruna benar-benar tak menginginkan pernikahan ini.


"Bi, kalau bapak bertanya, bilang aja aku keluar. Jangan bilang kalau aku bawa koper."


"Tapi ibu mau kemana ? Jangan meninggalkan rumah dalam keadaan emosi, bu ,,, gak baik." Ucap sang bibi prihatin.


"Aku akan ke rumah nenek untuk menenangkan pikiran, hanya dua hari bi."


'Maafkan aku bi, tapi aku gak qkqn pernah kembali ke rumah ini.' Batin Aruna merasa bersalah karena telah membohongi wanita yang seumuran dengan neneknya.


ART itu hanya bisa menatap punggung Aruna yang semakin menjauh, hingga kemudian hilang dibalik pintu utama.


🌺🌺🌺🌺


SELAMAT PAGI JELANG SIANG


SELAMAT HARI KEMERDEKAAN

__ADS_1


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA


__ADS_2