
Lahore, Islamabad
Aira mondar mandir di kamarnya sembari memegang ponselnya, ia ingin menghubungi Hulya karena memang sudah lama sekali ia tak berbicara dengan Hulya. Namun entah mengapa Aira merasa gugup, ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul 1 siang . Itu artinya hari sudah sore di Indonesia.
"Huff..." Aira menghembuskan napas kasarnya dan ia pun mencoba menghubungi Hulya, namun tak ada jawaban. Sekali lagi Aira mencobanya, masih tak ada jawaban.
Aira pun mengirimkan pesan, memberi tahu bahwa itu adalah dirinya karena memang terkadang Hulya mengabaikan telfon jika dari nomor yang tak di kenalnya.
Kini Aira sudah berada di Lahore, dan dua hari lagi Jibril beserta tiga temannya akan pulang ke Indonesia, sementara Aira dan Via akan tetap disana seperti keinginan Aira, sampai Aira melahirkan.
Tak lama kemudian Via datang memanggil Aira untuk makan siang Aira pun keluar dan ia melihat sudah ada banyak makanan di meja makan.
"Kok banyak makanan, Kak? Pesan dimana?" tanya Aira. Jibril sudah membuka mulut untuk menjawab namun tiba-tiba terdengar suara lantang Javeed yang memanggil Via.
"Via...!"
"Om bawa...."
Aira terkejut karena ia tak memakai cadar, begitu juga dengan Javeed yang tercengang saat melihat wajah Aira untuk pertama kalinya. Detak jantung Javeed seolah berhenti, ia menahan napas dan ia tak mampu berkedip barang sedikit saja. Aira pun langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil cadarnya.
Javeed datang dengan membawa nampan besar yang berisi satu ekor ayam panggang yang berukuran sangat besar.
"Wah, bisa buat makan seminggu itu, Om!" Seru Via takjub yang mengembalikan kesadaran Javeed.
"Mata! Di jaga mata!" seru Jibril kesal.
"Lah, emang aku salah?" Tanya Javeed sambil menahan senyum karena ia memang tidak salah.
**
__ADS_1
Jakarta, Indonesia.
Hulya hanya melirik ponselnya sekilas kemudian mengabaikan panggilan dari nomor asing itu, apalagi saat ini Hulya sedang berada di rumah mertuanya karena adik iparnya akan menikah. Hulya sudah berada di rumah mertuanya sejak dua hari yang lalu, apalagi Fahmi yang belum bisa datang karena sibuk mengurus restaurant.
Sementara di sisi lain, Abi Gabriel dan Ummi Firda sudah bersiap pergi. "Tanvir jangan nakal ya, Nak. Belajar yang bener," kata Ummi Firda sembari mencium pipi tembem Tanvir dengan gemas.
"Ummi, dua hari lagi Jibril pulang, aku mengkhawatirkan Aira. Kenapa Ummi nggak suruh Jibril di sana aja? Nemenin Aira sampai Aira mau pulang lagi," kata Micheal.
"Jibril kan juga punya pekerjaan di sini, Micheal. Selain itu, Aira pasti bisa jaga diri kok, nanti kami juga akan kesana kalau Aira sudah mau melahirkan," jawab Ummi Firda.
"Iya sih, aku cuma khawatir aja. Dia hamil, nggak ada suaminya, kita juga nggak ada buat dia. Ck, apa aku pindah aja ke Pakistan biar bisa jaga Aira."
"Sudahlah, itu sudah keputusan Aira. Artinya Aira siap dengan hidup yang dia pilih," sambung Abi Gabriel. "Ayo, Sayang. Ini sudah sore, kita harus sampai di rumah sebelum malam."
Micheal dan Zenwa mengantar mereka sampai ke mobil, tak lupa Ummi Firda memperingatkan Micheal agar tak membicarakan apapun dengan Aira.
Setelah mereka pergi, ada mobil lain yang datang dan raut wajah Micheal yang tadinya tenang kini berubah tegang dan tatapannya berapi-api saat melihat siapa yang datang.
"Kami... Kami ingin bertemu dengan orang tuamu." Micheal tersenyum sinis mendengar ucapan dari wanita paruh baya di depannya ini, kemudian tatapan Micheal tertuju pada wanita yang satunya, yang menatap Micheal dengan takut.
"Anggun yang nggak anggun, ngapain kamu sama mama kamu kesini, huh?" desis nya yang langsung mendapatkan teguran dari Zenwa.
"Mas..."
Anggun dan Bu Husna hanya bisa menelan ludah mendapatkan perlakuan demikian dari Micheal. "Ada yang ingin kami bicarakan," cicit bu Husna.
"Nggak ada yang ingin kami dengar," Balas Micheal dingin. "Jadi sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum satpam menyerat kalian pergi!" usir Micheal.
"Aku kesini hanya untuk menyampaikan apa yang menjadi keinginan Ummi Ridha!" seru Anggun kemudian yang langsung mendapatkan tatapan penuh intimidasi dari Micheal, bahkan Micheal mendekatinya dan itu membuat Anggun melangkah mundur secara perlahan.
__ADS_1
"Apa lagi yang dia mau? Dia sudah ada di perut bumi!" Anggun kembali menelan ludah nya dengan kasar, ia tak pernah menyangka ternyata Aira memiliki seorang Kakak yang sangat menyeramkan ketika marah.
"Ayo bilang! Dia mau apalagi?" Desak Micheal.
"Mas..." Hulya mencoba menghentikan suaminya itu.
"Dia... Dia ingin Aira dan Arsyad bersama kembali karena dia tahu mereka saling mencintai!" ucap Anggun dalam satu tarikan napas.
Micheal terdiam sejenak mendengar apa yang di katakan wanita yang telah merusak kebahagiaan adiknya itu, namun di detik selanjutnya Micheal justru tertawa sinis yang membuat Bu Husna dan Anggun semakin merasa takut.
"Kamu fikir adikku apa? Robot yang di ciptakan untuk memenuhi semua keinginan orang lain?" Sinis Micheal. "Atau budak yang harus selalu patuh pada keinginan orang lain?"
"Tapi itu menjadi keinginan terakhirnya," ucap Bu Husna kemudian yang kembali membuat Micheal tertawa.
"Semua yang dia mau adalah keinginan terakhirnya?" Micheal kembali berkata dengan sinis. "Dia meminta Arsyad menikahimu sebagai keinginan terakhirnya? Dan sekarang dia meminta Arsyad kembali pada Aira juga keinginan terakhirnya? Dia sudah mati tapi masih punya keinginan lagi?" bentak Micheal yang membuat Anggun dan Bu Husna terlonjak.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini! Aku nggak punya waktu untuk mendengarkan omong kosong kalian!" Kembali Micheal mengusir kedua wanita itu namun mereka masih tak bergeming.
"Aku ingin bertemu dengan orang tuanya Aira, aku ingin berbicara dengan mereka," ucap bu Husna.
"Kalian mau meminta Aira pada orang tua kami?" Tanya Micheal dengan senyum yang penuh ejekan. "Silakan! Kalian fikir orang tua kami akan dengan bodoh nya memberikan Aira pada orang yang sudah membuang dia?" setelah mengucapkan hal itu, Micheal menarik Zenwa masuk namun langkahnya di hentikan oleh Anggun.
"Arsyad nggak pernah buang dia!" seru Anggun dengan suara yang gemeotar, jari-jarinya saling bertaut erat, tatapan matanya tidak fokus. "Arsyad nggak tahu Aira hamil, aku yang membalas pesan Arsyad waktu itu."
Micheal dan Zenwa tercengang, mereka berdua menatap Anggun yang kini juga menatap mereka dengan begitu memelas. "Aku minta maaf, aku tahu aku salah dan sekarang aku benar-benar menyesal," lirih Anggun yang kembali berderai air mata.
Micheal dan Zenwa masih membisu, tak tahu harus percaya atau tidak dengan apa yang Anggun ucapkan.
"Arsyad nggak pernah membaca apalagi membalas pesan Aira saat itu, itu semua aku yang melakukannya karena aku merasa sakit hati Arsyad menceraikanku."
__ADS_1
"Terus kami harus percaya, begitu?" Sinis Micheal lagi. "Bodoh sekali! Pergi kalian dan silakan urus Arsyad kalian itu! Aira sudah hidup tenang bersama Via, dia nggak butuh laki-laki pengecut dan bodoh seperti Arsyad!"