
Lisa benar-benar mencari tahu kisah direkturnya dengan gadis bernama Aruna. Sejak bergabung dengan perusahaan PT. Glo_Tech, bosnya itu tak pernah memperlihatkan kepeduliannya pada wanita sampai gadis yang bernama Aruna muncul dengan sikap dinginnya.
"Tumben penghuni lantai lima bergabung dengan rakyat jelata seperti kita-kita." Sindir Syasa ketika dengan santainya Lisa duduk diantara mereka.
Lisa terkenal sombong karena disamping sebagai sekretaris direktur, papa Lisa pun kenal dekat dengan Arion dan Restu. Orang tua Lisa adalah rekan bisnis Arion, lebih tepatnya papa Lisa tanpa rasa bosan selalu mendatangi Arion agar bisa bekerjasama dengan PT Glo_Tech untuk menaikkan citra perusahaannya.
"Kalian itu terlalu sensitif. Aku bukannya tidak ingin bergabung hanya saja bos selalu memberikan pekerjaan yang membuatku sulit untuk bersosialisasi." Balas Lisa beralasan.
Syasa dan yang lain hanya mencibir mendengar alasan Lisa. Mereka tahu apa saja yang dilakukan oleh gadis itu di lantai lima. Apalagi jika sang bos berada di ruangannya. Seisi kantor tahu perasaan Lisa pada bos mereka. Para karyawan hanya bisa menatap iba pada gadis berbau kurang bahan itu. Lisa ibaratnya Bagai pungguk merindukan bulan. Semua tahu bos perusahaan besar itu tidak bisa mode on dari mantan istrinya.
"Gak usah berbelit-belit dan mengatai kami sensitif, sekarang apa yang kamu inginkan ?!" Sarkas Melani salah satu karyawan senior yang juga sahabat Syasa.
"Betul itu, kami ingin makan dengan tenang." Timpal yang lain dengan nada tak suka.
"Aku hanya minta sedikit informasi tentang seorang gadis yang bernama Aruna."
"Haaaa ??!! Kamu tahu dari mana nama itu ??!" Semua terkejut mendengar nama Aruna.
Lisa sampai-sampai terlonjak kaget mendengar suara mereka yang menyatu bagaikan paduan suara dan lebih mengagetkan lagi manakala melihat ekspresi wajah para wanita itu.
"Kalian kenapa, sih ,,, terkejut gitu." Omel Lisa semakin penasaran.
"Kamu melihat Aruna dimana ?" Tanya Syasa tak sabar.
"Gadis itu kan berkantor disini juga, tepatnya dilantai lima. Dia itu adalah utusan perusahaan asing yang bekerjasama dengan perusahaan kita." Balas Lisa kesal.
"Wahhh ,,, bakalan seru nih, hari-hari pak bos pasti akan kembali cerah ceria." Seru Syasa antusias dan diangguki oleh yang lainnya.
__ADS_1
"Maksud kalian ??" Tanya Lisa dengan wajah cemas.
Lisa memahami maksud perkataan para karyawan senior itu, ia hanya ingin memastikan dugaannya. Karena jika apa yang ada dalam benaknya benar maka kesempatan untuk memenangkan hati direkturnya itu akan menemui kendala. Aruna gadis yang cantik walaupun selalu memakai pakaian yang sopan sementara dirinya yang berusaha keras menarik perhatian bos perusahaan belum juga ada hasil.
"Aruna adalah mantan istri pak bos, dan asal kamu tahu pak bos sangat mencintai mantan istrinya itu. Tak ada yang tahu penyebab perpisahan mereka setahun yang lalu. Akan tetapi jika yang kamu katakan adalah benar maka bersiaplah menonton tayangan live drama romansa Mengejar Cinta Mantan Istri." Ucap Syasa terkikik geli.
"Eh, makan dulu yuk, bentar lagi jam istirahat selesai. Kita harus dalam keadaan kenyang untuk menonton tayangan livenya." Balas Melani
Semua menikmati makan siangnya dengan tenang dan penuh semangat. Mereka sangat senang mendengar Aruna kini bergabung lagi dengan perusahaan PT. Glo_Tech. Yang berarti bahwa sang bos bertemu dengan pawangnya. Kecuali Lisa yang makan dengan ogah-ogahan. Mendengar cerita para karyawan itu membuat nyalinya menciut.
Jika di kantin perusahaan para karyawan makan siang dengan tenang setelah bergosip ria, maka di sebuah rumah sakit swasta terlihat seorang gadis tengah menangis menatap sang nenek yang terbaring lemah di ruang perawatan.
"Yang sabar ya, non ,,, nyonya pasti sembuh, beliau wanita yang kuat." Bi Ina mengusap lembut lengan Aruna yang tengah bersedih.
"Aku merasa sangat bersalah bi, pergi jauh dari nenek tanpa tahu perkembangan kesehatannya. Hiks ,,, hiks ,,, aku terlalu egois, bi."
"Semua sudah terjadi, non ,,, jangan dipikirkan lagi gak ada gunanya. Yang penting sekarang kita berdoa untuk kesembuhan beliau."
"Bi, Runa tak sanggup jika harus kehilangan nenek ,,, hiks ,,, hiks." Airmata Aruna semakin deras mengalir. Matanya semakin bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan airmata.
"Hapus airmatanya, non ,,, bibi buka pintu dulu." Bi Ina memberikan tissue pada Aruna kemudian bergegas membuka pintu kamar agar majikannya tak terusik.
Aruna melakukan perintah sang bibi. Ia mengambil sebuah cermin kecil untuk merapikan riasannya. Aruna tersenyum masam melihat penampakannya yang jauh dari kata rapi. Ternyata ia belum sisiran sejak bangun tidur. Saat bangun tidur, Aruna hanya mengikat Rambutnya asal tanpa menyentuh sisir. Pantas saja tadi pagi dokter Sandy menatapnya lekat-lekat.
"Eh, tuan Ramdhan ,,, silahkan masuk." Bi Ina melebarkan pintu ruang perawatan majikannya.
"Terima kasih, bi ,,, bagaimana keadaan Sarah ?"
__ADS_1
"Beberapa jam yang lalu beliau sudah sadar tuan ,,, tapi sekarang tidur lagi mungkin pengaruh obat." Jawab bi Ina sedikit menundukkan kepalanya.
Walaupun bi Ina sudah seperti keluarga sendiri oleh nenek Sarah namun ia tetap menempatkan diri sebagai ART jika berhadapan dengan kenalan nenek Sarah. Meskipun Aruna dan nenek Sarah selalu menegurnya manakala bersikap seperti itu.
"Kakek ,,," Aruna berdiri dan memeluk kakek Ramdhan dengan erat.
Sungguh saat ini Aruna merasakan penyesalan yang tak ada habisnya. Seandainya ia memiliki kekuatan untuk mengendalikan waktu pastilah ia akan melakukannya dan memperbaiki semua kesalahannya.
"Jangan bersedih, nak ,,, nenekmu pasti sembuh." Ucap kakek Ramdhan menenangkan mantan cucu menantunya.
"Bener kak, nenek Sarah pasti akan sembuh. Aku akan menemani kakak menjaga nenek. Bi Ina kan juga sudah tak muda lagi, kasihan jika harus tidur di rumah sakit dan begadang." Timpal Arista tersenyum tulus.
Aruna menatap mantan adik iparnya itu dengan penuh terima kasih. Di saat ia membutuhkan dukungan ternyata orang-orang dari masa lalunya yang memberikan dukungan penuh padanya. Aruna merasa gadis paling bodoh di dunia ini. Tidak seharusnya ia menghindari bahkan memutuskan kontak dengan mereka. Ia hanya bermasalah dengan Arion akan tetapi mengikuti sertakan orang-orang baik ini. Airmata Aruna justru semakin deras kala mengingat kebodohannya.
"Terima kasih, dek." Ucap Aruna tulus.
Tanpa mereka sadari seorang pria berdiri mematung melihat interaksi kakek dan adiknya. Yah, pria itu adalah Arion. Ia ragu untuk ikut terlibat pada pembicaraan mereka, mengingat hubungannya dengan sang kakek sangat buruk setahun belakangan ini.
"Den Arion ? Silahkan masuk, den ,,," Bi Ina yang melihat Arion mematung langsung menghampirinya.
Kakek Ramdhan menatap datar cucu kesayangannya namun tersirat kerinduan yang mendalam sedangkan Arista tersenyum manis melihat kehadiran kakaknya.
"Maaf jika mengganggu kalian." Ucap Arion seraya mendekati brangkar nenek Sarah.
🌺🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI MENJELANG SIANG
__ADS_1
BESOK UDAH WEEKEND AJA, JANGAN LUPA BAHAGIA, YAK
DAN JANGAN BOSAN MEMBERIKAN DUKUNGAN PADA OTHOR REMAHAN INI