
Karena Arsyad tak punya siapa-siapa lagi, apalagi dengan kondisinya yang belum pulih total, Arsyad pun mempekerjakan seorang asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah serta membantu merawat Arsyad. Dan kini, tetangga Arsyad mengasihani pria malang itu, yang dulu hidup sempurna namun kini hanya sebatang kara. Dulu ia memiliki dua istri, namun sekarang kedua istrinya bahkan tak menjenguk nya. Itulah tema gosip kompleks yang selalu menjadi buah bibir para ibu-ibu hampir setiap hari.
Namun Arsyad tak mau memusingkan gosip tentang dirinya, ia juga tak ambil hati apapun yang orang lain fikirkan ataupun katakan tentangnya.
Arsyad tetap mencoba hidup normal, ia masih berkunjung ke sekolah TK, ke restaurant bahkan ke panti asuhan seperti yang ia lakukan hari ini bersama Micheal.
Micheal mengantar Arsyad ke rumahnya, ia membantu Arsyad turun dari mobil kemudian membantunya duduk di kursi roda.
"Terima kasih," ucap Arsyad sambil tersenyum. Micheal hanya mengedikan bahu kemudian ia masuk ke dalam mobil.
"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Arsyad sebelum Micheal menutup pintu mobil.
"Marah sih nggak, cuma sisa kecewa masih ada," jawab Micheal kemudian ia pun menutup pintu mobil. Arsyad hanya melengkungkan bibirnya, tersenyum simpul mendengar jawaban Micheal yang sangat bisa ia fahami. Sulit meredam amarah, dan lebih sulit lagi membuang rasa kecewa.
Setelah mobil Micheal pergi meninggalkan halaman rumah Arsyad, Arsyad pun masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Bi Sri..." seru Arsyad. Tak berselang lama, ART-nya yang merupakan wanita paruh baya itu berlari menghampiri Arsyad.
"Waalaikum salam, Tuan. Maaf, Tuan. Saya tadi di belakang, nggak dengar suara mobil," kata Bi Sri.
"Nggak apa-apa, Bi. Aku bawa kunci kok," kata Arsyad sembari mendorong kursi rodanya menuju sofa, Bi Sri hendak membantu memindahkan Arsyad ke sofa namun Arsyad menolaknya.
"Nggak apa-apa, Bi. Aku bisa sendiri," kata Arsyad. Ia berusaha berdiri dan berpindah ke sofa.
"Tuan mau makan malam apa?" Tanya bi Sri kemudian.
"Apa aja, Bi," jawab Arsyad sembari mengeluarkan ponselnya dari sakunya, saat hendak meletakkan ponselnya ke meja, tiba-tiba ponselnya berdering. Arsyad mengernyit bingung melihat nomor asing yang tertera di layar smartphone nya itu, dan pupil matanya melebar saat menyadari kode nomor telfon itu dari mana. Dengan harap-harap cemas serta dada yang berdebar, Arsyad menjawab panggilan itu.
"Ha-halo...." sapa Arsyad dengan gugup, tak ada suara dari seberang telfon.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." ucap Arsyad kemudian namun masih tak ada jawaban, kerutan di kening Arsyad semakin dalam. tadinya ia berharap itu Aira karena kode nomor telepon itu dari Pakistan, namun harapannya sirna karena tak ada yang menanggapi dari seberang telfon, Arsyad berfikir mungkin orang iseng atau salah sambung. Namun saat Arsyad hendak memutuskan sambungan telfon itu, ia mendengar suara yang sangat ia rindukan.
"Assalamualaikum, Abi ...." tubuh Arsyad menegang, itu suara Livia, putrinya, putri yang sangat ia rindukan.
"Ini Via," seru Via dari seberang telfon, suaranya terdengar begitu riang, membuat hati Arsyad berbunga-bunga, saking bahagianya, Arsyad sampai tak tahu harus berkata apa untuk menyapa putrinya itu. Suaranya tercekat di tenggorokannya, kedua kelopak matanya sudah di genangi air mata.
"Abi...." panggil Via sekali lagi yang membuat Arsyad langsung menitikan air matanya. "Ummi, nggak ada suaranya, mungkin pulsanya habis," terdengar rengekan Via dari seberang telfon, Arsyad menarik napas panjang sembari mengusap air matanya,
"Ada, Sayang. Ini Abi...." ucap Arsyad kemudian dengan suara tercekat.
"Abi... Via kangen," rengek Via manja yang berhasil menciptakan senyum mengembang di bibir Arsyad.
"Iya, Sayang. Abi juga kangen sekali sama Via, Via apa kabar, Nak? Via sehat? Ummi juga sehat, 'kan?" Tanya Arsyad antusias.
"Via dan Ummi sehat, Abi. Terus adik bayi dalam perut Ummi sudah semakin besar, karena perut Ummi sudah besar sekali, bulat, Bi. Seperti bola, hehe..." Arsyad ikut tertawa mendengar ocehan Via.
"Bi, Abi masih sibuk, ya? Apa Abi masih marahan sama Ummi? Makanya Abi nggak ikut liburan?" kini terdengar suara parau Via, tampaknya anak itu sedang di landa perasaan sedih saat ini. Hati Arsyad teriris mendengar ucapan Via, karena anak sekecil itu sudah harus menyaksikan permasalahannya dengan Aira, padahal Aira dan Arsyad mengadopsi Via agar anak itu punya keluarga yang lengkap seperti yang di impikan Via selama ini.
"Bi, Via kangen, pengen peluk Abi. Ummi juga pasti kangen Abi, Abi kapan kesini?"
"Via..." terdengar suara teguran Aira pada Via. Arsyad yang mendengar suara sang istri hanya bisa menahan senyum. Bahkan, hanya mendengar suara Aira saja sudah membuat jantungnya berdebar kencang.
"Abi boleh bicara sama Ummi, Sayang?" Arsyad bertanya penuh harap.
"Ummi, Abi mau bicara, Ummi. Kata abi, abi juga kangen ... sekali sama Ummi katanya, sampai Abi tidak bisa tidur karena kangen sama Ummi." Arsyad tersenyum lebar mendengar kebohongan putrinya itu, yang Via katakan memang benar tapi Arsyad tak mengatakan itu pada Via. Namun apapun itu, Via sudah mewakili perasaan Arsyad,.
...🌱...
Lahore, Pakistan
__ADS_1
Via masih menyodorkan ponselnya pada Aira namun Aira tampak raggu untuk berbicara dengan mantan suaminya itu, ia hanya menatap ponsel yang masih ada di tangan mungil Via. "Kata abi, abi juga kangen ... sekali sama Ummi katanya, sampai Abi tidak bisa tidur karena kangen sama Ummi."
Aira tersenyum mendengar kata-kata bohong Via itu. Ponselnya di loudspeaker sejak tadi, Aira mendengar apa saja yang di katakan oleh Arsyad namun putri kecilnya ini masih berbohong.
Aira mengambil ponsel itu, me non-aktifkan loudspeakernya kemudian ia menyapa Arsyad dengan salam. "Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam, Humaira." jantung Aira kembali berdebar mendengar suara Arsyad yang memanggil namanya dengan begitu lembut, seperti biasa. Bahkan kedua mata Aira kini kembali terasa panas. "Kamu apa kabar? Anak-anak kita juga apa kabar, hm? Apa kalian suka disana?"
"Ya, kami suka disini," jawab Aira lirih. "Kamu ... kamu sendiri apa kabar?"
"Jauh lebih baik setelah mendengar suaramu dan Via." hati Aira berdesir hangat mendengar ungkapan Arsyad. "Aku akan kesana, secepatnya. Aku ingin menemani kalian," ucap Arsyad kemudian yang membuat Aira terkejut.
"Kesini? Ke Pakistan?" pekik Aira.
"Abi mau kesini, Ummi?" sambung Via girang, Aira tak tahu harus menjawab apa, ia hanya menatap Via dengan nanar.
"Iya, aku kangen sama kalian," kata Arsyad lirih.
"Via lanjutkan ini ya, Nak. Ummi mau ke kamar sebentar," kata Aira.
Ia pun segera bergegas ke kamarnya bahkan menutup pintu agar Via tak mendengar perbincangannya.
"Kamu masih sakit, 'kan? Aku rasa sebaiknya kamu jangan kemana mana," kata Aira.
"Aku tahu, tapi aku ingin pergi kemana kamu pergi, Humaira."
"Aku pergi karena aku butuh ruang, aku mohon, jangan datang," lirih Aira memelas. Membayangkan ia bertatap muka dengan Arsyad sudah membuat hatinya berdenyut, entah kenapa, namun ada perasaan tak siap dalam relung hatinya.
"Kenapa? Apa Sebegitu besar rasa bencimu sama aku sampai kamu nggak mau mau melihat aku lagi? Aku tahu aku membuat kesalahan fatal, Humaira. Tapi aku mohon, kasih aku kesempatan, bukan kesempatan kedua, tapi kesempatan terakhir, demi anak-anak kita."
__ADS_1
^^^Tbc... ^^^