
Dua hari lagi pernikahan antara Arion dan Aruna akan digelar namun sang calon mempelai wanita tetap ngotot bekerja meskipun nenek Sarah sudah melarangnya. Berbeda halnya dengan Arion yang memilih untuk menyendiri menghilangkan amarahnya pada wanita akan ia niahi. Arion menepi ke suatu tempat setelah pulang dari rumah Aruna semalam.
Arista yang menggantikan Arion sementara karena sejak kemarin ponselnya tak dapat dihubungi.
" Lho kak, kok masih kerja ? Seharusnya kakak di rumah aja." Ucap Arista melihat Aruna di meja kerjanya.
"Kasihan kak Restu kewalahan." Balas Aruna tersenyum manis.
"Kapan terakhir kakak ketemu dengan kak Arion ?" Tanya Arista hati-hati agar Aruna tak merasa diinterogasi.
"Semalam, memangnya kenapa ?" Aruna balik bertanya.
"Cuman tanya aja, kak. Ya sudah aku kerja dulu kak. Oh ya kak Runa gak usah kerja sampai sore, ingat dua hari lagi acara inti. "
Aruna hanya menganggukkan kepalanya. Tak ada rona bahagia atau wajah malu-malu dari seorang Aruna Melisha. Arista tersenyum kecut melihatnya.
'Sepertinya kakakku harus bekerja keras jika ingin bahagia bersama Aruna. Semoga saja kak Arion bisa bersabar.' Batin Arista menarik napas panjang.
Kedua wanita cantik itu tenggelam dengan pekerjaan masing-masing. Sedangkan Restu tak terlihat keluar dari ruangannya sejak pagi. Hingga waktu istirahat siang tiba, Arista memaksa Aruna agar pulang lebih awal.
"Kak, pulang ajalah biar lusa terlihat segar dan besok gak usah ke kantor. Nikmati cutinya kak walau hanya sebentar. " Ucap Arista melihat calon kakak iparnya kelelahan.
"Gak apa-apa, dikit lagi kok. Biar gak semakin banyak numpuknya saat aku tinggal." Balas Aruna ngotot.
"Terserah kak Aruna aja bagaimana baiknya. Aku janjian sama teman makan di luar kak dan gak langsung pulang, kalau ada apa-apa minta tolong kak Restu aja."
"Ok. Selamat bersenang-senang dan nikmati harimu." Ucap Aruna tersenyum tulus.
__ADS_1
Keduanya kemudian cipika cipiki sebelum Arista berjalan menuju lift. Aruna pun kembali bekerja seperti biasanya. Aruna berusaha fokus pada pekerjaannya walaupun sesekali bayangan Kevin dan kata-katanya masih terngiang-ngiang di telinganya. Wanita manapun pasti akan merasa kecewa dan sakit hati jika berada pada posisi Aruma.
Mengingat perjuangan Kevin berusaha mendekatinya selama dua tahun membuat Aruna tersenyum kecut. Aruna menerima cinta Kevin setelah yakin jika Kevin benar-benar mencintainya karena usahanya selama dua tahun. Kemudian mereka berkomitmen sebagai pasangan kekasih pada tahun ketiga hingga kemarin. Empat tahun mereka habiskan waktu bersama dan ternyata sia-sia belaka. Kevin ternya memiliki hati yang lain yang harus ia jaga dan membuang Aruna.
Dua tahun pendekatan dan empat tahun membina hubungan ternyata tak menjamin mereka hingga ke pelaminan. Aruna menghilang napas panjang. Takdir mereka bukan untuk bersama. Namun haruskah ia menerima pria yang telah mempermalukannya dan lebih parahnya lagi pria itu masih berstatus kekasih orang ? Entah takdir apa yang tertulis dalam kehidupannya, kekasihnya diambil orang dan malah akan menikahi kekasih orng lain. Aruna menyandarkan kepalanya yang mendadak pening.
"Pulang aja, Run. Jangankan khwatir aku bisa kok diandalkan untuk menghandle semuanya." Ucap Restu yang tak sengaja melihat Aruna menyandarkan kepalanya.
"Gak apa-apa kak ? Kepalaku mendadak pusing." Balas Aruna dengan wajah kusut bakmpakaian yang belum disetrika.
"Jangan terlalu berpikir, dibawa santai aja. Gak ada yang perlu kamu khawatirkan, semua sudah ditentukan oleh Yang Diatas dan itulah yang terbaik walaupun terkadang itu tak sesuai dengan keinginan kita. Tapi percayalah Sang Pengatur Kehidupan tahu yang terbaik buat kita." Restu menasihati Aruna layaknya seorang kakak.
Aruna hanya tersenyum tipis menanggapi kata-kata Restu. Dirinya bukan meragukan Sang Pengatur Kehidupan, ia hanya kecewa pada takdir yang seolah mempermainkan dirinya.
Sementara di sebuah villa, Arion menatap perkebunan teh yang terhampar luas sejauh mata memandang. Ia berusaha menghilangkan gejolak panas dalam da**nya. Sejak awal Aruna tak menginginkan pernikahan diantara mereka terjadi. Dan ada pria lain dalam hati calon istrinya itu. Apakah mereka akan bahagia seperti pasangan pada umumnya ?
Arion bergulat dengan pikirannya hingga tak menyadari putra penjaga villa ikut berdiri di sampingnya dengan masih menggunakan pakaian sholat. Pria muda itu adalah siswa pesantren yang kebetulan sedang menemui ibunya yang sedang sakit.
Arion mengernyitkan alisnya menatap pria tampan itu. Wajah teduhnya menenangkan perasaan.
"Siapa kamu ?" Tanya Arion tak melepaskan tatapannya dari pemuda itu.
"Kenalkan pak, saya putra dari penjaga villa ini. Nama saya Randy. " Ucap Randy memperkenalkan diri.
Sebelum Randy bertanya lebih jauh, entah mengapa Arion merasa jika Randy merupakan orang yang tepat untuk bercerita selain kedua sahabatnya. Namun untuk saat ini tak mungkin ia merepotkan kedua sahabatnya itu.
"Dua hari ke depan aku akan menikah." Arion menghela napas dengan tatapan lurus kearah perkebunan teh yang luas.
__ADS_1
"Wah, selamat pak. Semoga menjadi keluarga saking masalah dan warohmah." Randy tampak bahagia mendengar ucapan Arion.
"Calon istriku tak mencintaiku dan dia saat ini memiliki kekasih. Enam tahun lalu keluarga kami bertunangan dan saat itu dengan suatu alasan aku tidak datang. Kemudian kami berpisah dan akupun tak berusaha mencarinya. Itu adalah kesalahan terbesarku. Dan saat bertemu kembali aku langsung melamarnya dan neneknya menerima lamaranku. " Arion bercerita tanpa mengalihkan pandangannya dari perkebunan teh yang sejak tadi menarik perhatiannya.
"Jika bapak sudah melamarnya dan hari pernikahan sudah ditentukan maka jangan pernah mengulang kesalahan yang sama. Bapak harus bersyukur karena Yang Diatas masih memberi kesempatan kedua."
"Tapi hati dan cintanya bukan untukku. Bagaimana bisa kami hidup bahagia." Arion benar-benar gusar memikirkan hidupnya setelah pernikahan.
Saat nekad melamar Aruna, ia mengira calon istrinya itu akan menerimanya walaupun terpaksa. Namun setelah pertengkaran mereka kemarin, hati Arion diliputi keraguan. Ternyata calon istrinya itu sangat mencintai kekasihnya.
"Menikah saja dulu, pak. Soal cinta calon istri bapak ada kok penyelesaiannya. Tapi bapak tidak boleh melakukannya jika belum terikat pernikahan. " Randy tersenyum menatap Arion.
Randy mengingat beberapa tahun lalu seseorang mengunjungi kyai Izham Khaliq untuk hal yang sama yang dialami oleh Arion. Akan tetapi orang tersebut memang sudah menikah dan hal itu ia dengar langsung karena saat itu ia dan pak Kyai pemilik pondok pesantren mempertanyakan status mereka.
"Maksudnya ?" Arion kini menatap Randy. Perkebunan teh itu tak lagi menarik perhatiannya.
"Setelah bapak menikah, maka bapak bebas melakukan mahabbah atas nama istri bapak. "
Randy pernah mendengar kata mahabbah dari mulut pak Kiyai Izham Khaliq saat pria itu mengeluhkan pernikahannya yang tak jua bisa mendapatkan hati sang istri karena mereka ternyata dijodohkan.
"Mahabbah ?" Arion membeo tak mengerti.
Randy menganggukkan kepalanya yakin. Setelah mendengar kata itu dari pak Kiyai Randy segera mencari tahu dan dari pak Kiyai ia memperoleh pencerahan tentang mahabbah. Walaupun Randy sudah memahami namun ia belum pernah menggunakannya. Inilah salah satu alasan pak Kiyai mempercayai seorang Randy karena pemuda itu sangat amanah.
🌺🌺🌺🌺
HAI READERS, SELAMAT PAGI
__ADS_1
TERIMA KASIH NEK ATAS DUKUNGANNYA SELAMA INI
LOVE YOU ALL