Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #48 - Pasrah


__ADS_3

Ummi Ridha rasanya tak bisa hidup tanpa Arsyad di sisinya, apalagi selama ini ia selalu bersama Arsyad karena hanya Arsyad yang ia miliki.


Ia pun mulai menyesali keputusannya yang mengusir Arsyad hanya karena emosi, padahal selama ini Arsyad memang tidak pernah membangkangnya.


Saat ia menjodohkan Arsyad dengan Aira, Arsyad patuh padanya dan menerima perjodohan itu, dan cinta hadir begitu besar dalam hatinya untuk Aira.


Saat ia memintanya menikahi Anggun, Arsyad juga patuh akan hal itu. Meskipun Arsyad tahu yang di pertaruhkan adalah cintanya pada Aira.


Tapi sekarang, Arsyad mengambil keputusan sendiri, atas kemauannya sendiri untuk pertama kalinya.


Ummi Ridha memperhatikan Anggun yang saat ini sedang duduk termenung di tepi kolam.


Sejak perceraian itu, Anggun terlihat lebih murung namun Anggun tetap berusaha tegar dan memperlakukan Ummi Ridha seperti biasa. Begitu juga dengan Ummi Ridha yang tetap berusaha memperlakukan Anggun seperti biasa, bahkan ia menemani Anggun memeriksakan kandungannya.


Terlepas dari status Anggun dan Arsyad sekarang, Ummi Ridha tetap berusaha memperlakukan Anggun dengan baik dan menjaga kandungan Anggun.


Sudah satu minggu berlalu, Arsyad masih belum pulang namun setiap hari Arsyad mengirim pesan dan menanyakan keadaan Ummi Ridha. Namun Ummi Ridha masih sangat kecewa dengan keputusan Arsyad sehingga ia enggan membalas pesan Arsyad meskipun sebenarnya ia juga mengkhawatirkan keadaan Arsyad.


"Anggun...." Anggun menoleh dan langsung menyunggingkan senyum pada Ummi Ridha.


"Kamu nggak bosan di rumah? Kita keluar, yuk." ajak Ummi Ridha.


"Kemana?" tanya Anggun dengan kening berkerut.


"Kemana aja, terserah kamu. Ummi juga bosan di rumah," tutur Ummi Ridha. Anggun berfikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk. Karena ia pun merasa butuh udara segar, di rumah pun ia hanya bisa merenungi nasibnya yang entah sampai kapan akan begini.


Di sisi lain, Arsyad mencoba menata hatinya kembali, mencoba memikirkan masa depannya yang lebih baik. Bukan untuk Anggu, maupun berharap akan kehadiran Aira. Arsyad hanya ingin fokus pada hidupnya sendiri dan pada anak yang akan Anggun lahirkan nanti.


Tak hanya Arsyad yang mencoba berenang dari lautan lukanya dan mencoba naik ke permukaan, begitu juga dengan Aira.


Bohong, jika ia mengatakan ia baik-baik saja. Tapi benar, ia berusaha memperbaiki segalanya. Perceraiannya dengan Arsyad bukanlah akhir dari kisah hidupnya.


***


"Kalian akan di jemput Sahir nanti disana, kalian juga tidak perlu tinggal di hotel. Abi sudah menyewakan rumah untuk kalian disana." Abi Gabriel berkata sembari menunjukan foto pria yang bernama Sahil.

__ADS_1


"Dia jago bahasa inggris, kan? Karena kami nggak ada yang bisa berbahasa Urdu," ujar Jibril yang membuat Ummi nya tertawa.


"Belajar dong, gampang kok. Tulisan Urdu sama seperti bahasa arab, di tulis dari kanan."


"Kalau di lihat dari tulisannya gampang, Ummi. Tapi cara bacanya susah," balas Jibril.


"Dia bisa bahasa indonesia kok, keluarga besarnya masih keturunan orang Indonesia dan mereka masih menggunakan bahasa Indonesia." jelas Abi Gabriel.


Sementara Aira hanya mendengarkan percakapan kakak dan orang tuanya itu sembari menemani Via bermain di lantai.


"Berapa lama kami liburannya, Kak?" Tanya Aira kemudian.


"Kalau teman-temanku sih maunya 3 minggu," jawab Jibril. "Oh ya, Bi. Apa teman-temanku juga akan tinggal di rumah yang Abi sewa?"


"Ya nggak, Jibril! Teman-teman kamu itu laki-laki semua, yang akan tinggal disana cuma kamu sama Aira juga Via."


"Yah, tapi nggak enak sama teman-temanku kalau begitu, Bi. Biar aku di hotel sama mereka ya."


"Nggak usah, siapa yang jagain adik kamu? Disana negara asing, adik kamu harus di jaga."


"Benar juga." Jibril menggumam lirih.


"Kenapa kamu nggak pilih yang besar dan banyak kamar, Bang?" Tanya Ummi Firda kemudian.


"Dapatnya cuma yang itu, karena mendadak."


"Ya sudah, nggak apa-apa." Aira menyambung sambil tersenyum. "Tapi, boleh nggak kalau aku tinggal disana lebih dari 3 minggu?" Cicit Aira kemudian.


Ayahnya itu tak langsung menjawab, ia masih melirik sang istri namun tiba-tiba Jibril berkata. "Boleh, Dek. Mau berapa lama? Tiga bulan? Tiga tahun?"


Jibril mengerti apa yang sebenarnya di inginkan Aira, adiknya itu pasti ingin melarikan diri dari rasa sakit yang mendera hatinya. Mungkin Aira berfikir, lari ke suatu tempat yang jauh bisa meringankan sakit hatinya.


" Itu namanya pindah, Kak. Bukan liburan kalau sampai lama begitu," ujar Aira sambil geleng-geleng kepala.


"Terserah kamu, Aira. Kamu mau berapa lama, nanti bilang sama Abi. Biar Abi yang urus."

__ADS_1


"Makasih, Bi."


"Apa kita akan tinggal di Pakistan?" Celetuk Via dan Aira hanya mengangguk. "Wah, apa Abi akan ikut?" tanyanya kemudian yang membuat Aira langsung merasa sedih.


Selama seminggu ini Via terus menanyakan Arsyad, namun Aira benar-benar tak ingin menghubungi pria itu, apalagi setelah kontaknya di blokir.


Sesuatu yang sulit Aira percaya, namun itu sudah terjadi. Mungkin Arsyad bener, jalan mereka sudah berbeda.


**


"Aira kemana ya, Mas?" Hulya menghela napas berat sembari meletakkan ponselnya. "Sudah seminggu ini aku coba hubungi dia, tapi nggak bisa. Ponselnya nggak aktif, padahal aku ingin tahu kabar dia dan Via."


"Mungkin dia sengaja nggak aktifin ponselnya untuk menenangkan diri," jawab Fahmi sembari memasang sepatunya. "Sudah siang, aku pergi dulu."


"Arsyad masih tinggal di restaurant?" Tanya Hulya sembari mengantar suaminya ke depann.


"Masih, katanya dia akan pulang kalau Tante Ridha suruh dia pulang. Tapi katanya juga, dia nggak akan tinggal di rumahnya lagi supaya dia nggak serumah sama Anggun."


"Pilihan bagus, kenapa nggak dari dulu." Fahmi hanya bisa geleng-geleng kepala karena entah kenapa, istrinya ini seolah kegirangan saat Anggun menderita.


"Aku pergi dulu, jangan keluyuran!" titah Fahmi sambil masuk ke mobilnya. Hulya hanga mengangguk dan kembali masuk ke rumah.


Sudah seminggu ini ia mencoba menghubungi Aira, namun nomor telfon Aira tidak aktif padahal ia tak sabar ingin memberi tahu Aira bahwa orang ketiga dalam rumah tangganya sudah menjadi janda.


***


"Kamu masih belum berani menghubungi Aira atau keluarganya?" Fahmi bertanya sembari menikmati makan siangnya bersama Arsyad.


"Belum, aku kangen tapi aku nggak sanggup untuk menghubungi dia. Aku takut aku semakin nggak bisa melupakan dia. Aku rasa ini lebih baik untuk kami berdua, fokus pada hidup masing-masing karena jalan kami sudah berbeda."


"Tapi kamu 'kan sudah menceraikan Anggun. Kenapa kamu nggak kasih tahu Aira?"


"Tunggu, apa kalian memberi tahu Aira kalau aku dan Anggun sudah bercerai?" Tanya Arsyad kemudian


"Belum, sudah seminggu ini ponsel Aira nggak aktif kata Hulya."

__ADS_1


"Oh ya?" Gumam Arsyad cemas. "Lalu apa kalian nggak menghubungi orang tua Aira?"



__ADS_2