
Hari terus berganti, usia pernikahan Arion dan Aruna kini telah memasuki bukan ketiga. Wanita-wanita sejenis Aletta, Lisa dan Maretha pun masih tetap menggoda Arion namun kini, pria tunjukan lagi Arion yang dulu. Arion kini tak tertarik lagi dengan wanita lain selain istrinya.
"Hari ini kerjaan kakak gak banyak, kan ?" Tanya Arista disela-sela mereka sarapan.
"Kalau kerjaan diruangan ku sih gak begitu banyak, tapi kerja bareng mas Arion tuh yang menyita waktu." Jawab. Aruna polos.
"Eh, kok aku baru tahu ?!" Timpal Restu menghentikan sarapannya.
Asisten sekaligus adik ipar Arion itu kemudian menatap intens pasangan yang duduk dihadapannya. Tatapan Restu seolah meminta penjelasan pada keduanya.
"Jangan menatapku seperti itu, gak ada yang salah kan. Dia istriku dan kami bekerja diruangan ku." Ucap. Arion santai.
"Enak aja, kalian ngakak boleh mesum di kantor." Sarkas Restu.
Pria itu tak Terima dengan kelakuan pasangan bucin itu. Selama ini Restu mekarangbkeras Arista mengunjunginya di kantor karena tak ingin terganggu jika sang istri berkunjung. Dan seandainya ia sedang mumet dan membutuhkan penyegaran otak maka Restu dengan sukarela pulang ke rumah menemui istrinya.
"Siapa yang mesum ? Aku hanya butuh Aruna berada di dekatku saat pekerjaan menumpuk karena kamu ngacir pulang ke rumah untuk menembakkan senjatamu." Balas Arion telak.
"Kalian berdua kenapa harus berdebat sih ,,, kita sedang sarapan lho. Kakek juga bingung dengan kalian para pria. Restu sudah lebih dari setahun menikah namun hingga kini belum ada tanda-tanda Arista hamil sedangkan Arion bahkan sudah melakukan pernikahan sebanyak dua kali pun sama halnya dengan Restu. Sebenarnya kalian ini pejantan tangguh atau bukan adalah hal yang harus dipertanyakan." Kata-kata kakek Ramdhan membuat kedua pria itu seketika bungkam.
Apa yang dikatakan oleh sang kakek memang benar adanya akan tetapi tentang kejantanan dan ketangguhan mereka sama sekali tak terima dipertanyakan oleh sang kakek. Namun apa daya kedua pria itu tak bisa berkutik dihadapan sang kakek.
Sementara kedua wanita cantik itu setengah mati menahan tawa agar suami mereka tak tersinggung dan berakibat fatal bagi keduanya.
"Kami sudah berusaha, kek ,,, tapi sang sutradara masih menganggap jika kami belum bisa dipercayakan seorang penerus bagi keluarga besar kita." Ucap Arion setelah terdiam beberapa saat.
__ADS_1
"Kalian kurang sedekah." Balas kakek Ramdhan.
"Siapa bilang, kek,,, kami setiap saat jika ada kesempatan pasti sedekah." Timpal Restu membuat Arista mendelik tajam.
Wanita itu tahu arti kata sedekah yang dimaksud oleh suaminya karena setiap akan melakukan ritual, Restu selalu mengatakan larvanya terlalu banyak dan harus disedekahkan manatau bisa menjadi biang kecebong.
Arion lalu melemparkan telur yang akan ia masukkan ke dalam mulutnya mendengar ucapan asal adik iparnya.
"Kakek lagi ngomong serius." Kesal Arion mendengar kata-kata Restu.
Kakak beradik itu kompak melotot pada Restu sedangkan Aruna dan kakek Ramdhan bingung dengan tingkah mereka. Dengan polosnya Aruna merasa keberatan sehingga ketiganya gelagapan. Salahkan Aruna yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Kalian kok sedekah gak bilang-bilang, padahal kan aku juga pingin sedekah. Mana tau kalau sedekahku yang diterima oleh Tuhan."
"Yang, kamu gak perlu sedekah cukup mas aja. Lagipula kamulah penerima sedekahnya, mas." Ucap Arion lembut.
"Pantas saja Tuhan gak mengabulkan doa dan harapan kita, rupanya mas gak ikhlas bersedekah."
"Yang, karena memang hanya kamu yang pantas menerimanya. Jika orang lain yang mas berikan pasti kamu akan meninggalkan mas dan itu gak boleh terjadi." Balas Arion mulai putus asa.
Seketika kakek Ramdhan pun ikut tertawa mendengar penjelasan Arion. Kini pria sepuh itu mengerti apa cucu-cucunya maksudkan. Airmata kakek sampai menetes saking lamanya tertawa. Berbeda halnya dengan Aruna yang masih belum paham.
Arion semakin bingung mencari kalimat yang pas untuk Aruna. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sementara semua tertawa melihat ekspresi Arion. Memiliki istri yang polos ternyata cukup menyusahkan. Sebenarnya pergaulan istrinya itu seperti apa sih. Wanita itu pernah hidup di negara yang terbilang cukup bebas mengekspresikan rasa suka dan rasa cintanya pada lawan jenisnya. Tapi kenapa justru Aruna seperti hidup di pedalaman ?
"Itulah makanya kakek hanya menginginkan Aruna yang mendampingimu hingga akhir hayat." Ucap kakek Ramdhan menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Iya sih kek, tapi masa gak ngerti juga bahasa kayak gitu. Arista aja ngerti padahal kan mereka hidup dilingkungan yang sama. " Balas Arion lebih menyerupai keluhan.
"Kak Aruna dulu bergaulnya dengan sesama kutu buku, kak makanya dia kurang peka." Timpal Arista apa adanya.
"Jangan bilang kalau kamu bergaulnya yang bebas dalam tanda kutip, honey." Celetuk Restu menatap tajam sang istri.
"Mas kan tahu sendiri yang membuka segelku untuk pertama kalinya siapa." Balas Arista sinis.
"Kamu kayak botol aja dek, pakai segel segala." Timpal Aruna santai.
"Tolong handle pekerjaanku untuk 3 jam kedepan. Aku harus menjelaskan sesuatu pada istriku, rupanya dia belum bisa mengerti jika hanya melalui kata-kata, dia harus diberikan contoh agar cepat paham." Ucap Arion menarik Aruna meninggalkan meja makan.
Restu mendengus kasar mendengar ucapan Arion. Sedangkan kakek hanya bisa menganga tak percaya dengan kelakuan cucu laki-lakinya. Arista menenangkan sang suami dan berjanji menemaninya di kantor sampai Arion datang.
"Thanks honey, yuk berangkat." Ucap Restu bersemangat.
"Kek, kami pamit dulu." Arista dan Restu mencium punggung tangan kakek Ramdhan sebelum berlalu.
Kakek Ramdhan menatap punggung kedunya yang berjalan semakin menjauh hingga akhirnya menghilang. Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil meniggalkan halaman rumah pertanda Restu dan Arista sudah berangkat.
Sementara itu kejadian di dalam kamar pasangan Arion dan Aruna tak dapat othor ceritakan, masih pagi-pagi soalnya. Takut dapat peringatan dari para editor kecenya NT.
🌺🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI DAN SELAMAT BERAKTIVITAS
__ADS_1
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA SELAMA INI
LOVE YOU ALL