Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #118 - Kelahiran Sang Pangeran


__ADS_3

Sakit, seolah anggota tubuhnya di tarik satu persatu. Itulah yang Aira rasakan saat ini. Ia merasa nyawanya sudah berada di ubun-ubunnya, ia pasrah, menerima keadaan dimana ia berada pada titik antara hidup dan mati.


Di sisinya, Arsyad memegang tangan Aira, meminta Aira menarik napas dan meghembuskannya secara perlahan. Sesekali ia mengelap kening Aira yang terus mengucurkan berkeringat dingin.


Bibir Aira sudah kering, begitu juga dengan tenggorokannya.


Aira juga menangis, air mata mengalir deras dari sudut matanya tanpa henti. Menjadi saksi bisu Perjuangannya melahirkan sang buah hati.


Dan di saat seperti ini, kisah hidupnya kembali terbayang dalam benaknya terutama saat-saat yang ia habiskan bersama sang ibu yang telah mengandung dan melahirkannya.


Selama ini, Aira tahu apa arti seorang ibu. Yaitu wanita yang mengandung, melahirkan, menyusui dan merawatnya penuh kasih sayang.


Namun sekarang Aira faham, arti seorang ibu lebih dari itu. Seorang ibu adalah malikat tak bersayap yang memberi tanpa melihat nilai pemberiannya, yang memberi tanpa mengharapkan imbalan.


Seorang ibu, adalah pahlawan yang takkan cukup di puji dan di kenang. Karena yang dia berikan adalah darah, nyawa, dan waktu seumur hidup untuk mencintai anak-anaknya.


Jika seorang ayah adalah orang pertama yang menggendong anaknya setelah ia di lahirkan, maka seorang ibu yang menjaga anaknya selama 9 bulan dalam kandungannya selama 24 jam.


Jika seorang ayah memberikan nafkah dengan perasan keringatnya, maka seorang wanita memberikan nafkah dengan darahnya.


Ia mengandung, melahirkan dan menyusui.

__ADS_1


Aira tahu, karena itulah seorang ibu punya derajat tiga tingkat lebih tinggi di banding ayah, namun baru sekarang Aira benar-benar memahami kenapa seorang ibu mendapatkan kemuliaan yang begitu tinggi. Karena tidak mudah, bahkan sangat sulit menjadi seorang ibu. Dimana perjuangannya tak selesai hanya setelah ia melahirkan, belum selesai saat ia menyapih anaknya setelah dua tahun menyusui. Tugasnya takkan pernah selesai sampai ia menutup mata.


"Ummi..." hanya satu itu yang menari dalam benak Aira.


"Bismillah, Sayang. Kamu bisa, Humaira." hanya kata-kata seperti itu yang bisa Arsyad ucapkan untuk menyemangati sang istri.


Sementara Dokter terus meminta Aira mengejan apalagi saat mereka melihat kepala bayi yang sudah terlihat.


Aira meraskan sakit yang tak terkira, bahkan tubuhnya seperti terbelah menjadi dua. Seluruh tubuhnya sudah berkeringat dan lemas tak bertenaga.


Susana ruangan begitu mencekam, semua begitu tegang saat menanti detik-detik lahirnya bayi Aira ke dunia.


Aira menggenggam tangan Arsyad dengan sangat kuat saat ia mengejang sekuat tenaga hingga akhirnya terdengar suara tangis bayi yang menggelegar dalam ruangan persalinan itu.


Bayi itu menangis nyaring, namun orang di sekitarnya tertawa senang.


Sementara Aira hanya bisa tersenyum lemah, dan air mata yang tadi berlinang karena menahan sakit, kini berlinang karena ia begitu terharu saat Dokter memperhatikan bayinya yang masih di penuhi darah itu.


Arsyad pun tak bisa membendung air mata bahagianya saat ia melihat putra pertamanya. "Terima kasih, Sayang. Kamu memberikanku seorang pangeran yang sangat tampan," bisik Arsyad kemudian ia mengecup kening Aira penuh cinta, hingga kening Aira basah karena air mata Arsyad.


Aira hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sang suami.

__ADS_1


Sempurna, ia merasa kini hidupnya sudah sempurna, suami, putra dan putri sudah ia miliki. Namun Aira tahu, takkan ada kebahagiaan yang sempurna di dunia ini.


Dulu ia di uji sebagai seorang anak dan mungkin Aira mampu melewatinya, kemudian ia di uji sebagai seorang istri, dan sepertinya ia mampu melewatinya. Dan sekarang, ia pasti akan di uji sebagai seorang ibu. Bisakah ia menghadapinya?


***


"Kek, kapan adik bayinya keluar?" Tanya Via yang saat ini duduk di pangkuan kakeknya.


Sementara Ummi Firda terus mondar mandir sejak tadi di depan ruang persalinan Aira. Ia menyeka air mata yang sejak tadi terus mengalir tanpa bisa cegah.


"Sayang, jangan terlalu cemas. Aira dan cucu kita pasti akan selamat, insyaallah," kata Abi Gabriel.


"Aku takut, Bi. Aku cemas," kata Ummi Firda. Terbayang kembali dalam benaknya saat ia melahirkan kedua anaknya. Sungguh itu adalah ujian yang luar biasa berat karena taruhannya hanya hidup dan mati.


Tak lama kemudian Dokter datang dan memberikan kabar gembira tentang kelahiran putra Aira, seketika Ummi Firda langsung melakukan sujud syukur saking bahagianya.


Abi Gabriel pun tampak sangat bahagia, ia terus mengucap hamdalah kemudian dia memeluk sang istri.


"Cucu kedua kita, Sayang. Laki-laki, Alhamdulillah. Bertambah satu pangeran kita."


TBC...

__ADS_1



__ADS_2