
Aruna dan Alisha kini telah berada di sebuah kamar yang digunakan khusus oleh pihak MUA untuk mendandani para wanita muda keluarga kakek Ramdhan. pihak MUA yang berjumlah lima orang sedikit kewalahan. Aruna duduk tenang menunggu giliran karena saat ia datang sudah ada beberapa orang yang mendahuluinya.
"Run ,,, kamu belum ada tanda-tanda berbadan dua ?"
Aruna tersenyum manis sebelum menjawab pertanyaan kerabat suaminya yang sejak awal terlihat tak menyukainya. Aruna pun sempat bersiteganb tipis-tipis dengan kerabat suaminya itu.
" Tenang tante ,,, usia pernikahan kami juga baru memasuki bulan keempat. Jadi wajarlah kalau belum isi, yang penting kami sudah usaha selebihnya serahkan pada Yang Kuasa." Balas Aruna bijak.
"Kasihan Arion dan kakeknya jika harus menunggu terlalu lama." Gumam wanita itu dengan suara keras sehingga semua yang didalam ruangan mendengarnya.
"Tante kok ngomongnya seperti itu ,,, macam gak ada Tuhan aja. Bukan salahku jika belum hamil, mungkin belum waktunya, lagian bisa aja kan Arion yang bermasalah ! Atau jangan-jangan maksud Tante agar Arion menceraikanku dan menikahi anak tante ?!" Ucapan Aruna langsung mengenai sasaran sehingga wajah wanita itu memerah karena malu.
Aruna sudah tak tahan lagi untuk tidak membalas wanita itu. Ia tak terima jika kehamilannya yang belum memperlihatkan tanda-tanda dijadikan sebagai bahan omongan. Ya kali, bisa hamil kalau dirinya masih tersegel rapi. Aruna mendengus kasar.
"Kamu jangan suka bikin fitnah, mana ada tante seperti itu. "
"Aku gak membantah tante, hanya menduga saja ,,, bukankah sejak awal tante memang tak berharap Arion menikahiku ?!" Aruna benar-benar sekuat tenaga menahan emosi.
Tak ingin terus-terusan bersitegang dengan wanita itu akhirnya Aruna memilih dandan sendiri di kamar. Sementara Arista hanya menatap tajam kerabat kakeknya karena bibirnya sedang diproses lipstik oleh sang perias.
Braaaakkk
Aruna membanting pintu kamar dengan sekuat tenaga hingga Arion terjingkat kaget. Tidak hanya itu kakek Ramdhan pun kaget dengan tingkah cucu menantunya yang terlihat sangat marah.
"Lho Yang, kamu kenapa ? Kok wajahnya muram gitu ,,," Arion mendekati sang istri yang terlihat sangat marah.
"Buat aku hamil !" Ucap Aruna tanpa basa basi.
"Haaaa ??!! Ada apa, Yang ,,, bicara yang jelas. Gak mungkin kan kamu tiba-tiba minta dihamili, bukankah selama ini kamu belum siap ?" Arion justru khawatir dan tak percaya mendengar kata-kata absurd istrinya.
__ADS_1
"Tante Lina selalu saja mengaduk-aduk emosiku, padahal aku gak pernah mengganggunya."
"Tante Lina ?" Arion semakin bingung.
"Iya, tante Lina berusaha mempermalukanku di depan orang-orang dikamar rias. Dia mempertanyakan kehamilanku yang belum ada tanda-tanda dan seolah-olah aku bukan wanita sempurna. Mungkin kerabatmu itu ingin agar mas menikahi putrinya." Mata Aruna terlihat berapi-api saking emosinya.
Baru kali ini Aruna terlihat melibatkan perasaannya begitu banyak. Dalam hati Arion bersorak gembira, ia melihat ada kecemburuan dimata sang istri untuk pertama kalinya. Namun Arion tak ingin terlihat senang, ia tak ingin jika Aruna salah paham lagi.
"Jangan terbawa emosi, Yang ,,, kita akan melakukannya tapi dengan perlahan-lahan dan jangan sekarang, ntar malam aja. Sekarang dandan yang cantik agar kita tidak terlambat. Kita perlihatkan pada mereka jika kita bahagia dan baik-baik saja." Ucap Arion selembar mungkin.
Sedikit banyak ia sudah memahami sifat Aruna yang walaupun cuek namun akan luluh jika kita selalu bersikap lembut padanya. Aruna pun menuruti kata-kata Arion. Dengan segera ia berdandan sendiri. Walaupun Aruna merasa hasilnya kurang maksimal namun untuk kembali bergabung dan bertemu dengan tante Lina, Aruna benar-benar bete.
"Cantik." Puji Arion kala sang istri telah selesai berdandan dan mengambil baju yang akan ia kenakan.
"Cepat ganti baju, mas." Titah Aruna tanpa merasa canggung lagi.
Tanpa harus disuruh kedua kalinya, Arion bergegas mengganti bajunya dengan bersemangat. Hatinya kini bagaikan sebuah taman yang dipenuhi berbagai macam bunga yang sedang bermekaran. Sedangkan Aruna yang baru menyadari ucapannya beberapa saat lalu kini memerah.
Berbicara dengan amarah yang berlebihan membuat Aruna harus menanggung akibatnya. Inilah yang selama ini ia hindari hingga selalu menahan diri maka sedang kesal dan marah pada orang lain. Untuk pertama kalinya ia tak bisa menahan diri dan tak mungkin pula ia menarik kembali kata-katanya.
Sejak kecil Aruna dididik oleh nenek Sarah untuk mempertanggungjawabkan setiap kata yang ia ucapkan. Dan selalu diwanti-wanti oleh sang nenek agar senantiasa menahan diri jika sedang emosi karena tidak akan mendapatkan kebaikan bahkan malah akan merugikan.
"Jangan lupa ntar malam, Yang. Malam ini kita juga menginap di hotel, jadi persiapkan dirimu." Ucap Arion tersenyum lebar. .
"Tadi aku hanya spontan, mas ,,, kan lagi emosi." Balas Aruna mencoba meralat ucapannya sendiri.
"No, Yang ,,, permintaan beberapa menit lalu adalah hutang bagiku dan hutang itu harus dibayar." Arion semakin melebarkan senyumnya.
Tak akan ia beri celah bagi gadis itu untuk meralat ucapannya. Sekian lama ia bersabar dan semesta seketika berbaik hati padanya dengan menggerakkan hati Aruna.
__ADS_1
"Tapi mas ,,,"
"Gak ada tapi-tapiqn, Yang ,,, kita berangkat sekarang keburu telat. Ingat kita harus terlihat mesra dan bahagia agar tak ada yang mengusir kehidupan kita." Arion menarik lembut tubuh Aruna dan langsung merangkulnya keluar dari kamar.
"Wah, kakak semakin mesra aja." Ledek Arista yang masih menunggu Arion keluar kamar.
Arista dan Restu sengaja menunggu pasangan itu agar bisa berangkat bersama dengan satu mobil. Kali ini pasangan pengantin itu mengerjai sang kakak. Kapan lagi mereka bisa disupiri oleh direktur PT.Glo_Tech.
Tante Lina menatap tak suka pada Aruna. Semua itu tak luput dari perhatian Arion. Namun untuk saat ini ia tak ingin ribut dan menimbulkan kegaduhan yang akan merusak kebahagiaan adik satu-satunya yang Arion miliki.
"Iya dong, kan sedang usaha menghadirkan Arion junior ,,, ya kan, sayang ??" Arion refleks mengusap perut rata Aruna, seolah-olah mereka memang sudah berusaha.
"Aktingku bagus lan, Yang ?" Bisik Arion pelan ditelinga Aruna.
Saking dekatnya Arion di telinga Aruna, kerabat yang memenuhi ruangan tersebut mengira jika Arion sedang mencium Aruna. Semua menyoraki pasangan Arion dan Aruna.
"Adegan 18+ jangan disini dong. " Teriak mereka kompak.
"Astaga, kalian berlebihan ,,, aku hanya berbisik pada istriku. Darimananya adegan 18+."
"Sudah mas, jangan diladeni. Aku kan malu." Ucap Aruna dengan wajah memerah.
Arionpun menurut dan tak lagi menimpali mereka. Ia segera keluar sembari menarik tangan Aruna menuju mobil. Restu pun melakukan hal yang sama pada gadis yang pagi tadi ia nikahi.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI MENJELANG SIANG
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI DUNIA HALU