MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 82


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Arion lalu keluar kamar dan langsung bergabung dengan pak Kiyai di taman samping rumah. Sementara Aruna masih berada di dapur membantu bi Ina.


"Non, pak Arion sudah keluar kamar, aku lihat lagi duduk bareng pak Kiyai di taman." Kata Dewi salah satu ART.


"Baguslah Wi ,,, jadinya pak Kiyai ada teman ngobrol." Balas Aruna tak peka dengan maksud perkataan Dewi.


"Maksudnya si Dewi, non gak bikin kopi buat pak Arion ? Kalau pak Kiyai sejak pagi-pagi santrinya sudah pesan minta dikuatkan kopi dan cemilannya." Jelas bi Ina terkekeh.


Wajar saja jika Aruna tak mengerti cara mengurus dan memperhatikan orang lain. Dulu ia tak membuatkan kopi ataupun teh untuk Arion jika tidak disuruh oleh nenek Sarah. Apalagi selama setahun ini ia hidup sendiri jauh dari sang nenek.


"Astaga, sorry bi ,,," Aruna menertawai kebodohannya sendiri.


Kemudian segera membuatkan kopi untuk Arion dan membawanya ke tempat dimana Dewi melihatnya tadi. Dengan langkah pasti Aruna mendekati kedua pria beda generasi itu.


"Ini kopinya, mas ,,," Ucap Aruna meletakkan cangkir kopi didepan Arion sambil tersenyum.


Ia ingin memulai segalanya dari awal. Tak ada salahnya mencoba sekali lagi karena sepertinya takdir hidupnya hanya berputar-putar pada Arion. Aruna juga tak mungkin menyalahkan takdir, ia hanya pemeran sebuah sandiwara dimana Sang Pemilik Takdir adalah sutradaranya.


"Terima kasih." Balas Arion datar tanpa embel-embel seperti selama ini jika berbicara dengan Aruna.


Aruna merasa sedikit aneh dengan ucapan Arion yang terdengar datar namun ia menanggapinya biasa-biasa saja, toh ia merasa tak melakukan sebuah kesalahan. Setelah itu Aruna memutar badannya untuk kembali ke dapur akan tetapi langkahnya dihentikan oleh pak Kiyai Izham.


"Nak Aruna mau kemana ? Disini saja ada yang ingin bapak sampaikan pada kalian berdua." Ucap pak Kiyai dengan tenang.

__ADS_1


Mau tak mau Aruna mendudukkan dirinya di samping Arion. Ia menatap penasaran pak Kiyai Izham. Pikirannya seketika berkelana tentang maksud perkataan pak Kiyai kharismatik itu.


Sebelum berbicara, pak Kiyai terlebih dahulu mengedarkan pandangannya. Beliau tak ingin seseorang mendengar pembicaraan mereka dan mengetahui pernikahan Arion dan Aruna yang sebenarnya. Setelah yakin tak ada orang barulah pak Kiyai memulai pembicaraan.


"Kalian pernah gagal membina rumah tangga sebelumnya dan kini takdir mengharuskan kalian untuk kembali bersama. Apapun yang terjadi ke depannya bicarakan dengan baik-baik agar menemukan solusi yang tepat kalaupun tak ada solusi kalian boleh menemui bapak." Ucap pak Kiyai serius.


"Dan sebagai suami istri, kalian harus saling mengisi, kalian sudah bukan anak kecil lagi. Diusia yang sekarang ini, kalian pastinya sudah tahu hak dan kewajiban suami istri." Lanjut pak Kiyai tersenyum penuh arti menatap keduanya.


Hati Aruna tersentil mendengar perkataan pak Kiyai Izham. Ia tak bermaksud menolak Arion pagi tadi akan tetapi situasi yang tidak tepat. Aruna menatap Arion dengan tatapan permohonan maaf namun pria itu malah tak ada reaksi bahkan lebih memilih menyerupai kopinya.


Diam-diam Aruna mendengus, sejak tadi Arion tak pernah menatapnya. Apa dia marah karena aku menolaknya ? Pikir Aruna merasa bersalah.


'Maaf Yang, aku harus bersikap tegas bukan karena aku egosi dan ingin segera menikmati tubuhmu akan tetapi aku hanya ingin menjadikanmu istriku seutuhnya.' Batin Arion pura-pura cuek.


Arion pria normal yang sebelumnya hidup bebas namun pada akhirnya harus rela meninggalkan kehidupannya yang dulu demi wanita yang sudah ia nikahi kedua kalinya. Tentu saja Arion ingin segera meragukan surga duniawi dengan pasangan halalnya. Akan tetapi pun Aruna tak bisa disalahkan jika rasa trauma masih membekas dalam ingatannya. Aruna adalah gadis yang hidupnya jauh dari hal-hal aneh sehingga tak bisa menerima perbuatan Arion dimasa lalu.


"Kalian berdua harus memulai segalanya dari awal dan melupakan masa lalu yang kelam agar hidup kalian tenang dan berbahagia." Lanjut pak Kiyai Izham setelah beberapa saat terdiam.


"Insya Allah pak Kiyai." Balas Aruna sungguh-sungguh.


"Jangan cuma kata-kata." Timpal Arion tetap tak menatap Aruna.


Baru saja Aruna akan membalas perkataan pria yang duduk di sampingnya, namun suara Dewi menghentikannya.

__ADS_1


"Permisi nona, pak Arion dan pak Kiyai ,,, waktunya sarapan." Ucap Dewi dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Terima kasih, Wi ,,," Balas Aruna seraya berdiri diikuti oleh kedua pria beda generasi itu.


"Santri pak Kiyai kemana ? Kok sejak tadi aku bak melihatnya ?" Pertanyaan Aruna berhasil menarik perhatian Arion.


"Apa pantas menanyakan pria lain di depan suami ?"


Aruna hanya mendelik kasar mendengar kata-kata Arion. Ia tak ingin memperpanjang permasalahan sekecil itu. Apalagi mereka sudah tiba di meja makan dimana keluarganya pun dipastikan akan mendengarnya.


"Silahkan pak Kiyai ,,," Aruna terlebih dahulu mempersilahkan Kiyai Izham sebagai orang paling tua dimeja makan.


Selanjutnya Aruna melayani sang suami yang masih enggan menatapnya. Aruna pura-pura tak memperdulikannya padahal dalam hati sudah terbakar menahan emosinya. Saat ini Aruna terkesan berkepribadian ganda. Wajahnya dihiasi senyuman namun hatinya membara.


'Kamu akan menyesal mas.' Batin Aruna tersenyum jahat.


🌺🌺🌺🌺🌺


KIRA-KIRA APA YA YANG AKAN DILAKUKAN OLEH ARUNA ?


SELAMAT PAGI READERS KESAYANGAN


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA

__ADS_1


__ADS_2