MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 86


__ADS_3

Atas permintaan kakek Ramdhan maka Arion dan Aruna pulang ke rumah pria sepuh itu. Perlahan Arion memarkirkan mobilnya setelah hampir satu jam berkendara. Mereka bukanlah pasangan baru sehingga harus malu-malu saat bergandengan tangan. Bahkan Arion merangkul mesra pinggang sangat istri. Ia sengaja selalu menyentuh Aruna agar gadis itu terbiasa sehingga saat mereka akan menikmati indahnya malam semua berjalan lancar.


"Selamat datang, kak ,,, " Sambut Arista memeluk Aruna.


"Kek !! kakek !!! kakak ipar sudah tiba !!! " Teriak Arista menggelegar


"Pelan-pelan teriaknya, dek." Tegur Arion mengusap telinganya yang mendengung karena teriakan adik semata wayangnya.


"Ck, mana ada orang teriak pelan, kak ,,, itu namanya bisik-bisik." Balas Arista menarik tangan Aruna sehingga terlepas dari rangkulan Arion.


"Biarkan istriku mandi dan istirahat sbentar, dek. Kasihan seharian dia bekerja."


"Kakak aja yang mandi duluan, aku pinjam kakak ipar sebentar."


Arista terus berjalan tanpa melepaskan tangannya pada Aruna. Ia sangat gembira karena pada akhirnya akan mempunyai teman di rumah mewah itu. Selama ini Arista hanya berteman dengan para ART pun tak seperti teman pada umumnya. Mereka terlalu sungkan padahal Arista sudah memperlakukan mereka layaknya teman.


"Kamu sudah tiba ? Menantuku kemana ? " Tanya kakek Ramdhan menolehkan kepalanya kesana kemari mencari keberadaan Aruna.


Saat mendengar teriakan Arista, sang kakek buru-buru keluar namun ternyata gerakan wanita muda itu lebih cepat membawa sangat menantu entah kemana.


"Restu belum sampai, kek ? "


"Lho, kalian kan satu kantor masa tanyanya sama kakek. Lagian kenapa kamu bertanya ? Mungkin dia kena macet."


"Kasihan Aruna, kek ,,, istriku itu masih capek tapi Arista main bawa pergi aja."


"Ck, biarkan saja. Selama ini Arista terlalu kesepian tanpa teman."


"Makanya suruh merekan program kehamilan, kek seperti pasangan lain yang menginginkan momongan secepatnya."


"Kamu sudah ritual ? " Tanya kakek Ramdhan berbisik.

__ADS_1


Arion yang mendapatkan pertanyaan di luar ekspektasinya hanya bisa menganga tak percaya. Sedangkan sang kakek tersenyum menggoda sambil menaik turunkan alisnya. Arion bukanlah pria lugu nan polos yang tak mengerti arti pertanyaan lelaki Sepuh itu.


"Belum sempat, kek ,,, rencananya sih malam ini. "


"Itu baru cucu kakek. Malam ini kakek akan atur supaya Arista tidak mengganggu kalian." Kakek Ramdhan tersenyum lebar.


Pria tua itu sangat mengharapkan seorang cucu yang hingga kini belum ia miliki. Kakek Ramdhan sangat ingin merasakan memiliki cucu yang akan menemani hari tuanya seperti orang lain.


"Aku mandi dulu kek, gerah seharian di luar dan belum bersih-bersih." Pamit Arion seraya berdiri.


Kakek Ramdhan hanya menganggukkan kepalanya tersenyum bahagia. Baru mendengar rencana ritual malam pertama Arion saja sudah membuat sangat kakek bahagia apalagi jika kedua cucunya memiliki anak yang banyak.


Dari arah taman, Arista dan Aruna bergandengan tangan memasuki rumah utama dan melihat kakek Ramdhan senyum-senyum sendiri. Kedua wanita itu saling berpandangan melihat ketidakwajaran kelakuan sang kakek.


"Kakek ngapain duduk sendiri sambil senyum-senyum gitu ?" Arista mendudukkan dirinya disamping pria tua yang sangat mereka sayangi.


"Membayangkan kehadiran cucu-cucu yang lucu berlarian dirumah kita." Balas kakek Ramdhan santai.


Mendengar ucapan kakeknya membuat Arista mendelik tajam merasa tersindir karena hingga satu tahun lebih usia pernikahannya namun belum juga di karuniai momongan.


"Maafkan kami, kek.".Ucap Aruna merasa bersalah.


"Jangan meminta maaf kak, bukan salah siapa-siapa jika kakek belum bisa menimang cucu.". Balas kakek Ramdhan sendu.


Melihat wajah bersalah Aruna dan Arista membuat kakek Ramdhan bersorak dalam hati. Kedua wanita muda itu tersentuh dengan sandiwaranya yang memang mencerminkan keadaannya. Kakek Ramdhan memainkan perannya dari dalam hati sehingga mampu menggugah perasaan keduanya.


"Doakan kami, kek ,,, semoga segera diberi kepercayaan oleh Yang Diatas." Balas Arista yakin.


"Dek, mas Restu sudah datang tuh, kakak juga pingin mandi sudah sore." Ucap Aruna mendengar suara mobil memasuki halaman rumah.


"Permisi kek, Runa mandi dulu." Lanjut Aruna berpamitan pada kakek Ramdhan.

__ADS_1


Pikiran Aruna mengembara kesana kemari memikirkan keinginan kakek Ramdhan. Hingga ia memasuki kamar Arion pikirannya masih berada entah dimana. Arion yang melihat sang istri tak seperti biasanya, bingung.


"Yang, kamu kenapa ? kok kayak gak fokus ?"


"Aku mandi dulu, mas, gerah." Balas Aruna tak memperdulikan pertanyaan Arion.


Walaupun Aruna tidak membawa baju ganti saat memutuskan pulang ke rumah kakek Ramdhan namun semua kebutuhannya tersedia di rumah tersebut. Arista dan kakek Ramdhan masih menyimpan barang-barang keperluan Aruna bahkan mereka berulang-ulang memperbaharui isi lemari pakaian. Aruna. Baik kakek Ramdhan maupun Arista masih memiliki harapan agar Aruna bisa kembali bersama mereka sebagai sebuah keluarga.


Sambil memainkan ponselnya, Arion berbaring dengan santai menunggu sang istri selesai mandi. Tak lama kemudian Aruna keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap. Diam-diam Arion mendengus kesal, ia berharap istrinya itu keluar dengan hanya memakai handuk agar bisa melakukan ritual.


Aroma wangi yang segar dan menenangkan memenuhi indra penciuman Arion. Wanginya memang sangat menenangkan jiwa namun jiwa lain dalam diri Arion justru meronta-ronta tak tenang. Dengan tanpa bersalah, Aruna ikut berbaring di samping Arion dengan posisi yang semakin menyiksa jiwa si Joni.


"Mas, tadi aku sama Arista mendapati kakek duduk sendiri di ruang tamu."


Tak ada tanggapan dari Arion yang sibuk menghirup aroma sang istri. Hidungnya kini menempel bagaikan lintah pada leher Aruna sehingga sang empunya leher kegelian.


"Ssshhh ,,, masss,,, hentikannn. Aku lagi bicara." Ucap Aruna tak dapat menahan suara laknat itu keluar dari bibirnya.


"Nanti saja bicaranya, Yang. Mas sangat tersiksa." Balas Arion dengan suara serak.


"Kenapa suaramu serak gitu, mas ? Apa kamu sakit ?" Tanya Aruna polos.


Aruna menjauhkan sedikit badannya agar bisa menatap suaminya. Ia khawatir suaminya itu sakit namun tak diketahui olehnya. Aruna tak ingin disalahkan oleh kakek Ramdhan dan yang lainnya.


Arion tak lagi menjawab atau sekedar memberi tanggapan pada pertanyaan Aruna. Ia langsung melakukan apa yang seharusnya seorang suami lakukan jika hasratnya sudah berada diambang batas. Secara naluri Aruna pun membalasnya walaupun terasa kamu oleh Arion. Tak jadi maslah bagi Arion mengingat istrinya itu belum. pernah tersentuh.


Tubuh Aruna merespon dengan baik setiap sentuhan yang diberikan oleh sang suami. Sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan kini menguasai aliran darah Aruna. Demikian pulan halnya dengan Arion. Walaupun di masa lalu ia hidup bebas dan celup sana celup sini namun ia belum pernah merasakan sebagai orang pertama yang memasuki pintu sebuah goa yang belum terjangkau oleh orang luar. Sungguh nikmat saat mencapai bagian terdalam goa tersebut.


Entah berapa lama Arion keluar masuk goa tersebut. Bagaikan sebuah candu yang tak bisa ia hentikan. Arion hanya berhenti saat menikmati semprotan larva dalam rahim Aruna dan setelah itu ia kembali melanjutkan aksinya. Rencana semula yang akan dilakukannya pada malam hari batal dan malah melakukannya pada sore hari. Kesempatan tidak datang dua kali kecuali kita sendiri yang menciptakannya.


❤❤❤❤

__ADS_1


SELAMAT PAGI READERS


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA


__ADS_2