MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 66


__ADS_3

Bersamaan dengan suara adzan magrib saat Restu memasuki pintu gerbang rumah mewah kakek Ramdhan. Yah, sang kakek tidak mengijinkan Arista tinggal mandiri meskipun sebagai suami yang bertanggung jawab, Restu sudah menyiapkan sebuah rumah. Memang tak semewah milik kakek Ramdhan akan tetapi cukup nyaman untuk ditinggalkan bersama anak-anak mereka kelak.


Restu bergegas masuk ke dalam rumah dan berwudhu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim secara berjamaah di mushola dalam rumah tersebut. Arista, kakek dan ART pasti sudah berkumpul.


Selesai tiga raka'at, para ART kembali pada pekerjaan masing-masing. Restu kemudian mengikuti sang kakek dan Arista ke ruang keluarga. Sebuah berita yang menarik harus ia sampaikan.


"Kek, tadi kami ketemu Aruna." Ucap Restu langsung pada intinya.


Uhuk uhuk


Kakek Ramdhan tersedak dengan air putih yang baru saja membasahi tenggorokannya. Terkejut sekaligus bahagia mendengar ucapan cucu menantunya. Sama halnya dengan Arista yang juga terkejut mendengarnya.


"Kok bisa kalian bertemu ?" Tanya Arista penasaran.


"Pagi tadi Aruna ke kantor untuk urusan pekerjaan. Jadi perusahaan kita akan mengeluarkan produk baru dan kami memilih perusahaan R@ & NY untuk memaparkan produk kita." Jelas Restu dengan wajah serius.


"Lalu apa hubungannya dengan kakak ipar ?"

__ADS_1


Sejak Arion masih berstatus sebagai suami Aruna hingga kemudian berpisah, tak sekalipun Arista merubah panggilannya pada Aruna. Baginya sampai kapanpun Aruna tetaplah kakak iparnya.


"Aruna adalah utusan perusahaan R@ & NY, honey ,,," Restu mengusap lembut pucuk kepala sang istri yang terkadang lemotnya naudzubillah.


"Lalu apa yang dilakukan pria bodoh itu ?" Kini kakek Ramdhan angkat bicara setelah beberapa saat terdiam.


"Sama terkejutnya denganku, kek ,,, tapi kayaknya Arion masih berharap untuk bisa kembali bersama Aruna."


"Pertemukan aku dengan Aruna dan ingat jangan bertahukan pada pria bodoh itu."


"Pria itu kakakku, kek dan juga cucu kakek. Jangan terus-terusan menyebutnya pria bodoh."


"Honey, jangan kencang-kencang suaranya sama orang tua." Tegur Restu dengan lembut.


Kedewasaan Restu selalu menjadi penyeimbang terhadap sikap Arista yang manja dan terkadang tak bisa melihat situasi. Istrinya itu terlalu ceplas ceplos dan tak bisa menyembunyikan perasaannya.


"Gak apa nak, wanita ini memang sejak lahir seperti ini keadaannya." Ucap kakek Ramdhan terkekeh.

__ADS_1


Arista dan Arion memang sangat berbeda bukan hanya perbedaan jenis kelamin dan waktu lahirnya saja akan tetapi dalam segala hal mereka sangat berbeda. Arista yang memiliki terlalu banyak perbendaharaan kata sedangkan Arion irit bicara dengan segala kelakuannya yang minus.


Hanya satu yang kakek Ramdhan syukuri adalah Arion tak mudah di tindas oleh lawan bisnisnya bahkan mereka semua segan pada cucunya itu. Arion sangat disegani oleh kawan maupun lawan.


"Bagaimana kalau kita mengunjungi nenek Sarah sekalian kita sikaturahmi, sudah lama juga kita tidak bertemu dengan beliau."


"Momentnya tidak tepat nak, seharusnya sejak dulu kita mengunjunginya. Kalau sekarang wanita tua itu pasti mencurigai kita." Balas kakek Ramdhan.


"Baiklah kek, besok aku coba bicarakan pada Aruna." Balas Restu ragu.


"Katakan saja terus terang jika kakek ingin menemuinya tanpa bermaksud apa-apa." Ucap kakek Ramdhan melihat keraguan dimata Restu.


"Aku juga pingin ketemu kakak ipar, kek ,,, boleh kan aku gabung ?" Ucap Arista merengek seperti anak kecil yang minta diberikan mainan oleh ibunya.


Arista sangat menyayangi Aruna seperti kakak kandungnya. Sejak kecil ia tumbuh bersama Arion dan bermain dengan teman-teman Arion yang notabene anak laki-laki hingga Arista memutuskan keluar negeri. Dan ketika Arion menikah dengan Aruna, maka Aristalah yang paling bahagia.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


SELAMAT SIANG READERS


SELAMAT MENIKMATI HARI LIBUR


__ADS_2