
Aira sangat serius saat meminta Arsyad mengundang semua tetangganya ke rumah, mereka juga tak perlu memikirkan masakan karena mereka punya restaurant sendiri.
Aira juga mengundang Hulya, Fahmi, Zenwa tentu juga kakaknya Micheal.
Dengan antusias, hampir semua tetangga Aira datang setelah sholat isya. Aira menyambut mereka dengan hangat bahkan dengan senyum ramah. Tetangga yang mendapatkan undangan mendadak itu mengira Aira akan mengadakan syukuran untuk baby Ali..
"Mungkin mau mengadakan syukuran kali, ya. Tapi kenapa ibu kandung anaknya nggak datang, ya?"
"Iya juga ya. Mungkin belum datang aja kali."
"Tapi Arsyad dan Aira sudah bercerai, apa Arsyad menceraikan Anggun demi rujuk dengan Aira?"
"Sudah pasti itu, lagi pula Aira jauh lebih baik dari Anggun yang merebut suami orang."
"Tapi sekarang Aira membalas dengan merebut anaknya, nggak nyangka ya, Aira ternyata pendendam. Padahal kelihatannya sholehah."
Dan masih banyak bisik-bisik menggoda telinga para tukang ghibah itu, mereka tak bisa menolak asyiknya bergosip bahkan meski di rumah orang yang menjadi bahan gosip mereka.
Tak berselang lama, seorang kiai yang tinggal di komplek mereka datang bersama keluarganya. Arsyad langsung mempersilakan masuk dan memintanya memimpin do'a untuk mendiang putri Arsyad dari Anggun.
Saat kiai itu berdoa dan menyebut nama Maita Ibrahim putri Arsyad Ibrahim, seketika semua warga tercengang. Apalagi do'a yang di lantunkan sang kiai adalah do'a untuk orang meninggal dan menyebut nama Maita dengan embel-embel almarhum.
Meskipun bingung, mereka tak ada yang berani bertanya secara langsung. Mereka hanya mengikuti kiai yang berdoa sampai selesai.
Setelah selesai, Aira mempersilakan para tetangganya itu untuk menikmati hidangan mereka sepuasnya. "Anggaplah ini sebagai tanda terima kasih karena kalian sudah mau hadir dan mendoakan mendiang putri mas Arsyad dan Anggun, namanya Maita Ibrahim," kata Aira yang membuat tetangganya itu melongo.
"Anak mereka meninggal, Ai?" Tanya salah satu dari mereka akhirnya.
"Iya, beberapa hari sebelum aku melahirkan, putri Anggun sudah meninggal dalam kandungan," kata Aira.
"Oh, pantas..."
__ADS_1
"Lalu, bayi yang kamu bawa itu..."
"Dia putraku yang di lahirkan di Pakistan, karena selama hamil aku tinggal disana, karena itulah mas Arsyad dan Bi Sri juga ke Pakistan." mulut para tetangga seketika membulat dan ber oh ria.
"Oh, pantas di rumah ini nggak ada orang sama sekali."
"Iya, aku fikir kemana orangnya."
Para tetangganya itu saling sahut satu sama lain yang hanya di tanggapi dengan senyum samar di balik cadar Aira.
Bohong jika Aira tak tersinggung dengan apa yang mereka gosipkan di belakangnya, namun Aira bisa apa? Menjelaskan pada mereka satu persatu?
Cara ini adalah cara terbaik yang bisa Aira lakukan agar kelak tak ada yang mempertanyakan siapa ibu Baby Ali karena sudah jelas ibunya adalah Aira. Namun omongan orang-orang terkadang akan berkepanjangan dan sulit di cegah.
"Silakan nikamti hidangannya, Bu. Saya tinggal dulu," kata Aira.
"Terima kasih, Ai. Makanannya enak," kata salah satu dari mereka yang lagi-lagi hanya di tanggapi senyum tipis oleh Aira.
"Ai..." Aira menoleh saat merasakan tepukan ringan di pundaknya.
"Kenapa, Mbak?" Tanya Aira pada Zenwa yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya, padahal tadi Zenwa menemani istri kiai makan.
"Aku dengar apa yang mereka katakan tentang kamu," kata Zenwa lirih.
"Nggak apa-apa, namanya juga manusia," jawab Aira pasrah.
"Tapi mungkin bukan cuma tetangga kamu yang berfikir baby Ali anak Anggun, Ai. mungkin semua orang yang kenal kamu dan Arsyad akan berfikir hal yang sama, apalagi mereka melihat Anggun hamil saat menjadi istri Arsyad sementara mereka nggak pernah melihat kamu yang hamil. Berita tentang kamu yang hamil juga cuma segelintir orang yang tahu, sementara Anggun? Semua orang tahu dia hamil karena mendiang ibu mertua kamu sering membawa dia keluar. "
Hati Aira kembali sesak mendengar apa yang di katakan Zenwa, dan itu bisa saja terjadi, atau bahkan sudah terjadi. L
Aira tak mengerti, kisah lama yang ia fikir sudah selesai ternyata tidak selesai dan masih mencampuri kisah baru yang sedang ia ukir.
__ADS_1
"Terus aku harus gimana, Mbak? Aku nggak mau orang mengira anakku adalah anak orang lain," desis Aira kesal.
"Mbak juga bingung, Ai. Kalau sudah menyangkut omongan orang, kadang-kadang kita memang hanya bisa diam dan membiarkan kebenaran terkuak dengan sendirinya." jawaban Zenwa tentu sama sekali tidak mampu menenangkan hati Aira. "Jangan terlalu di ambil pusing, Ai. Apapun kata orang, nggak akan merubah fakta bahwa Baby Ali itu anak kandung kamu, yang kamu lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa." Aira hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
Setelah acara makan selesai, satu persatu tetangga Aira berpamitan pulang. Hingga tinggal kiai dan keluarganya yang kini justru asyik memperhatikan baby Ali.
Istri pak Kiai juga memuji ketampanan putra Aira dan mengatakan suatu hari nanti baby Ali akan menjadi anak sholeh yang membanggakan Aira, sehingga rasa sakit Aira saat hamil hingga melahirkan, serta kesulitan yang Aira alami saat membesarkannya akan terbayar dan terlupakan.
Aira dan Arsyad dengan serempak mengaminkan itu, begitu juga dengan yang lain. Andai para tetangga memiliki fikiran yang bersih, oh betapa damainya hidup ini.
...🦋...
Malam ini Aira sedikit merasa lega karena para tetangga sudah tahu dimana anak Anggun, namun Aira tak bisa tidur karena ia memikirkan apa yang di katakan Zenwa. Ia mengkhawatirkan masa depan putranya.
"Ck..." Aira berdecak kesal sambil memijit kepalanya yang terasa berdentum.
Malam sudah begitu larut, semua orang sudah tertidur termasuk Arsyad. Namun Aira masih terjaga, hingga tak berselang lama Arsyad pun terbangun. "Ada apa, Sayang?" Tanya Arsyad dengan suara serak, ia mengucek matanya dan bersender ke kepala ranjang. "Kenapa kamu nggak tidur? Baby Ali rewel?"
"Nggak, Mas. Aku cuma lagi mikirin masa depan putra kita," lirih Aira yang membuat Arsyad mengernyitkan keningnya. Ia pun berpindah posisi ke belakang tubuh Aira karena di tengah-tengah mereka ada baby Ali yang sudah tidur.
Arsyad memijit pundak istrinya itu dengan lembut yang seketika membuat Aira tersenyum lembut. "Apa yang kamu takutkan tentang masa depan dia, Sayang? Pendidikan? Atau apa?"
Aira memegang tangan Arsyad yang masih setiap memberikan pijatan lembut di pundaknya, ia menolehkan kepalanya hingga kini mereka saling menatap. "Bagaiamana kalau orang-orang mengira baby Ali itu anaknya Anggun, Mas? Karena yang mereka tahu, Anggun yang hamil, bukan aku." seketika raut wajah Arsyad berubah saat mendengar ucapan sang istri. "Seperti tetangga kita, mereka mengira aku membawa anak Anggun. Jika ini tentangku, aku nggak perduli, Mas. Tapi ini tentang anak kita. Bagaimana kalau saat baby Ali besar nanti, gosip itu masih terus bergulir?"
Arsyad mengusap pipi Aira dengan lembut, berharap itu bisa sedikit menenangkannya. "Jangan khawatir, aku akan buat pengumuman bahwa baby Ali anak kita, anak yang kamu kandung dan kamu lahirkan di Pakistan."
"Buat pengumuman bagaimana?" Tanya Aira penasaran.
"Kamu lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan untuk ahli warisku itu."
Tbc...
__ADS_1