
"Siapa yang ngajarin kamu bilang cium begitu?" Tanya Micheal yang saat ini sedang gosok gigi bersama Tanvir.
Micheal dan Zenwa sangat terkejut mendengar ancaman Tanvir pada Via yang di luar nalar itu, Memangnya bocah itu mengerti apa soal cium mencium?
"Muncul sendiri." Tanvir menjawab dengan santai kemudian ia berkumur-kumur, di lanjutkan dengan mambasuh sikat giginya setelah itu ia mengembalikan sikat gigi itu ke tempatnya.
"Muncul sendiri bagaimana?" Tanya Micheal setelah ia juga berkumur-kumur.
"Ya muncul sendiri, Papa. Tiba-tiba bicara begitu, itu namanya muncul sendiri," jawab Tanvir kemudian ia berlari keluar dari kamar mandi, meninggalkan Micheal yang hanya bisa melongo karena tingkah laku anaknya yang ajaib itu.
"Itu anak nurunin sikap siapa sih? Astagfirullah, kok bisa punya sikap begitu? Apa mendiang kakek atau nenekku punya sikap begitu? Atau kakek neneknya Zenwa?" Micheal menggumam penuh tanda tanya.
Sementara di luar, Tanvir berlari menghampiri Zenwa yang saat ini sedang membersihkan dapur bersama Bi Eni. The "Mama, ayo kita ke Pakistan!" seru Tanvir yang seperti mengajak pergi ke rumah tetangga.
"Papa masih sibuk, Sayang. Nanti, ya. Kalau papa sudah punya waktu luang,"jawab Zenwa yang masih sibuk memasukan sisa makanan ke dalam kulkas.
"Yah, Papa sibuk terus! Kapan sih Papa itu punya waktu seperti papanya teman-teman Tanvir! Papa memang beda, cuma mikirin uang aja. Padahal papa itu sudah kaya, kenapa ngejar uang terus? Teman Tanvir tidak kaya, tapi uangnya tidak di kejar, soalnya teman Tanvir di bawa main!" Tanvir menggerutu kesal sambil berjalan dengan menghentakan kakinya.
Sementara Zenwa hanya geleng-geleng kepala menanggapi Tanvir yang sedikit keras kepala dan pemaksa, hal ini selalu terjadi setiap keinginan Tanvir tidak di penuhi, padahal Micheal selalu meluangkan waktu untuk keluarganya sesibuk apapun dia. Namun untuk pergi ke luar negeri tentu persiapannya berbeda dengan pulang kampung, dan Tanvir tahu itu karena sudah beberapa kali Micheal membawa Tanvir dan Zenwa liburan ke luar negeri.
Tanvir menghempaskan tubuhnya ke sofa, ia menyalakan TV dan menonton TV dengan wajah yang cemberut. "Tanvir...." Tanvir enggan menoleh saat mendengar mendengar suara sang ayah. "Hey, bocah!" Micheal duduk di samping anaknya itu.
"Kata siapa Papa cuma cari uang terus? Bukannya selama ini Papa selalu memperhatikan kamu? Jalan-jalan ke luar negeri juga sering, kenapa tadi bicara begitu sama Mama?" Tanyanya dengan lembut.
"Habisnya Tanvir kesal sama Mama dan Papa," jawab Tanvir sambil bersandekap tangan di dada, ia juga memasang wajah marahnya
"Tidak boleh seperti itu, Sayang. Nggak semua yang Tanvir mau itu bisa kita penuhi, Tanvir juga harus ngerti kalau ada waktunya Papa kerja, ada waktunya Papa liburan sama kalian."
"Tapi Via dan Tante Aira di Pakistan, Papa. Kakek sama nenek juga," rengek Tanvir.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Tapi saat ini Papa benar-benar sibuk banget, banyak sekali pekerjaan di kantor. Maaf, ya." Micheal menatap Tanvir dengan lembut, perlahan wajah cemberut Tanvir mencair, ia tersenyum kemudian menepuk pada ayahnya itu.
"Ya sudah, nggak apa," ujar Tanvir kemudian sambil tersenyum. "Sekarang Tanvir masih kecil, jadi harus bergantung pada Papa. Lihat saja setelah Tanvir besar nanti!" lanjutnya.
Micheal hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar celeotehan putranya itu, dalam hati ia bersyukur karena hanya punya satu Tanvir, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika ia memiliki dua Tanvir. Mungkin kepalanya dan kepala Zenwa sudah meledak.
...***...
...Lahore, Pakistan....
"Kenapa Via kesal sama Kak Tanvir?" Tanya Aira sembari mengusir rambut Via kemudian mengepangnya.
"Habisnya Via di bilang centil, Ummi. Katanya tidak boleh menari, ish, aneh. 'Kan menari itu seru." Via menjawab dengan nada kesal.
"Oh, Kak Tanvir bilang begitu supaya Via menjadi gadis yang lebih kalem aja, Sayang. Kak Tanvir perduli sama Via," ucap Aira memberi tahu. "Dulu waktu Ummi kecil, kak Michael dan kak Jibril juga sering larang ini itu dan itu demi kebaikan Ummi sendiri."
"Apa termasuk menari?" Tanya Via, ia menoleh, menatap ibunya itu dengan penasaran dan Aira menganggukan kepala. "Kenapa?" Tanya Via. Aira sudah membuka mulutnya hendak menjawab namun dering ponsel Arsyad yang ada di atas ranjang mengalihkan perhatiannya.
Aira sudah hendak menjawab panggilan itu namun ia mengurungkan niatnya, Aira segera memanggil Arsyad yang saat ini sedang berada di halaman samping rumah bersama Abinya.
"Mas, Anggun telfon," ujar Aira berusaha setenang mungkin namun ia tak bisa menyembunyikan rasa rasa cemburunya.
Sambil tersenyum Arsyad berkata, "Jawab aja, Sayang."
"Nggak lah, malas, buat apa," jawab Aira ketus.
Abi Gabriel menatap Arsyad dengan tajam, inilah yang Abi Gabriel takutkan, masa lalu Arsyad akan terus membayangi masa depan Aira, akan terus mengusik kebahagiaan Aira.
"Ada hubungan apa lagi kamu sama dia?" tanya Abi Gabriel.
__ADS_1
"Ada anak, Abi," jawab Aira sambil tersenyum, berusaha mengontrol emosinya.
Dan mendengar kata anak, Abi Gabriel kembali teringat pada masa lalunya, ia juga tak bisa lepas begitu saja dari masa lalunya karena adanya anak, namun semuanya baik-baik saja karena Firda yang dapat menerima anaknya dari wanita lain.
"Biasanya Anggun menghubungiku hanya jika ada yang di perlukan dan itu jika hanya berhubungan dengan kandungannya," jawab Arsyad jujur.
"Ya udah, Sayang. Kamu aja yang jawab," kata Abi kemudian. "Jika hubungan Arsyad dan Anggun hanya sebatas orang tua anak mereka, maka kamu ada di antara mereka, karena kamu istrinya Arsyad, kamu juga berhak atas anak itu. Jadi jika memang Anggun ingin membicarakan tentang anaknya, maka seharusnya tidak masalah jika dia berbicara denganmu."
Aira dan Arsyad sama-sama terkejut mendengar apa yang di katakan Abi Gabriel, keduanya terperangah, tak menyangka Abi Gabriel akan memberikan saran seperti itu.
"Iya, jawab aja, Sayang," kata Arsyad kemudian sambil melempar senyum, meyakinkan Aira bahwa ia tak masalah jika Aira bicara dengan Anggun.
"Okay," jawab Aira kemudian.
Saat ia hendak menjawab, dering ponsel Arsyad sudah terhenti. Baru saja ia ingin kembali menghubungi Anggun, namun Anggun justru lebih dulu menelfonnya. Kali ini Aira langsung menjawabnya tanpa ragu.
"Assalamualaikum..." sapa Aira sembari berjalan mendekati sang suami kemudian ia duduk di sisi suaminya.
Tak terdengar suara dari seberang telfon, Aira kembali mengucapkan salam dan kali ini ia menyebut nama Anggun. "Assalamualaikum, Anggun."
***
Bandung, Indonesia.
"Assalamualaikum, Anggun."
Dada Anggun langsung bergemuruh mendengar suara Aira dari seberang telfon, tangannya bahkan bergetar, lidahnya terasa kelu bahkan hanya untuk sekedar menjawab salam.
Dan kenapa Aira yang menjawab panggilannya?
__ADS_1
TBC...