Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #59 - Liburan Atau Melarikan Diri?


__ADS_3

^^^Lahore, Pakistan^^^


Merasa lelah setelah jalan-jalan, kini Aira duduk merenung sendirian di tepi jembatan. Ia menatap air yang tampak begitu tenang, membuat ia berfikir, kapan hatinya bisa tenang seperti air itu?


"Kamu kesini mau liburan atau melarikan diri?"


"Astagfirullah..."


Aira memekik terkejut saat tiba-tiba mendengar suara yang tak asing, dan Aira langsung mendelik kesal saat melihat tetangganya yang menyebalkan ini.


"Kamu ngapain disini, Non - eh, Nyonya Emerson? Kamu nggak takut di culik, hm?" goda Javeed dan ia berdiri di samping Airayang membuat Aira langsung melangkah menjauh.


Aira mengedarkan pandangannya, mencari kakak juga teman-temannya dan ia bernapas lega saat melihat mereka yang masih asyik menikmati tempat liburan itu.


Javeed pun mengikuti arah pandang Aira dan ia mengangguk-anggukan kepalanya saat melihat Jibril. "Kenapa? Takut di tinggal sama Kakakmu? Nggak usah takut, aku disini."


"Aku disini."


Hati Aira berdesir saat Javeed mengatakan 'aku disini', dua kata sederhana namun begitu berarti bagi Aira saat Arsyad yang mengucapkannya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Aira meninggalkan Javeed yang sudah berhasil mengingatkannya kembali pada Arsyad.


"Hey, kamu mau kemana?" Javeed mengejar Aira yang terus melangkah dengan cepat, melewati orang-orang yang lalu lalang disana dan Aira tampak kesal pada Javeed.


"Apa aku mengucapkan sesuatu yang menyakitkan? Maafkan aku, sungguh!" Javeed masih terus mengejar Aira yang pergi tanpa melihat jalanan, bahkan tanpa Aira sadari. Kini ia sudah terpisah jauh dari Jibril.


Sementara Javeed, pria itu sudah memperhatikan Aira sejak tadi karena kebetulan ia dan temannya sedang berada disana.


Javeed bisa melihat ada luka tersembunyi di balik mata cantik Aira, membuat ia penasaran dengan wanita itu.


"Nyonya, sungguh aku minta maaf jika aku ada salah kata tadi, aku tidak ingin menambah lukamu jadi aku mohon maafkan aku," kata Javeed yang masih tak menyerah.


Aira yang mendengar ucapan Javeed langsung menghentikan langkahnya dan ia berbalik badan sehingga kini ia bertatapan dengan Javeed.


"Apa kamu bilang? Menambah luka? Memang siapa yang terluka? Aku hanya tidak suka padamu," ketus Aira dengan kesal.


"Oh, sepertinya dugaanku benar. Kau kesini untuk melarikan diri," kata Javeed sambil terkekeh.


"Aku nggak tahu apa yang kamu maksud dan aku mohon jangan mengikutiku!" seru Aira yang semakin kesal.


"Ops, okay," ucap Javeed dan ia pun meninggalkan Aira begitu saja.


Sementara Aira, ia melihat ke sekitarnya dan ia tidak melihat Jibril maupun yang lainnya disana. Sekarang Aira menyadari ia pergi terlalu jauh, Aira pun hendak kembali namun jalan yang ia lewati terasa berbeda.

__ADS_1


"Astagfirullah, masak aku tersesat," Aira menggumam kecil, ia pun segera merogoh ponselnya dari dalam tasnya kemudian menghubungi Jibril, namun sayangnya Jibril tak menjawab.


"Aduh, gimana ya..." Aira mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, berharap ia menemukan Jibril atau yang lainnya, namun yang tertangkap pandangannya justru tetangganya yang menyebalkan.


"Tersesat, Nyonya?" Tanyanya, Aira enggan menanggapi namun sepertinya Javeed bisa membantunya.


"Ayo, mereka disana..." Javeed berjalan di depan Aira dan Aira pun mengikuti pria asing ini dengan harap-harap cemas.


"Kamu itu kenapa jutek banget sih?" Tanya Javeed namun Aira enggan menjawab sedikitpun. "Padahal kita dari negara yang sama lho, kok kamu nggak ramah sedikitpun sama aku?" Tanya Javeed lagi yang membuat Aira mendengus karena pria di depannya ini benar-benar cerewet.


Javeed berpapasan dengan temannya di sana dan ia mereka menanyakan tentang Aira.


"Woh kaun hai? (Dia siapa?)"


Tanya temannya penasaran karena baru kali ini Javeed terlihat bersama seorang wanita.


"Emm..." Javeed melirik Aira yang kini hanya tertunduk.


"Kia Ye ap ki Biwi hai? (Apa dia istri kamu?)" tanya temannya yang membuat pupil mata Javeed langsung melebar.


"Han, Ye meri Biwi hai. (Iya, dia istriku)" Javeed menjawab sekenanya dan kini temannya itu tampak terkejut.


"Ap ny shadi kab ki? (Kapan kamu menikah?)" pekik temannya itu. Sementara Aira tak tahu bahwa yang sedang di bicarakan itu adalah dirinya, Aira hanya bisa mendengaran dalam diam, bahkan Javeed mengakuinya sebagai istri.


"Kia Sach mein? Mujhe Yakin nahi ho raha?(Masak? Aku nggak percaya)"


" Ap ko Yakin karna parey ga. Ye khubsorat hai na. (Percaya dong, dia cantik tahu)"


"Kalian membicarakan apa? Kok nyebut Indonesia?" Tanya Aira yang sudah sedikit curiga.


"Dia cuma nanya apa kamu berasal dari Indonesia seperti aku," ujar Javeed dengan enteng. "Udah, kamu ngangguk aja kalau nggak ngerti." dan dengan polosnya, Aira pun mengangguk.


...----------------...


^^^Jakarta, Indonesia^^^


"Menurut saksi mata, ini murni kecelakaan tapi pelaku akan di pastikan mendapatkan hukuman yang setimpal karena dia menyetir dalam keadaan mabuk."


Ummi Ridha hanya diam membisu mendengarkan apa yang di jelaskan Dokter, saat ini ia hanya bisa mengintip Arsyad dari kaca pintu ruang rawat Arsyad.


Di dalam sana, Arsyad terbaring tak berdaya dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya untuk membantunya bertahan.


Dokter mengatakan Arsyad kritis, ia mengalami keretakan tulang di beberapa bagian tubuhnya, dan kepalanya mengalami benturan yang sangat keras sehingga sangat kecil kemungkinan ia bisa di selamatkan.

__ADS_1


Saat mendengar kabar Arsyad yang kecelakaan, Ummi Ridha hampir pingsan, dan saat ia melihat kondisi putranya, ia benar-benar jatuh pingsan.


Sementara Anggun dan kedua orang tuanya masih menutup mulut mereka rapat-rapat apa yang sebenarnya terjadi. Bagi mereka, ini hanya kecelakaan.


"Ummi..." Anggun memegang kedua pundak Ummi Ridha. "Mas Arsyad akan baik-baik aja kok, dia pasti kuat, dia pasti bisa melewati semua ini, aku yakin." Anggun pun menatap Arsyad dengan tatapan penyesalan dan rasa bersalah.


"Cintamu itu racun dalam hidupku."


Kata-kata itu terus terngiang dalam benak Arsyad dan seketika Anggun kembali menitikan air matanya. Untuk apa ia menangis? Untuk apa yang di alami Arsyad? Atau untuk dirinya sendiri yang menjadi penyebab kondisi Arsyad seperti ini?


Anggun pun tak mengerti, ia menyenderkan kepalanya di pundak Ummi Ridha yang masih diam mematung dengan tatapan yang lurus menatap putranya.


"Apa yang dia lakukan di rumah kamu, Anggun?" Anggun langsung terkesiapi mendengar pertanyaan lirih Ummi Ridha pun. "Kenapa dia bisa ada di rumah kamu? Dan itu pun sudah larut malam, ada apa?" Ummi Ridha menatap Anggun dengan berderai air mata.


Anggun hanya bisa membuka mulutnya tanpa tahu harus menjawab apa, sementara Ummi Ridha menatap Anggun penuh curiga.


Sejauh ia mengenal putranya, seharusnya Arsyad tidak punya alasan untuk datang ke rumah Anggun di larut malam begitu, dan jika Arsyad melakukan itu, pastilah karena ada sesuatu yang sangat penting.


"A-Ar-Arsyad...."


"Di-dia..."


"Dia hanya ingin menemui Anggun, Ri," Anggun dan Ummi Ridha langsung menoleh saat mendengar suara bu Husna. Anggun bisa sedikit bernapas lega karena ibunya datang di waktu yang tepat.


"Tapi untuk apa?" Tanya Ummi Ridha yang tak percaya begitu saja.


"Kami juga nggak tahu, kami juga terkejut dengan kedatangannya." Ummi Ridha masih terlihat tidak percaya pada apa yang di katakan Bu Husna, ia menatap dua wanita di depannya ini bergantian dengan tajam.


"Aku mengenal putraku dengan sangat baik, Husna. Dia nggak akan datang tanpa alasan yang kuat, apalgai saat larut malam. Apa yang kalian sembunyikan?"


"Nggak ada yang kami sembunyikan, Ri."


"Kamu yakin?"


"Aku nggak tahu apa maksud kedatangan Arsyad ke rumah, yang aku tahu, dia kecelakaan saat di depan rumahku."


"Baik, jika memang hanya itu yang kalian tahu. Tapi jika ternyata ada kebohongan yang kalian simpan, aku akan membawa masalah ini ke meja hijau dan aku tidak perlu siapa kalian!" Ancam Ummi Ridha sambil menatap Anggun dengan sangat tajam.


Anggun dan Bu Husna hanya bisa menelan ludah mendengar ancaman Ummi Ridha yang tampaknya sangat serius itu.


TBC..


...TAMAN SHALIMAR, LAHORE, PAKISTAN...

__ADS_1



__ADS_2