Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #95 - Hati Yang Terpaut


__ADS_3

Kesal, itu lah yang Aira rasakan pada Arsyad saat ini dan entah sampai kapan rasa kesal itu akan menguasai hatinya. Ia bahkan sudah enggan berbicara dengan Arsyad namun Arsyad tak berkecil hati untuk merebut hati Aira kembali.


Meskipun kini Arsyad dan Aira tinggal satu rumah, makan dalam satu meja makan, namun mereka seperti orang asing karena Aira yang enggun menegur Arsyad sejak tadi malam hingga pagi ini. Dan karena tak ingin lebih menyakiti hati Aira, Arsyad hanya mengirim pesan pada bu Husna, tak lupain Arsyad memberi tahu ayu posisinya.


"Via, siang nanti belanja, yuk," ajak Arsyad namun tatapannya melirik Aira yang menikmati sarapannya dalam diam.


"Ayo, kita belanja pakaian Ummi," kata Via yang juga melirik Aira. Kedua insan itu sedang bekerja sama untuk menarik perhatian Aira.


"Ayo, pakaian di sini sepertinya bagi-bagus," ucap Arsyad girang.


"Iya dong, Bi. Via punya banyak pakaian yang bagus di belanjakan Om Javeed," seru Via


"Baik sekali Om Javeed ya," ucap Arsyad dan kali ini tatapannya berbeda pada Aira, seolah ada percikan api cemburu disana.


Sementara Aira berlagak seolah tak mendengar perbincangan dua insan di depannya ini. Ia tetap fokus pada makanannya dan setelah ia menghabiskan sarapannya, Aira langsung kembali ke kamarnya begitu saja.


Aira menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mengingat kembali masa-masa indah bersama Arsyad dulu. Andai saja ia bisa memutar waktu, ia ingin kembali ke masa-masa itu.


"Ya Allah, aku masih mencintainya, tapi..." Aira menghela napas berat. "Tapi rasa kecewa itu masih ada, apa yang harus aku lakukan? Kenapa cinta sesakit ini? Dan kenapa cinta bisa bertahan sekuat ini setelah semua yang terjadi, kenapa cinta ini tidak musnah saja ketika dia menorehkan luka di hati ini?"


Aira merebahkan tubuhnya ke ranjang, ia menutup matanya dan seketika Aira merasakan tendangan yang cukup kuat dari dalam perutnya membuat Aira terkejut bahkan tanpa sadar Aira merintih sakit.


"Sayang, bikin Ummi kaget aja," ujar Aira sambil mengelus perutnya itu.


Sementara di luar, Arsyad tampak sedih menerima sikap dingin Aira namun bibirnya tetap tersenyum untuk Via. "Abi jangan sedih, nanti kita rayu ummi sama-sama biar Ummi nggak marah lagi," kata Via yang membuat hati Arsyad begitu tersentuh.


"Kamu baik sekali, Sayang. Terima kasih," ucap Arsyad.


"Via akan melakukan apapun supaya ummi bahagia, Bi. Karena Ummi juga melakukan segalanya untuk Via, Via mau jadi anak yang berbakti," jawab Via yang benar-benar membuat Arsyad merasa bangga pada putrinya itu.

__ADS_1


"Kamu memiliki hati emas seperti ibumu, Sayang."


🌱


"Tumben, nggak nyamperin tetangga kita," sindir ibunya Javeed pada Javeed yang kini baru saja sampai ke toko, ia membuka toko pagi-pagi sekali padahal biasanya di jam seperti ini Javeed masih malas-malasan di rumah, setelah itu akan menghampiri Via dengan sejuta alasan yang ia bawa.


Namun pagi ini Javeed sangat berbeda, dan tentu Javeed melakukan itu hanya untuk mengalihkan fikirannya dari Aira.


"Sudah ada yang jaga, nggak usah di samperin lagi," ketus Javeed dengan kesal.


Javeed pun membantu ibunya menyusun roti-roti yang baru saja di buat sendiri oleh ibunya.


Saat Javeed menyusun satu roti, Javeed teringat pada Aira karena saat itu Aira ingin mengambil roti itu namun Javeed justru menjahilinya.


"Ck..." Javeed berdecak kesal dan ia pun memakan beberapa roti saking kesalnya yang membuat sang ibu melongo.


"Jangan di makan begitu dong, Jav! Rugi nanti!" keluh sang ibu namun Javeed tak perduli, ia terus saja memakan roti hingga habis beberapa potong.


Javeed seperti kehilangan semangat hidupnya sekarang, ia kehilangan tujuan dan itu membuatnya tak tahu harus melakukan apa selain berfikir dan berfikir. "Kenapa semuanya jadi begini?"


🌱


Arsyad menatap foto USG kehamilan Aira yang di berikan oleh Via padanya, hati Arsyad bergetar, ia begitu terharu. Ini adalah harapannya bersama Aira, mimpi mereka.


"Bi, kira-kira adik Via laki-laki apa perempuan ya, Bi?" Tanya Via yang saat ini tidur tengkurap di ranjang Arsyad, ia memangku dagunya dengan tangannya.


Sedangkan Arsyad duduk bersender ke kepala ranjang dengan meluruskan kakinya.


"Memangnya Dokter nggak kasih tahu adiknya laki-laki apa perempuan?" Tanya Arsyad.

__ADS_1


"Memangnya Dokter bisa tahu, Bi?" Via justru balik bertanya. "Kan adik bayinya belum keluar."


"Bisa dong," jawab Arsyad yang langsung membuat kedua bola mata Aira membulat, bahkan ia langsung beranjak duduk tegak.


"Masak?" Arsyad tertasa geli melihat reaksi Via yang tampak sangat menggemaskan.


"Ya sudah, kita ajak ummi belanja sekarang, yuk. Setelah itu ajak Ummi ke Dokter dan kita tanya adik bayinya laki-laki apa perempuan." ajak Arsyad yang tentu saja di sambut dengan antusias oleh Via.


Ia segera turun dari ranjang dan mengambilkan kursi roda Abinya.


Sementara itu, Aira menghubungi orang tuanya dan ia memberi tahu tentang kedatangan Arsyad, hal itu membuat keluarga Aira sangat terkejut. Mereka memang tahu Arsyad berencana pergi ke Pakistan namnn mereka tak pernah tahu Arsyad bisa pergi secepat ini dalam keadaan yang sangat tidak memungkinkan.


Dan mereka jauh lebih terkejut lagi karena Arsyad tinggal satu rumah dengan Aira, meskipun hukum agama memperbolehkan karena Aira masih dalam masa iddahnya, namun tetap saja mereka mengkhawatirkan kondisi Aira. Ia lari ke Pakistan agar bisa sedikit saja mengalihkan fikirannya dari Arsyad namun Arsyad justru Menyusulnya kesana.


"Terus sekarang kondisi kamu gimana, Sayang? Arsyad nggak ngapa-ngapain kamu, 'kan?" Tanya Ummi Firda.


"Nggak di apa-apain sih, Ummi. Cuma kessel aja, aku jauh-jauh kesini, berharap bisa sedikit saja melupakan dia, malah dia masuk lagi ke rumahku," gerutu Aira.


"Terus kamu gagal melupakanku?" Aira langsung menoleh saat mendengar suara pria yang sedang ia bicarakan.


Arsyad tersenyum manis pada Aira sementara Aira justru mendengus kesal. "Aku memang sengaja datang karena aku tahu hati kita masih saling terpaut," kata Arsyad sembari mendekati Aira yang saat ini duduk di tepi ranjang kemudian Arsyad menyambar ponsel Aira begitu saja yang membuat Aira terkejut.


"Assalamualaikum, Abi, Ummi..." sapa Arsyad seperti biasa.


"Arsyad, tidak seharusnya kamu mempermainkan Aira seperti itu!" seru Abi Gabriel dari seberang telfon.


"Mempermainkan bagaimana, Bi? Aku sedang berusaha merebut hati Aira kembali ... oh bukan...." Arsyad melirik Aira sambil tersenyum penuh arti. "Aku tidak perlu merebut hatinya karena aku masih bertahta disana, yang perlu aku lakukan sekarang adalah merebut kepercayaannya, bukan begitu, Sayang?"


TBC...

__ADS_1


WAJIB BANGET MAMPIR KESINI NEH..



__ADS_2