
Setelah sekian bulan terpisah, akhirnya Aira kembali ke pelukan Arsyad.
Setelah berbagai macam kesalah fahaman yang menerpa mahligai cinta mereka, akhirnya mereka kembali bersatu, menentukan jalan lurus atas nama cinta. Menentukan tujuan dan menyatukan kembali prinsip yang sempat terkoyak karena adanya suatu keadaan yang tak mudah bagi mereka.
Benar, Aira mengikuti kata Arsyad, bahwa ia takkan menerima Arsyad hanya atas nama kebahagiaan anak-anaknya, namun Aira menerima Arsyad karena hatinya menginginkannya dan istikharah cintanya memberikan nama Arsyad dengan sangat jelas.
Dan benar apa yang di katakan Arsyad, kebahagiaan anak-anaknya tergantung kebahagiaan Aira sendiri. Jika Aira bahagia dengan hidupnya, pasti ia mampu membahagiakan anak-anaknya. Dan jika ia sendiri tak bahagia, maka hanya kebahagiaan palsu yang akan ia berikan pada anak-anaknya.
Dan juga benar, Aira bisa memaafkan Arsyad, ia juga yakin perlahan bisa mengikis rasa kecewanya pada Arsyad namun juga benar, Aira takkan melupakan apa yang sudah Arsyad lakukan padanya. Itu akan menjadi sejarah yang terukir abadi sepanjang hidupnya, namun setiap kali Aira teringat akan torehan luka itu, maka setiap itu juga ia akan kembali mengingat bagaimana Arsyad mencintainya selama ini dan memperjuangkannya.
Malam ini, Aira dan Arsyad kembali tinggal dalam satu kamar, satu ranjang, satu selimut bahkan satu bantal. Kembali menghangatkan cinta mereka yang sempat tersisih karena luka.
"Mas..." lirih Aira yang saat ini tidur dengan berbantalkan lengan sang suami.
"Hem, kenapa, Sayang?" sahut Arsyad dengan lembut sembari mengusap kepala Aira, kemudian membelai rambutnya, menghirup aroma rambut sang istri yang aromanya tak berubah sedikitpun.
"Sebenarnya..." Aira mendongak guna menatap wajah sang suami. "Apakah cintamu pernah terbagi?" bisik Aira, terselip nada ketir di dalam suaranya yang lembut itu.
Dengan cepat dan tegas Arsyad menggelengkan kepalanya. "Tak pernah, Sayang." Arsyad membelai pipi Aira dengan begitu lembut, membuat Aira hampir saja menangis meraskan setiap sentuhan lembut Arsyad.
Ia tersentuh, selalu tersentuh dengan kelembutan dari pria yang pernah mencabik-cabik perasaannya. Kenapa wanita selalu seperti itu?
"Tapi Anggun...?" suara Aira begitu lirih dan rendah, bahkan ia hampir tak mendengar suaranya sendiri.
Hati Arsyad terkesiap mendengar pertanyaan itu, ia menatap mata Aira dengan tatapan yang begitu dalam kemudian berkata. "Apa yang terjadi di antara kami selain keterpaksaan adalah kewajiban sebagaimana suami istri pada umumnya, Sayang. Aku tahu kamu faham makudku," jawab Arsyad dengan begitu tegas. "Aku mohon, Humaira. Berhentilah mempertanyakan apa yang bisa menyayat hatimu walaupun hanya seujung kuku!" lanjutnya.
__ADS_1
Aira sudah membuka mulut hendak menjawab namun kemudian ia kembali mengatupkan bibirnya saat menyadari apa yang Arsyad katakan benar adanya, ia selalu mempertanyakan sesuatu yang sedikit demi sedikit melukai hatinya. "Apa kamu tahu? Masih banyak luka yang menantimu di depan sana, Sayang. Apalagi saat dia melahirkan..." hati Aira mencolos mendengar apa yang di katakan Arsyad, keduanya masih saling mengunci tatapan.
"Jadi aku mohon, setidaknya saat ini, jangan biarkan hatimu kembali terluka. Jangan pancing rasa sakit itu lagi dan lagi, aku mohon. Jika tidak, aku pun takkan bisa tenang. Aku hanya akan hidup dalam rasa bersalah dan kamu akan hidup dalam luka. Sedangkan kita ingin memulai hubungan yang baru." Aira tersenyum kemudian ia menelusupkan wajahnya ke dada sang suami, menghirup aroma yang selalu membuatnya merasa nyaman.
Arsyad mengecup pucuk kepala Aira kemudian berkata, "Yang harus kamu ingat adalah aku selalu mencintaimu, hanya kamu yang ada dalam hatiku."
"Aku percaya," kata Aira kemudian dengan lirih.
Tangan Arsyad beralih ke perut Aira, ia mengusapnya dengan lembut. "Anak ini akan menjadi lambang cinta kita, Sayang."
"Insyaallah, Mas."
Beda halnya dengan Arsyad dan Aira yang bermesra-mesraan di kamarnya, di kamar Abi Gabriel justru sedang ribut karena Via yang sedang video call dengan Tanvir. Yang membuat ribut adalah Via yang menari sambil menyanyi di atas ranjang dengan berpakaian khas Pakistan. Anak itu menari seenaknya bahkan sampai seprei tak berbentuk, bantal terlempar kemana-mana dan bahkan sampai Abi Gabriel dan Ummi Firda duduk di pojok ranjang.
"Kalau di sini, anak-anak sudah bisa menari begini...." Via berkata sambil berputar dan memainkan selendangnya di depan laptop yang menampilkan wajah Tanvir. "Pakai gelang kaki juga, jadi berbunyi krincing ... krincing ... krincing...." Via memainkan kakinya sehingga gelang kaki yang terikat di pergalangan kakinya berbunyi.
Jakarta, Indonesia.
Tanvir cemberut melihat Via yang menarik dan baginya itu sangat centil. Tanvir tak suka, ia lebih suka Via yang pendiam dan kalem seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"Mama...." teriak Tanvir tiba-tiba. Tak lama kemudian Zenwa datang ke kamar anaknya itu yang saat ini duduk bersila di tengah ranjang dengan gadget di depannya. "Lihat, Mama! Livia centil, ih, Tanvir tidak suka!" seru Tavir sambil bersandekap tangan di dada.
Sementara Via terlihat melongo mendengar apa yang di ucapkan Tanvir. "Apa itu centil, Kak Tanvir?" Tanya Via yang langsug membuat Tanvir mendengus.
"Centil itu tidak bagus, seperti kamu itu! Jingkrak-jingkrak di depan laki-laki, memangnya tidak malu?" pekik Tanvir yang langsung membuat Via duduk, wajahnya sudah cemberut dan ia melirik ke sampingnya, tak berselang lama terlihat wajah neneknya di layar gadget Tanvir.
__ADS_1
"Tanvir, tidak boleh ngomong begitu!" tegur Zenwa kemudian sembari mengintip ke layar gabgdet. "Assalamualaikum, Livia!" sapanya sambil melambaikan tangan pada Via.
"Tante, centil itu apa? Kok Kak Tanvir terlihat kesal, padahal 'kan Via cuma mau memperlihatkan tarian yang Via tonton di tv," ucap Via.
"Centil itu maksudnya banyak gerak, Sayang." Zenwa menjawab dengan sambil tersenyum lembut.
"Iya, perempuan itu tidak boleh banyak gerak! Malu!" seru Tanvir yang bahkan mendekatkan wajahnya ke kamera.
"Disana sudah malam pasti, 'kan. Kenapa Tanvir tidak tidur?" Tanya Ummi Firda untuk mengalihkan perhatian kedua anak itu.
"Ini sudah mau tidur sebenarnya, Ummi. Cuma Tanvir pengen telfon, setelah dia tahu Ummi dan Abi pergi menyusul Aira, dia terus merengek minta ikut," papar Zenwa.
"Nanti, ya. Kalau Papa sudah nggak sibuk," jawab Ummi Firda.
"Ya sudah, sekerang waktunya Tanvir tidur, ya. Sudah malam, Nak." Zenwa membujuk sambil mendorong pundak Tanvir hingga bocah itu terbaring. "Ucapkan salam dulu sama adek Via, kakek juga nenek."
"Assalamualaikum semuanya!" ucap Tanvir sambil melambaikan tangannya. "Livia! Tidak boleh centil, ya. Jelek!" seru Tanvir lagi yang membuat Via mendengus namun ia tetap menjawab salam Tanvir.
"Waalaikum salam."
Zenwa mematikan lampu kamar Tanvir dan hanya menyisakan lampu tidurnya, setelah itu ia keluar dengan membawa gadget Tanvir yang sebenarnya masih terhubung dengan ummi Firda.
"Bagaiamana acara malam ini, Ummi? Apa acara rujuknya lancar?" Tanya Zenwa setelah menutup pintu kamar Tanvir, ia kembali ke kamarnya dimana suaminya sudah menunggu.
"Alhamdulillah, lancar. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, seperti sepasang kekasih yang baru menghalalkan cintanya.
__ADS_1
"Ummi..." sambung Micheal sambil merebut gadget dari tangan Zenwa. "Bilangin sama mantu Ummi itu, sekali lagi dia membuat Aira menangis. Aku sunnat dia sampai ke pangkalnya!"