
"Kamu gak ketemu Putra, kan hari ini ?" Restu langsung pada intinya.
Setelah berbicara dengan Aruna pagi tadi, Restu langsung menelepon Putra untuk memastikan ucapan Arion. Bukan kebiasaan seorang Putra yang mengajak ketemuan pada jam kerja. Sahabat mereka itu adalah seorang abdi negara sejati.
Melihat Arion terdiam, emosi Restu semakin memuncak. Kali ini ia bertindak sebagai sahabat.
"Jangan katakan jika kamu kembali pada kebiasaan lamamu yang suka membuang benih sembarangan !" Sarkas Restu menatap tajam sahabat sekaligus bosnya.
Arion masih terdiam, bukan karena tuduhan Restu benar akan tetapi kepalanya sangat pusing sehingga untuk sekedar membantah kata-kata sahabatnya pun tak mampu ia lakukan. Sementara Restu yang sedang emosi terus saja memarahi pria yang hanya menatapnya tanpa ekspresi. Sangat menyebalkan.
"Pantas saja selama ini Aruna tak bisa membuka hati dan menerimamu sebagai suaminya." Restu masih mengomeli sahabatnya.
Mendengar nama Aruna, pria yang sejak tadi diam bagaikan patung tiba-tiba bereaksi. Arion yang sejak memasuki ruangan hanya bersandar tak bergairah dan ketika sang sahabat masuk ke ruangannya hanya menatap lurus namun kini seketika memperbaiki duduknya hanya karena Restu menyebutkan nama sang istri.
Kesadarannya kembali pulih. Sebelum berbicara, Arion menarik napas panjang dan melihat Aruna dari balik dinding kaca. Melihat hal itu, Restu semakin yakin dengan tuduhannya.
"Aku bingung ,,," Mata Arion masih menatap Aruna terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
"Jadi bener, kamu naik kuda-kudaan ?"
Buuggghh
Arion menggulung kertas menyerupai bola dan melempar wajah Restu yang paling sering mencurigainya melakukan sesuatu sesuai dengan akal pikirannya sendiri.
"Bukan seperti itu, geblek ,,," Arion bingung bagaimana memulai ceritanya.
"Lalu ?! Kalau ngomong yang jelas dong, agar tuduhanku gak aneh-aneh. " Balas Restu tidak sabaran.
"Pagi-pagi Maretha mengirim pesan dan memintaku menemuinya, ternyata dia hamil besar dan mengatakan jika anak dalam kandungannya adalah benihku." Arion menceritakan langsung pada intinya dengan satu napas.
__ADS_1
"Whaattt ???" Teriakan Restu terdengar hingga ke telinga Aruna.
"Itu yang membuatku pusing. Aku hanya melakukannya satu kali, kamu tahu sendiri kan jika aku pantang bermain dua kali dengan wanita yang sama. Lagipula aku selalu bermain aman. Tapi tiba-tiba dia datang dan menuntut agar aku menikahinya."
"Itulah makanya kamu berbohong pada Aruna dengan mengatakan ada janji dengan Putra ?" Tanya Restu dan dibalas dengan anggukan oleh Arion.
"Dan jika Aruna tahu kamu sebenarnya tidak bersama Putra, kamu tahu kan akibatnya ?"
"Itulah yang semakin membuatku pusing, karena tadi aku bertemu dengan Syasya sahabat Aruna di restoran saat masih bersama Maretha. Akupun melihat mobil Aruna keluar dari parkiran." Jelas Arion dengan wajah khawatir.
"Nikmati penderitaanmu, aku gak akan ikut campur. Hanya saja kamu harus ingat jangan sampai Aruna meninggalkanmu." Ucap Restu kemudian keluar dari ruangan Arion dengan wajah kesal.
Arion tersentak mendengar kata-kata sahabatnya yang kemungkinan besar akan terjadi. Hingga tiga bulan usia pernikahan mereka namun kehidupan rumah tangga mereka tak ada kemajuan yang berarti. Beban pikirannya kini semakin berat. Belum selesai masalah Maretha kini Restu pun menambah beban pikirannya.
"Lho, pak Restu kok kelihatan kesal ,,, tampannya jadi berkurang." Seloroh Aruna tertawa kecil.
"Gak masalah kalau hanya berkurang, asal jangan sampai hilang ,,, bisa-bisa Arista berpindah ke lain hati." Balas Restu ikut tertawa seraya memperhatikan raut wajah Aruna.
"Pak Restu jangan menatapku seperti itu ntar jatuh cinta, kasihan Arista." Aruna sengaja berkata seperti itu agar Restu menghentikan tatapannya yang menurut Aruna sangat mengintimidasi.
"Hahahaha ,,, bisa-bisa aku dipanggil sama pria yang di dalam sana." Balas Restu asal.
"Sejak hari ini pria itu kehilangan kesempatan, eh bukan kehilangan tapi semakin tak memiliki kesempatan." Ucap Aruna serius.
Perasaan Restu semakin yakin jika wanita cantik di depannya mengetahui kebohongan Arion. Restu memutuskan untuk berbicara lebih lama dengan Aruna dan mengabaikan tatapan tajam Arion.
"Kamu bisa bercerita apa saja padaku. Anggap aku adalah kakak karena tak lama lagi aku akan menikahi Arista."
"Tapi mungkin saat itu aku tak lagi menjadi saudara ipar Arista." Balas Aruna tersenyum.
__ADS_1
Restu semakin gelisah melihat senyuman manis Aruna. Gadis itu sama sekali tak terlihat sedang marah. Biasanya seorang gadis akan seperti itu jika benar-benar akan melakukan apa yang dia ucapkan.
"Maksudnya ?!" Restu memancing Aruna agar mengatakan sesuatu yang mengandalkan hatinya.
Mendesak Aruna adalah sesuatu yang tak mungkin. Gadis mandiri seperti Aruna tak bisa dipaksa apalagi sekian lama hidup sendiri dan selama ini selalu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Aruna merogoh tasnya dan mengambil ponselnya kemudian memperlihatkan video Arion. Restu benar-benar kaget, bagaimana bisa pria bodoh itu tak menyadari keberadaan Aruna padahal meja mereka berdekatan. Jika dilihat dari video yang sengaja Aruna perlihatkan dirinya, posisi duduk Aruna persis di depan Arion dan hanya dihalangi oleh kursi Maretha.
"Kakek dan nenek tidak akan bisa menghalangi perpisahan kami." Ucap Aruna kembali memasukkan ponselnya,
"Tapi bisa saja itu hanya sebuah jebakan, tolong jangan tergesa-gesa mengambil keputusan." Restu berusaha mempengaruhi pikiran Aruna.
Bagaimanapun kesalnya Restu pada Arion namun ia tak ingin jika keduanya berpisah. Restu yakin mereka akan bahagia dan memiliki anak yang lucu-lucu.
"Jebakan atau bukan, aku gak peduli. Yang jelas pria itu adalah seorang player dan aku tidak bisa hidup bersamanya." Pungkas Aruna.
Restu kehilangan suara mendengar ucapan Aruna. Selama ini ia bisa memenangkan perdebatan dengan perusahaan saat mencoba memenangkan sebuah tender namun kali ini kemampuan debatnya kalah dengan kata-kata Aruna.
"Katakan pada Arion agar menandatangani surat cerai yang akan aku berikan karena jika tidak, saham perusahaannya akan anjlok hanya sekali aku goyangkqn jempolku." Ucap Aruna tenang namun penuh ancaman.
"Jangan terburu-buru, kita selesaikan secara baik-baik. Ingat sekian banyaknya karyawan yang menghidupi keluarganya dari perusahaan ini."
"Asal keinginanku terwujud maka semua itu tak akan terjadi dan rahasia ini akan aku simpan selamanya." Ucap Aruna kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Melihat hal itu, Restu tahu diri dan meninggalkan Aruna. Dengan lincah jari-jari Restu mengirim pesan pada Arion. Selanjutnya ia pun mengirim pesan pada Putra mengatur janji.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI READERS
__ADS_1
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA