
"Pak Kiyai istirahat aja dulu. " Ucap Aruna mengalihkan pembicaraan.
"Kakek pamit ya, nak ,,,"
"Tapi malam nanti kakek datang, kan ?" Tanya Aruna sendu.
"Pasti nak ,,," Balas kakek Ramdhan mengusap lembut kepala Aruna.
"Kami pun pamitan kak ,,," Timpal Arista dan Restu ikut berdiri.
Tanpa berkata apapun Arion ikut berdiri. Ia datang bersama dengan Aruna dengan menaiki ambulance dan jika ia ditinggal oleh kakek dan Restu maka dirinya tak memiliki kendaraan untuk pulang.
"Kak, tolong tinggallah temani pak Kiyai." Ucap Aruna dengan wajah permohonan.
"Mas gak punya baju ganti, Yang ,,," Balas Arion apa adanya.
"Nanti Runa usahakan, kak ,,,"
"Makanya kak, pikirkan kata-kataku. Mumpung pak Kiyai disini, lagian gak ada yang akan tahu kok. Pikirkan nanti malam jika takdir selesai, gimana kalian akan tidur. Dosa loh jika tidur dalam satu kamar tapi bukan muhrim." Desak Arista tak memberi celah pada Aruna.
"Karena padamu anak tunggal dan kedua orang tuanya pun sudah meninggal maka saksi bisa kita meminta pria dari salah satu keluargamu nak. Kakek perhatikan mereka baik-baik semua," Kakek Ramdhan ikut angkat suara.
"Bukannya mengambil kesempatan dalam kesempatan, Run ,,, tapi pikirkan dengan akal sehatmu. Sekarang istirahatlah, cepat tunjukkan kamar pak Kiyai me m genap baju Arion nanti aku kirimkan." Timpal Restu melihat pak Kiyai Izham sudah berjalan terlebih dahulu.
Arion dan Aruna kemudian berjalan bersisian mengikuti pak Kiyai. Aruna lalu mengarahkan pak Kiyai Izham menuju kamar tamu. Tak lama kemudian seorang pria muda masuk dan membawa tas milik pak Kiyai Izham.
"Kamar pak Kiyai disebelah kiri ,,," Ucap Arion menunjuk kamar dimana pak Kiyai masuk.
"Kamar kakak disebelahnya aja, silahkan istirahat."
__ADS_1
"Baik nona. Terima kasih." Ucap pria yang bernama Ario yang selalu mendampingi pak Kiyai kemanapun beliau pergi.
"Kamar kita masih yang dulu, kan ?" Tanya Arion berbisik dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Aruna.
Arion langsung menuju ke kamar Aruna, bi Ina yang sedang sibuk melayani keluarga almarhumah nenek Sarah hanya bisa melongo.
"Kalian jika ingin sesuatu ambil sendiri dong, jangan merepotkan bi Ina ! Kalian punya tangan kan ?!" Sarkas Aruna melihat kelakuan keluarga sang nenek.
Darahnya seketika mendidih melihat bi Ina yang pantang penting mengurusi mereka yang kerjanya hanya meminta ini dan itu. Bi Ina juga manusia dan sudah berumur.
"Kamu tuh anak kemarin sore, berani-berwninya bersuara keras pada orang yang lebih tua. Gak ada sopan santunnya." Gerutu tante Rianti
"Justru tante yang gak ada sopan santunnya, mau makan tapi tak mau bekerja. Ingat posisi tante di rumah ini dan tante gak ada hak menyuruh-nyuruh bi Ina." Emosi Aruna kini meluap-luap sejak tante Rianti menyinggung soal harta warisan mendiang neneknya.
"Kamu tuh kerjanya selalu marah-marah, makanya gak punya anak setelah sekian lama menikah. Atau mungkin saja kamu mandul, seandainya saja anakku yang jadi suamimu sudah lama kuburan menceraikanmu."
"Untuk itulah Tuhan mentakdirkan Aruna menjadi istriku karena apapun yang terjadi Aruna tak akan pernah tergantikan. Tidak ada diantara kami yang mandul, tante, hanya saja Tuhan belum mempercayakan kami titipan anak. Mungkin menurut Tuhan kami belum siap tapi percayalah kami selalu berusaha dan berdoa semoga saja setelah ini istriku hamil." Ucap Arion tenang sambil merangkul pinggang Aruna. Sesaat Arion melupakan jika mereka sudah bercerai.
"Aamiin ,,," Ucap Kiyai Izham yang berdiri di belakang mereka.
"Mungkin sebaiknya ijab qabul kalian diperbaharui saat ini juga mengingat adanya seseorang yang secara tidak sadar menyumpahi pernikahan kalian yang hingga saat ini belum juga dikaruniai seorang anak. Saya minta dengan sangat agar salah satu pihak keluarga yang menjadi wali nikahnya." Lanjut Kiyai Izam berwibawa.
"Saya saja pak Kiyai. Saya adalah saudara dari papanya nak Aruna."
Aruna menatap pamannya dengan tatapan yang tak terbaca. Untuk kedua kalinya beliau menjadi wali nikahnya. Sedangkan Arion mengirim pesan pada Restu agar membawa kakek Ramdhan lebih cepat ke rumah Aruna karena ia akan menikah lagi dengan mantan istrinya itu.
"Jangan tegang, Yang ,,, aku gak akan mengecewakanmu lagi." Bisik Arion lembut.
"Setelah kakek datang, gak apa-apa kan om ?"
__ADS_1
"Gak apa-apa nak, kalau perlu sebelum acara takziah aja. Kan pak Kiyai sudah ada disini." Balas om Kemal tersenyum.
Bagi keluarga tak ada masalah jika dirangkaikan dengan acara takziah karena ijab qabul mereka hanya formalitas saja. Sedangkan bagi Aruna hal ini adalah sesuatu yang sangat sakral walaupun mengikat janji dengan pria yang sama.
Aruna tak dapat mundur atau mengatakan yang sebenarnya. Ia memikirkan reputasi neneknya yang terlalu sempurna dimata keluarga besarnya baik dari pihak papanya maupun keluarga neneknya. Aruna tak mungkin berkelas menolak pernikahan ini di depan kedua keluarga besarnya.
"Kalau begitu, kami bersiap-siap dulu." Ucap Arion menggiring Aruna masuk ke dalam kamar.
"Maafkan mas, bukan bermaksud memaksamu atau memanfaatkan kesempatan, akan tetapi mungkin saat inilah Tuhan menjawab doaku selama ini."
"Sudahlah kak, gak usah dibahas lagi. Mungkin takdirku memang harus seperti ini." Balas Aruna pasrah.
Saat ini Aruna tak lagi memiliki siapa-siapa, tempat tinggal sanak saudaranya jauh diluar kota. Hanya bi Ina yang menemaninya tapi sampai kapan hal itu berlangsung.
Aruna hanya bisa pasrah dan menjalani pernikahan keduanya bersama Arion. Ia hanya bisa berharap sedikit kebahagiaan dari kehidupan rumah tangga mereka kelak. Aruna tak mau berharap banyak mengingat kelakuan Arion sebelumnya.
Aruna mengambil bajunya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Selama nenek Sarah dirawat dirumah sakit, ia tak bisa mandi dengan sempurna. Namun kali ini berbeda, Aruna bisa mandi sepuasnya.
"Jangan lama-lama, Yang ,,, bentar lagi kakek dan yang lainnya tiba." Arion mengingatkan sebelum Aruna menghilang.
'Terima kasih Ya Allah telah menjawab doa-doaku selama ini.' Batin Arion penuh suka cita.
Dibalik kesedihan selalu ada kebahagiaan begitulah kehidupan yang dibalik setiap kejadian pasti berpasang-pasangan. Jika selama ini setiap sepertiga malam tanpa jenuh Arion melantunkan doa-doa mahabbah atas nama Aruna maka hari ini Sang Khalik mengabulkan setiap doanya.
"Doakan kami dari sana, nek ,,, semoga kehidupan rumah tangga kami bahagia dan melahirkan anak-anak sesuai harapan nenek selama ini." Gumam Arion menatap langit-langit kamar Aruna.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI READERS
__ADS_1