MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 54


__ADS_3

Sentuhan intens yang diberikan oleh Arion membuat Aruna tak nyaman. .Rasa geli, penasaran akan sentuhan berikutnya dan penolakan yang berasal dari akal pikirannya bercampur jadi satu. Otak dan perasaannya kini tak sejalan. Aruna yang selalu menjaga diri dari hal-hal buruk qpalagi yang pada kontak fisik dengan lawan jenisnya. Aruna berusaha tenang agar tak larut dengan permainan tangan Arion.


"Massss ,,, hentikan. A ,,, aku capek." Ucap Aruna dengan sekuat tenaga menahan agar tak terdengar seperti sebuah des**an.


"Kok capek sih, Yang ,,, padahal baru juga mulai." Balas Arion tepat ditelinga Aruna sehingga hangat napasnya membuat Aruna meremang, apalagi dengan sengaja Arion sengaja meniup telinga Aruna.


Senyuman bahagia terletak jelas pada wajah tampannya. Melihat gestur tubuh Aruna yang aneh saat Arion menyentuhnya. Ia yakin jika dirinyalah yang pertama bagi Aruna. Kekhawatiran yang sempat menghantuinya hilang entah kemana. Bagaimanapun beratnya Ariom namun sebagai laki-laki normal, ia tetap menginginkan seorang istri yang baik dan menjaga diri untuk suaminya kelak.


"Bukan seperti itu, tapi aku benar-benar capek sejak kemarin belum sempat istirahat dengan baik. Jadi tolong biarkan aku tidur dengan nyenyak agar nanti malam terlihat segar." Ucap Aruna membuat Arion salah paham.


"Ingin terlihat segar ? Untuk siapa ?!" Arion sedikit mengeraskan suaranya sehingga Aruna membalikkan badannya dan menatap pria itu.


Tak ada yang salah dalam kata-kata Aruna. Ia ingin terlihat segar oleh para tamu. Gak lucu kan jika wajahnya kuyu diantara cetarnya dandanan para keluarga dan tamu. Apalagi resepsi pernikahan cucu seorang kakek Ramdhan.


"Untuk semua oranglah ,,, apq mas gak malu punya istri jelek sendiri diantara para tamu yang cantik dan tampan ? Aku gak mau jadi bahan ejekan karena wajah lelahku." Aruna benar-benar kesal mendengar pertanyaan Arion.


Cup


"Ok, mas terima alasanmu tapi nanti malam mas ingin bermalam pertama yang sudah tertunda berbulan-bulan. Mas ingin segera punya anak." Ucap Arion terus terang setelah men***um bibir Aruna.


Baginya tak ada lagi yang harus ditutup-tutupi. Aruna bukan tipe gadis yang peka, yang akan mengerti dengan kode-kode mesra yang diberikan Arion. Jika pada umumnya wanita-wanita diluar sana akan segera mengerti hanya dengan sedikit sentuhan pada anggota tubuhnya namun Aruna berbeda. Reaksi tubuhnya terlalu lamban.


"A ,,, apa ?! A ,,, anak ?!" Ulang Aruna terkejut hingga matanya membulat sempurna.

__ADS_1


Cup


Arion kini men**um mata Aruna. Ia gemes dengan mata bening istrinya itu. Wajah Aruna memerah bagaikan kepiting rebus. Berkali-kali Arion membuat wajah Aruna memerah dengan perbuatannya yang terkadang tak melihat kondisi.


"Matamu itu lho, Yang ,,, bikin gak sabar menunggu malam dan resepsi berakhir."


Arion tersenyum manis membuat wajah tampannya semakin terpahat sempurna tanpa cela. Arioñ tak ingin diledek oleh Restu yang ia yakini jika nanti malam langsung membobol gawangnya. Arion pun bertekad untuk melakukannya malam ini. Malam pertama untuk pengantin baru dan pengantin lama.


"Yang, aku bener-bener sudah lama gak melakukannya. Sejak awal menjadi sekretarisku sejak saat itulah aku gak melakukan kesalahan itu. Aku tertarik padamu sejak awal karena matamu mengingatkanku pada gadis culun yang dulu aku tinggalkan karena ancaman gila itu. Semua aku lakukan karena melindungi nyawa dan nyawa nenek Sarah. Hingga kini pun aku masih mencari orang yang mengirimkan pesan itu. Dan sedikit lagi kami pasti akan menemukannya."


Aruna menatap manik mata Arion mencoba mencari kebohongan pria itu. Namun sangat disayangkan, Aruna tak menemukan sedikitpun kebohongan. Pemilik mata elang itu berkata jujur.


"Tidur dulu mas, bentar lagi sore dan aku harus dandan." Putus Aruna memejamkan matanya.


Aruna terkejut dengan aksi ekstrim sang suami namun ia mencoba untuk tak terusik. Dengan sekuat tenaga Aruna berusaha tertidur walaupun pada akhirnya mustahil karena sesuatu mengganjal bagian intinya. Aruna memilih diam agar dirinya aman kali ini.


"Mas tahu kamu belum tidur, Yang ,,, jangan marah atau kesal. diam aja biarkan aku menikmati momen seperti ini." Arion mempererat pelukannya sehingga bagian inti mereka pun bersentuhan walaupun masih ada dua lapisan penghalang.


Hingga Aruna kelelahan menahan diri akhirnya ia berlabuh juga ke dalam dunia mimpi yang indah. Sebaliknya Arion malah tak bisa tidur karena perbuatannya sendiri. Maksud hati ingin menggoda Aruna namun ternyata Arion sendiri yang tersiksa. Burung dalam sangkar malah terasa sesak setelah menemukan kandangnya namun tak bisa dimasuki karena pintunya masih tertutup rapat. Sang pemilik kandang masih mengunci rapat-rapat pintunya.


Melihat Aruna tertidur dengan damai, Arion perlahan bangun dan masuk ke dalam kamar mandi. Melirik jam dinding yang seolah mengejeknya, akhirnya pria itupun menenangkan siksaan batinnya sekaligus mandi agar sakit kepala bawahnya segera hilang.


"Kali ini aku masih membiarkanmu menyiksaku, Yang ,,, tapi malam nanti tak ada ampun bagimu." Gumam Arion tersenyum miring.

__ADS_1


Arion masih di kamar mandi saat Aruna terbangun. Penunjuk waktu terus berputar hingga 1 jam sudah Aruna menunggu namun Arion belum juga keluar dari kamar mandi. Aruna tetaplah Aruna yang hanya menyimpan semua tanya dalam hati tanpa ingin mencari tahu. Hingga kemudian Arion keluar dengan wajah segar.


"Mas, shampo-an ? Tumben ,,, biasanya kan mas pakai sampe hanya pagi hari ?" Tanya Aruna tak dapat menahan rasa penasarannya.


"Tumben bertanya, Yang ,,, biasanya cuek." Balqs Arion tak nyambung.


"Ck, hanya penasaran aja, sih."


"Mau tau aja atau mau tau banget ?" Arion mulai berani bercanda dengan sang istri yang selalu berbuka datar padanya.


Aruna kembali pada mode on cuek bin datar. Ia mengambil kimono handuk dan pakaian dalamnya. Namun sebelum menghilang dibalik pintu kamar mandi, langkahnya terhenti saat mendengar Arion setengah berteriak.


"Aku terpaksa bermain solo, Yang ,,, karena kamu belum percaya padaku. " Ada nada sendu dibalik suara teriakan kecil Arion.


Aruna merasa bersalah dan berdosa, sebagai seorang istri yang belum pernah menunaikan kewajibannya. Nasehat Rani dan Syasa kembali terngiang-ngiang di telinganya. Kedua ustadzah dadakan itu benar-benar membuat hati Aruna bimbang ditambah nada suara Arion yang begitu menohok sisi terdapat hatinya.


'Apa yang harus aku lakukan ?' Batin Aruna dilema.


Aruna menarik napas panjang kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar mandi. Waktu semakin sempit, ia tak ingin terlambat dan membuat dirinya menjadi pusat perhatian oleh para tamu undangan. Aruna tak ingin membuat kakek Ramdhan dan keluarga yang lain menunggu.


🌺🌺🌺🌺🌺


SELAMAT SIANG READERS ,,,,

__ADS_1


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA


__ADS_2