
Ketukan di pintu membuat adik kakak itu menghentikan pembicaraannya sejenak. Aruna masuk dengan nampan di tangannya yang berisi dua minuman dan beberapa cemilan. Ia tak ingin mendapatkan kata-kata pedas jika ia tak memberikan minuman untuk tamu direkturnya.
“Permisi pak. “ Aruna kemudian meletakkan minuman di meja tamu.
“Gak usah repot-repot gini kak. Selesaikan aja pekerjaan kakak, jam istirahat nanti kita makan siang bareng.” Ucap Arista tanpa meminta persetujuan Arion.
Arista memutuskan untuk memanggil kakak pada Aruna. Ia ingin membiasakan diri agar kelak jika keduanya menikah dirinya tak canggung lagi. Mendengar sang adik memanggil kakak pada sekretarisnya membuat Arion mengerutkan alisnya. Selama bersama dengan Aletta tak pernah sekalipun Arista memanggil kakak bahkan tak jarang memanggil Aletta OE tanpa menyebut nama.
“Jangan mengganggunya, dek ,,, dia itu banyak kerjaan. “
Mendengar ucapan Arion membuat Aruna tertegun sejenak kemudian kembali menetralkan rasa kagetnya. Ternyata selama ini gadis yang sering menyapanya bahkan berusaha mengarabkan diri dengannya adalah adik kakak. Ah mungkin saja itu adalah panggilan akrab mereka, bukankah terkadang pasangan kekasih bahkan suami istri terkadang memanggil adik pada pasangannya. Aruna memiliki pemikiran sendiri tentang mereka berdua.
“Kan istirahat siang, kak. Masa iya gadis cantik ini dibiarkan kerja terus gak istirahat. Kalau kelelahan dan sakit kan kakak sendiri yang repot. “ Omel Arista ngotot ingin bersama Aruna saat jam istirahat.
Braaakk
Pintu ruangan Arion didorong dengan kasar. Siapa lagi pelakunya jika bukan Restu sang asisten tak ada akhlak. Kelakuan Restu yang seperti ini kadang membuat Arion ingin mengirimnya ke planet lain. Untung Arion masih muda dan jantungnya kuat sehingga tak membuat nyawanya terancam setiap kali dikagetkan. Arion hanya bisa menatap datar asistennya itu sedangkan Arista berseri melihat pria tampan pujaannya. Aruna segera pamit undur diri tak ingin berada di antara mereka.
“Permisi pak ,,,” Pamit Aruna langsung keluar dari ruangan tersebut.
“Wah, mimpi apa aku semalam, pagi-pagi disuguhi dengan dua wanita cantik sekaligus. “ Restu menatap Aruna yang telah berada di depan pintu kemudian mengalihkan tatapannya pada Arista yang tampak semakin dewasa.
Arista hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis. Walau jantungnya masih berdebar seperti dulu namun ia berusaha mengendalikannya. Tak ingin kecewa, manatau sahabat kakaknya itu telah memiliki tambahan hati. Arista bukannya tak ingin memperjuangkan cintanya akan tetapi ia tak ingin menyakiti hati wanita lain. Masih banyak pria di muka bumi ini kan ?
Aruna kembali ke meja kerjanya setelah membacakan jadwal bosnya hari ini yang hanya akan mengadakan pertemuan bulanan dengan para petinggi setiap divisi. Selanjutnya makan malam bersama kakek Ramdhan dan sahabatnya.
__ADS_1
“Bisa kita jadwalkan makan malam bersama , honey ?” Restu melupakan tujuan utamanya masuk ke ruangan direktur.
“Restuuu ,,, berikan map di tanganmu “ Geram Arion melihat asistennya yang tak bisa melihat yang bening-bening.
“Hehehe ,,, sory bos. Duniaku teralihkan melihat kedatangan bidadari penghuni hatiku. “
“Jangan asal kalau ngomong. Pastikan dulu hatimu sebelum memberikan harapan pada adikku “ Arion melempar tatapan tajam pada Restu yang menatap Arista dengan lembut.
“Berharap pada Melisha kan pastinya gak mungkin, jadi apa salahnya jika aku kembali melanjutkan keinginan hatiku yang tertunda. “ Balas Restu santai.
Arista pura-pura sibuk dengan ponselnya padahal ia memasang telinganya untuk merekam setiap kata yang terucap dari bibir seksi pria yang mampu menggetarkan kalbunya. Setelah beberapa tahun tak bertemu rupanya kondisi hati dan jantungnya tetaplah sama. Restu masih bertahan di dalam sana tanpa bisa di cegah.
‘Andai semua yang kau katakan dalam kebenaran, kak. Sungguh akulah wanita yang paling beruntung di dunia ini.’ Batin Arista.
“Kalau urusanmu selesai, kembalilah ke ruanganmu dan bekerja yang baik agar gajimu masuk ke rekening dengan cepat dan tepat waktu serta tanpa potongan. “ Ucap Arion sarat dengan ancaman.
“Jangan lupa jadwalkan makan malam kita, honey. “ Restu kembali melongokkan kepalanya dan berbicara dengan lembut pada Arista lalu kembali menutup pintu sebelum terjadi aksi kekerasan dalam perusahaan.
Arion berusaha fokus memeriksa berkas-berkas di atas mejanya walaupun pikirannya masih berada di seputar penampilan Aruna. Sungguh ia menyesal menyuruh gadis itu berpenampilan seperti sekretaris pada drama korea yang banyak digandrungi oleh wanita-wanita jaman sekarang.
“Dek, kakak boleh minta tolong, gak ?” Arion berdiri menghampiri kursi adiknya. Ia tak bisa fokus bekerja hari ini.
Arista hanya menaikkan alisnya menunggu ucapan Arion selanjutnya tanpa berkeinginan untuk bertanya. Arion duduk berhadapan dengan Arista. Wajahnya berubah serius membuat Arista sedikit gugup. Jangan sampai kakaknya menceritakan kekasih Restu.
“Tolong gali informasi sebanyak-banyaknya tentang Aruna dan kehidupannya saat ini.”
__ADS_1
“Kakak menginginkan kak Aruna atau Kakak jatuh cinta padanya ?” Arista menatap manik mata Arion.
“Dua-duanya, dek. “
“Aku akan berusaha kak walaupun sepertinya sangat susah. Setauku kak Kevin sangat mencintai kak Aruna.”
“Apa kamu yakin ? Sejauh mana hubungan mereka ?”
“Entahlah kak. Kami tidak terlalu akrab dan kami hanya bertemu saat ada acara yang diadakan oleh mahasiswa yang berasal dari Indonesia. “ Ucap Arista apa adanya. Walaupun sebenarnya tujuannya kembali ke Indonesia salah satunya untuk membantu sang kakak agar bersama Aruna.
Arista ingin melihat kesungguhan Arion. Kakek Ramdhan sudah memberinya batasan yang bisa dilakukan oleh Arista. Arion harus berjuang dan memantaskan diri untuk mendapatkan kembali hati Aruna walaupun kemungkinannya akan gagal tapi setidaknya ada usaha yang bisa jadi pertimbangan bagi nenek Sarah.
Arion menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ia duduki. Keinginannya untuk menikah muncul begitu saja dari dalam hatinya dan menggebu-gebu setelah mengetahui jika Arunalah yang menjadi sekretarisnya. Bukan karena saat ini Aruna sudah berubah cantik namun perasaan ini tak pernah ia rasakan sejak bersama dengan Aletta. Arion tak pernah memaksa untuk menikah dengan Aletta saat kakek Ramdhan tak jua memberikan restunya. Semua ia jalani tanpa beban. Tapi kini berbeda.
"Aku gak bisa membantu kakak selain hanya mencari informasi tentang kak Aruna. Kakak harus berusaha sendiri dan yang harus kakak ingat jika semua itu tentu saja ada imbalannya. " Arista tersenyum manis diakhir kalimatnya sedangkan Arion menganga tak percaya. Rupanya gadis yang bestatus sebagai adiknya itu tak pernah berubah. Jiwa bisnisnya masih mendominasi otaknya.
"Jangan katakan jika kami minta panjang, dek."
"Nah tu tau. Ternyata kakak gak berubah, masih ingat dengan kebiasaanku." Arista terkikik geli melihat ekspresi Arion.
Arion hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Belum apa-apa tapi Arista sudah mulai melancarkan aksinya. Ia bagaikan makan buah simalakama. Jika tak menuruti permintaan Arista maka iapun tak mendapatkan informasi tentang Aruna. Hanya asik matrenya itu yang bisa ia andaikan saat ini.
🌺🌺🌺🌺
DUA BAB CUKUP YA
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA