
Abi dan Ummi menatap Aira yang saat ini gemetaran saat hendak menandatangani surat gugatan cerainya yang sudah di persiapkan oleh pengacaranya, surat cerai yang akan ia layangkan untuk Arsya pria yang menjadi cinta pertamanya setelah ayahnya. Pria ia jadikan sandaran ternyaman setelah pundak sang ayah.
Dan sekarang, semua ini harus berakhir begitu saja, dengan luka dan air mata.
Luka yang entah kapan bisa sembuh, air mata yang entah kapan akan berhenti mengalir.
"Aku memang mencintainya, ya Allah, Sangat. Namun , aku tak ingin menjadi salah satu surganya yang harus ia pilih. Aku tak bisa mengatakan aku ikhlas dengan semua ini, ya Allah. Aku hanya berdo'a, lapangkan dada kami, mudahkan langkah kami melewati badai yang tak pernah kami harapkan. Kami milik-Mu, sesungguhnya, apa yang terjadi, atas kehendak-Mu. "
Air mata Aira menetes membasahi kertas itu saat jarinya mengukir tanda tangannya di atas surat cerai yang akan menjadi saksi bisu runtuhnya mahligai cintanya.
"Jangan marah padaku, ya Allah. Atas apa yang sudah aku putuskan, aku sungguh rapuh sekarang dan hanya jalan ini yang aku lihat sebagai jalan yang terbaik untuk semuanya."
Setelah menandatangani surat cerai itu, Aira melangkah gontai kembali ke kamarnya, membawa hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Micheal hendak menyusul sang adik namun Ummi Firda mencegahnya.
"Biarkan dia sendiri untuk saat ini, " ujarnya.
"Biar Abi yang mengurus sisanya," sambung Abi Gabriel.
Di kamarnya, Aira hanya duduk merenung sembari menatap cincin pernikahannya yang melingkar cantik di jari manisnya.
Bayangan akan Pertemuannya dengan Arsyad kembali berputar dalam benaknya, saat Arsyad berbicara dengannya, saat Arsyad mengucapkan akad nikah, saat Arsyad menyematkan cincin dan juga saat Arsyad mengecup keningnya dengan lembut.
Waktu yang ia lewati dengan sang suami begitu berharga.
Aira memegang dadanya yang lagi-lagi terasa sesak, ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Ikhlas di poligami memang jaminannya surga yang indah, namun hati Aira masih tak siap berbagi.
Mungkin, ia bisa berbagi, jika di paksakan. Namun masih ikhlas tak hadir dalam hati. Lalu ia bisa apa?
"Surga yang aku harapkan, hanya di tinggali bersamamu, Arsyad. Tanpa adanya ratu yang lain."
Aira mengambil ponselnya, ia mencari kontak Arsyad dan menghubunginya.
__ADS_1
Hanya beberapa detik kemudian, panggilannya terjawab, namun Arsyad tak bersuara, begitu juga dengan Aira yang tak mampu bersuara.
Aira masih setia menunggu sang suami bersuara, namun yang ia dengar justru isakan kecil dari seberang telfon dan isakan suaminya seperti mencubit hatinya.
"Ja-jangan menangis," kata Aira terbata-bata namun justru isak tangis Arsyad semakin terdengar jelas. Aira pun tak mampu membendung air matanya, ia menggigit bibirnya kuat-kuat, tak membiarkan isak tangis lolos dari bibirnya lagi.
"Aku harus membayar semua ini dengan sangat mahal, Aira," lirih Arsyad dari seberang telfon.
"Mungkin ini yang terbaik untuk semuanya, aku harap begitu," lirih Aira dengan suara yang bergetar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa yang terbaik harus begitu menyakitkan, Aira?" Arsyad bertanya sembari menyeka air matanya yang sejak tadi mengalir di pipinya.
Saat ini ia meringkuk di tengah ranjangnya, ia begitu rapuh dan lemah. Apalagi mengingat tamparan sang ibu dan kata-katanya tajamnya, seperti pecahan kaca yang menyayat hatinya pelan-pelan. Sangat perih, bentuk bakti, penghormatan, Arsyad selalu berusaha memberikan yang terbaik. Namun ternyata, itu tidaklah cukup, kini ia harus membayar kebahagiaan sang ibu dengan pernikahannya bersama Aira.
"Karena takdir berjalan sesuai kehendak Allah, bukan kita." Arsyad menggigit bibirnya, tak ingin lagi memperdengarkan isak tangisnya pada sang istri yang kini tampak jauh lebih tegar.
"Aku rasa tidak perlu, orang tuaku sudah menjemputku. Aku mohon tanda tangani surat cerai itu secepatnya, agar semuanya cepat berlalu. Dan aku akan pulang, mungkin beberapa hari lagi, biar pengacara dan Abi yang mengurus sisanya." air mata Arsyad semakin bercucuran mendengar apa yang di katakan Aira.
"Aku...." Arsyad menghela napas panjang, dadanya benar-benar sangat sakit akan perpisahan ini. "Aku akan menandatanganinya setelah aku mengantarmu pulang, atau setelah kau pulang. Ini benar-benar berat untukku."
Arsyad tidak sanggup mengucapkan kata cerai pada sang istri, apalagi menandatangani surat perceraian itu.
Keduanya pun terdiam, hanya terdengar suara helaan napas berat dari dua insan yang sudah lama menyutakan hati serta raga mereka, namun kini keduanya harus memisahkan raga mereka dengan paksa walaupun hati mereka enggan.
"Akan aku kabari saat aku akan pulang," ucap Aira kemudian dengan begitu lirih. "Mungkin Via juga ingin melihatmu."
Hati Arsyad semakin sesak saat mengingat anak angkatnya itu, walaupun hanya sekadar anak adopsi, namun Arsyad sangat menyayangi Via sejak dulu.
"Aku akan tetap berusaha menjadi ayah yang baik untuknya, aku harap aku tidak akan mengecewakanmu dalam hal itu."
Tak terdengar jawaban Aira, dan kembali keduanya sama-sama diam.
__ADS_1
"Humaira...." Arsyad memanggilnya dengan begitu lirih. "Aku mohon maafkan aku, aku sudah gagal menjadi suami yang baik untukmu, aku gagal menjaga mahligai cinta kita seperti yang aku janjikan."
"Aku rasa, kita berdua sudah gagal. Entah gagal, atau mungkin memang jalan takdirnya seperti ini."
Arsyad tersenyum kecut mendengar ucapan sang istri, saat ini ia merasa takdir sangat kejam padanya, namun mungkin Aira benar, inilah yang terbaik untuk semuanya.
"Aku akan selalu mendo'kanmu dan Via, akan selalu menyimpan kalian dalam hatiku."
...
"Aku rasa aku sudah membuat hubungan Arsyad dan ibunya kacau, Ma. Aku merasa bersalah setiap kali mengingat Ummi menampar Arsyad."
Anggun berkata pada ibunya yang saat ini sedang menemaninya di kamarnya.
"Sebenarnya, tidak ada seorang ibu yang benar-benar ingin menyakiti anaknya, Anggun. Terkadang kami hanya lepas kendali," kata bu Husna. "Dan itu bukan salah kamu, namanya sebuah hubungan, pasti ada pasang surutnya. Kadang erat, kadang longgar, kadang bahagia, kadang sedih. Bahkan dalam hubungan orang tua dan anak sekalipun."
"Iya sih, aku juga merasa bersalah sebenarnya sama Aira. Aku sama sekali nggak bermaksud merusak pernikahannya, seandainya Aira mau menerimaku, aku akan sangat senang."
"Sudahlah, jangan fikirkan itu. Itu hidup mereka dan biarkan mereka yang memutuskan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, Ummi Ridha harus turun tangan ke restaurant karena sudah beberapa hari ini Arsyad tidak ke restaurant. Apalagi sejak kejadian tamparan itu, Arsyad selalu menghindarinya. Seolah enggan menatapnya apalagi berbicara dengannya.
Sebenarnya ia merasa bersalah karena sudah menampar Arsyad, apalagi itu adalah pertama kalinya ia mengangkat tangan pada Arsyad.
Saat Ummi Ridha hendak keluar dari restaurant, ia melihat seorang wanita yang turun dari mobilnya.
Wanita itu berpakaian serba putih dan memakai cadar, Ummi Ridha hendak menghampirinya karena ia mengira itu Aira, namun tak lama kemudian seorang pria dan anaknya keluar dari mobil.
Mereka masuk ke restaurant bersama, berjalan melewati Ummi Ridha yang hanya diam mematung memperhatikan mereka.
TBC...
__ADS_1