Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #72 - Hasil Dari Ambisi & Keikhlasan


__ADS_3

Anggun melangkah gontai mendekati Arsyad yang masih dalam keadaan yang sama, Anggun mendekatkan wajahnya ke wajah Arsyad dan benar, ia mendengar Arsyad menggumam kan nama Aira tanpa henti.


Air mata Anggun menetes begitu saja hingga jatuh membasahi pipi Arsyad, Anggun menghela napas berat, ia menghapus air matanya dari pipi Arsyad. "Apa kamu akan bangun kalau dia datang?" Anggun bertanya dengan suara tercekat di tenggorokannya. "Lalu, apa kamu akan membenciku saat kamu bangun nanti?" Anggun tertunduk sedih, isak tangis tak bisa lagi ia tahan.


"Baik, aku akan berusaha mengembalikan apa yang sudah aku rampas. Kamu boleh membenciku nanti, tapi aku mohon jangan anakku, jangan benci dia, dia juga darah dagingmu, Mas. Cintai dia sebesar kamu mencintai anak Aira nanti, aku mohon" Anggun menyeka air matanya, ia berdiri tegak dan menarik napas dalam.


Anggun teringat dengan istri Micheal, ia yakin istri Micheal sangat berbeda dengan Micheal dan dialah harapan Anggun untuk bisa menghubungi Aira. Anggun pun segera bergegas ke rumah Micheal untuk menemui Zenwa.


Sesampainya disana, Anggun mengetuk pintu dengan harap-harap cemas, ia berharap tak ada Micheal disana karena Anggun sangat takut pada Micheal.


Tak berselang lama, pintu terbuka. "Cari siapa?" tanya Bi Eni, Anggun tak bisa langsung menjawab, ia hanya membuka mulut dan tampak gugup.


"Cari siapa, Bu?" Bi Eni mengulangi lagi pertanyaannya.


"Saya mau...."


"Siapa yang datang pagi buta begini, Bi?" Bi Eni menoleh saat mendengar suara Zenwa. "Kamu?" Pekik Zenwa saat melihat Anggun.


"Aku ... ada yang ingin aku bicarakan," kata Anggun.


"Soal Arsyad?" Tanya Zenwa. "Maaf, tapi aku nggak bisa ikut campur, apalagi suamiku melarangku ikut campur," ujar Zenwa.


"Aku mohon, cuma kamu yang bisa membantuku. Arsyad benar-benar membutuhkan Aira saat ini, Mbak." mohon Anggun dengan begitu memelas, Zenwa tidak tega sebenarnya namun ia juga tak mungkin melanggar apa yang suda di perintahkan Micheal, suaminya.


"Maafin aku, tapi aku benar-benar nggak bisa bantu, lagi pula Aira nggak ada di Indonesia sekarang," lirih Zenwa setengah berbisik, ia menoleh, mengantisipasi kedatangan sang suami.


"Kalau gitu, aku minta nomor telfonya Aira, aku mohon..."  desak Anggun namun Zenwa hanya bisa menggeleng lemah.


"Maaf, aku nggak bisa," ucap Zenwa sambil meringis, kasihan melihat keadaan Anggun. "Suamiku melarangku memberikan informasi apapun tentang Aira."


Anggun mulai menyerah bahkan ia menangis, ia menatap Zenwa dengan begitu memelas. "Aku mohon..." lirih Anggun sekali lagi. "Kondisi mas Arsyad sudah ada kemajuan, dia terus memanggil nama Aira. Dia benar-benar membutuhkan Aira saat ini," ucap Anggun dengan penuh harap akan belas kasih Zenwa,  baru saja Zenwa akan mengatakan sesuatu namun tiba-tiba terdengar suara Micheal yang memanggilnya.

__ADS_1


"Kamu cari Hulya, ya." Zenwa berkata setengah berbisik kemudian ia menutup pintu begitu saja sebelum Micheal tahu kehadiran Anggun.


Sementara Anggun, hatinya mencolos karena baru kali ini ia perlakukan dengan begitu menyakitkan oleh orang-orang yang bahkan sebelumnya tak pernah ia kenal.


Sembari berjalan kembali menuju mobilnya, Ia menyeka air mata yang kembali mengalir bebas dari sudut matanya.


Anggun tidak tahu dimana rumah Hulya, ia juga tak punya nomor telfonnya. "Suaminya kan kerja di restaurant mas Arsyad," gumam Anggun dan sudut bibirnya sedikit tertarik, seolah ia senang karena ada sedikit harapan untuk bisa menghubungi Aira.


Anggun segera melajukan mobilnya menuju restaurant, namun sesampainya disana ia hanya bisa menghela napas lesu karena masih tak ada siapapun disana karena hari memang masih sangat pagi.


Anggun duduk di depan restaurant, menunggu kedatangan Fahmi dengan sabar karena hanya Fahmi yang bisa membantunya saat ini.


Sementara di rumahnya, orang tua Anggun panik karena tak mendapati Anggun dimana pun, ia sudah berusaha menghubungi Anggun namun masih tak ada jawaban.


"Mungkin dia ke rumah sakit, Ma. Mobilnya nggak ada," kata pak Arif setelah memeriksa garasi dan mobil Anggun tak ada disana.


"Sepagi ini?" tanya Bu Husna.


***


Anggun sudah menunggu lebih dari dua jam hingga kini beberapa pelayan mulai berdatangan, Anggun langsung menanyakan keberadaan Fahmi. "Pak Fahmi pulang ke rumah orang tuanya, Bu. Katanya ada pernikahan disana." Anggun langsung menghela napas lesu mendengar jawaban itu.


"Bisa minta contact dia?" tanya Anggun dan pelayan itu pun memberikan contact Fahmi.


Namun saat Anggun menghubunginya, ia tak mendapatkan jawaban. "Pasti lagi sibuk banget, Bu. Apalagi besok adiknya menikah," kata pelayan disana.


"Baiklah, terima kasih." Anggun berkata sambil tersenyum masam, ia pun kembali ke rumah sakit dan sesampainya disana, Anggun langsung di sambut oleh orang tuanya yang menunggu.


"Kamu dari mana, Anggun?" Tanya Bu Husna. "Kata Dokter, Arsyad sudah punya kemajuan."


"Iya, Ma. Yang Arsyad butuhkan sekarang hanya Aira."

__ADS_1


***


Lahore, Pakistan.


Aira duduk merenung dekat jendela dengan ponsel yang genggam di tangannya, ia merenugi kisah  hidupnya dan Arsyad yang begitu tragis.


Hulya sudah membalas pesannya dan menceritakan semua yang terjadi.


Perceraian Arsyad, kecelakaan Arsyad hingga kematian Ummi Ridha. Aira begitu shock, merasa tak percaya semua itu benar-benar terjadi. Ia tak percaya, ibu mertua yang dulu ia anggap ibu sendiri kini telah berpulang.


Aira teringat dengan masa-masa yang ia habiskan bersama ibu mertuanya, masa-masa yang luar biasa indah dan bermakna, dulu.


Ummi Ridha memperlakukannya bak tuan putri, menyayayanginya dan memanjakannya. Setelah semua perhatian dan kasih sayang itu, tak mungkin Aira memiliki prasangka buruk tentang ibu mertuanya.


Namun, saat Ummi Ridha bersimpuh di depannya, memintanya memilih di antara dua pilihan yang begitu sulit, hati Aira begitu hancur dan terasa begitu sakit hingga ke ubun-ubunnya.


Aira menyeka air matanya yang sejak tadi mengalir bebas tanpa bisa ia bendung.


Sudah tiga minggu ia di Pakistan, sudah tiga minggu pula ia tak lagi menangis karena masalah yang sama. Dan sekarang, kenapa ia harus menangis lagi?


"Ya Allah, berikan tempat terbaik di sisi-Mu, berikan rahmat-Mu padanya, semoga dia memaafkan kesalahanku dan aku memaafkan apapun yang pernah ia lakukan padaku."


Jibril masuk ke kamar Aira dan ia mendekati sang adik yang masih  melamun. "Kamu pasti sock mendengar berita itu, aku juga," ucap Jibril.


"Aku nggak nyangka aja, kenapa semuanya bisa jadi seperti ini?"


"Takdir, Dek. Dan takdir itu misteri, nggak bisa di tebak, nggak bisa di terka."


"Aku bahkan belum sempat meminta maaf padanya untuk yang terkahir kalinya, dia pergi terlalu cepat, dia bahkan nggak bisa melihat kedua cucunya, sementara selama ini, seorang cucu seolah menjadi ambisinya, Kak. Dia memintaku meninggalkan suamiku demi cucunya, dia memakasa Arsyad mendua demi cucu. Dan dia pergi tanpa melihat salah satu dari cucunya."


"Itulah bahayanya ambisi, Ai. Dia terlalu berambisi dan kadang, justru Allah menjauhkan apa yang menjadi ambisinya, itu terjadi, kan? Seandainya dia ikhlas dengan keadaan yang ada, Allah pasti kasih dua kali lipat dari apa yang dia harapkan."

__ADS_1


"Iya sih, ironis."


__ADS_2