
Jam pulang kantor akhirnya membuat semua karyawan berkemas pulang termasuk Aruna. Sebelum Aruna meninggalkan mejanya, Arion telah berdiri di dekat meja kerjanya. Entah sejak kapan dia berada disitu berdiri menatap Aruna.
"Belum pulang, pak ?" Tanya Aruna basa basi.
"Sudah, bahkan sekarang aku sudah di rumah kakek." Jawab Arion asal.
Aruna tertawa lepas mendengar ucapan Arion yang terdengar asal dan kesal. Arion terpanah melihat kecantikan Aruna saat tertawa. Untuk pertama kalinya Arion melihat Aruna tertawa.
"Kita pulang sama-sama. Dengan mobilmu atau mobilku. Aku gak mau kakek kecewa denganku. " Putus Arion tak mau dibantah.
"Lho, kok gitu ? Lagian kita pulang ke rumah nenek Sarah dulu." Aruna mengerutkan alisnya.
"Jangan selalu membantah, Yang., Aku ini suamimu dan aku mengenal kakekku dengan sangat baik sama dengan kamu yang mengenal nenek Sarah. Aku yakin saat ini kakek pasti sudah ada di rumah nenek menunggu kita."
"Lalu mobilku bagaimana ? Bapak gak mungkin mau kan naik mobil sederhana milikku." Balas Aruna tak ingin menggunakan mobilnya. Ia teringat sesuatu yang berhubungan dengan Kevin belum sempat ia buang.
"Kenapa tidak ? Kapan lagi bisa disupiri oleh istri sendiri. Mobilku biar Restu yang bawa ke rumah kakek." Balas Arion antusias. Sungguh diluar dugaan Aruna ternyata Arion memilih ikut mobilnya.
Otak Aruna segera berputar mencari alasan yang tepat agar pria ini tak curiga dan alasannya terdengar masuk akal. Aruna adalah pemain karakter yang handal, seandainya ia seorang aktris pastilah bayarannyq sangat fantastis.
"Tapi aku ingin sekali-sekali merasakan duduk di Jok mobil mewah." Aruna tersenyum tenang dan membuat bibir Arion tersenyum lebar.
Senyuman Arion bukan karena kata-kata Aruna, akan tetapi ia sangat bahagia sang istri ingin ikut di mobilnya tanpa paksaan. Melihat senyuman Arion membuat Aruna tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati.
__ADS_1
Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju lift. Aruna melanjutkan langkahnya menuju eskalator namun langsung di tarik oleh Arion agar mengikutinya masuk ke dalam lift khusus pemilik perusahaan.
"Lain kali dengan atau tanpa aku, kamu harus menggunakan lift ini, Yang." Ucap Arion yang kebit terdengar mirip sebuah perintah.
"Aku belum siap jadi bahan cerita seisi perusahaan, pak." Balas Aruna apa adanya.
"Bisa gak sih merubah panggilanmu ,,, kita ini sudah disatukan dalam ikatan pernikahan dan selamanya akan seperti itu, Yang."
"Nantilah pak, ke depannya juga belum jelas akan seperti apa. Mungkin saja suatu saat nanti kata KITA tak ada lagi." Balas Aruna tenang tanpa ekspresi.
Arion tak lagi menimpali ucapan Aruna. Ia memilih diam agar pembicaraan mereka tak berubah jadi pertengkaran. Arion sangat lelah menghadapi harinya saat ini sehingga tak memiliki cukup tenaga untuk sekedar beradu argumen dengan gadis yang didepannya.
Sebuah garis tipis menghiasi wajah Arion manakala melihat istrinya yang masih virgin. Kehidupan pernikahan yang sangat berbeda dengan pasangan lain namun harus dinikmati di setiap moment yang tak akan pernah terulang lagi. Kelak akan menjadi sebuah cerita yang manis untuk anak cucu mereka.
Benda besi berbentuk kotak itu berhenti dan keduanya keluar dengan tenang. Aruna yakin jika seluruh karyawan telah pulang karena jam sudah menunjukkan tiga puluh menit setelah jam pulang kantor. Namun Arunaa melupakan jika terkadang ada karyawan yang memilih lembur agar keesokan harinya bisa sedikit bersantai.
Beberapa pasang mata memperhatikan pasangan itu yang untuk pertama kalinya terlihat bersama di luar jam kantor apalagi keluar dari lift yang sama. Ada hubungan apa diantara mereka sehingga wanita cantik itu keluar dari lift keramat. Setahu mereka hanya Aletta, wanita yang berani menggunakan lift itu dan itupun selalu berakhir dengan diseret oleh security setelah beberapa saat berada di lantai lima. Padahal cerita mereka adalah pasangan kekasih.
Merasa semua aman, Aruna mengekori Arion dan kembali pria itu menariknya agar berjalan disisinya. Tanpa ragu-ragu Arion melingkarkan tangannya di pundak Aruna.
"Jangan melewati batas, pak !" Kesal Aruna menepis kasar tangan Arion.
"Gak ada yang salah, kan ? Yang aku rangkul adalah istriku sendiri." Balas Arion santai.
__ADS_1
Aruna berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Arion yang terkekeh melihat kekesalan sang istri. Terlalu sering membuat Aruna kesal namun kali ini kekesalan terlucu yang pernah ia lihat pada diri wanita yang selalu menatapnya tanpa ekspresi. Sepertinya hari-hari berikutnya Arion memiliki kegiatan baru dan seru yaitu dengan menjahili Aruna. Wanita yang sampai kini masih belum memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Arion membukakan pintu untuk Aruna kemudian ia berjalan mengelilingi mobil lalu duduk dibelakang setir. Perlahan Arion menginjak gas dan melajukan mobilnya mengarah ke jalan raya untuk kemudian bergabung dengan para pengendara yang lain. Jalanan semakin macet dimana para pencari rejeki berlomba-lomba ingin cepat tiba di rumah dan beristirahat.
Hampir tiga jam lamanya pasangan suami istri itu berada dalam satu mobil untuk pertama kalinya. Aruna memilih memejamkan matanya agar Arion tak mengajaknya berbicara. Hingga Aruna merasa mobil yang dikendarai oleh Arion memasuki halaman rumah nenek Sarah, ia kemudian membuka matanya dan bersiap turun dari mobil.
"Rupanya pura-pura tidur, ya ,,," Ucap Arion menertawakan kebodohannya.
"Aku bukan tipe gadis yang suka bicara kalau gak penting." Balas Aruna sembari membuka pintu mobil.
Dari teras terlihat kakek Ramdhan dan nenek Sarah tersenyum ke arah mereka yang berjalan beriringan menghampiri kedua orang tua itu.
"Harusnya setiap hari kayak gini, dong ,,," Ucap kakek Ramdhan bahagia.
Aruna memeluk nenek Sarah, pura-pura tak mendengar ucapan kakek mertuanya. Sedangkan Arion hanya tersenyum menimpali. Kakek Ramdhan tidak tahu saja bagaimana susahnya mengajak Aruna pulang bareng.
🌺🌺🌺🌺
HAI READERS ,,, SELAMAT MALAM SEMUA
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA, YA
LOVE YOU ALL
__ADS_1