
"Aku selalu berdo'a agar bisa memilikimu hingga ke akhirat nanti, aku nggak mau bidadari yang lain karena bagiku kamu lah bidadariku."
"Kamu sangat mencintaiku, Mas?"
"Sangat, Sayang."
"Tapi terkadang, Allah mengambil apa yang paling kita cintai untuk menguji keimanan kita dan tingkat cinta kita pada-Nya. Seperti Nabi Ibrahim yang harus di uji dengan di haruskannya ia mengorbankan putra tercintanya. Dia kuat, tapi entahlah bagaimana dengan kita."
Perlahan Arsyad membuka matanya yang terasa begitu berat, sayup-sayup ia mendengar suara-suara yang memanggilnya.
Arsyad seolah terikat dalam kegelapan dan ia berusaha terlepas darinya.
Perlahan Arsyad membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat hanyalah langit-langit kamarnya yang putih. Arsyad berkedip beberapa kali guna mempertajamkan penglihatannya yang masih begitu rabun dan berbayang.
Dan sayup-sayup ia mendengar suara beberapa pria juga langkah yang mendekat ke arahnya
"Tuan Emerson memintaku datang secepatnya dan ini adalah secepat yang aku bisa. Aku harap belum terlambat."
"Keadaan pasien mengalami kemajuan setiap
hari dan itu adalah sebuah keajaiban. Saat kami menangangani pasien di ruang operasi,
harapan kami begitu tipis namun kami bisa merasakan pasien juga berjuang untuk
bertahan. Harapan kami hanyalah pasien yang punya harapan. "
"Kau bilang pasien mengalami benturan
keras di kepalanya?"
"Benar, kemungkinan besar pasien akan lumpuh sementara, namun pemeriksaan lanjut belum kami
lakukan sampai pasien sadar sepenuhnya dari komanya. Sejauh ini, pasien seolah hanya setengah sadar dan itu dia terus memanggil nama seseorang, Aira. Aku dengar dia istri pertamanya."
"Aira? Zeda Humaira Emerson?"
"Aku tidak tau nama panjangnya, dia hanya menyebut nama Aira dan dia berpengaruh sangat kuat untuk kesembuhan pasien."
Pintu kamar Arsyad terbuka dan perlahan
Arsyad berusaha menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang , hatinya
sangat berharap itu adalah Aira namun Arsyad harus menelan kekecewaan ketika ia
menyadari yang datang hanya dua orang Dokter dan Suster.
"oh Tuhan! Pak Arsyad, akhirnya
__ADS_1
kau membuka mata." Pekik Dokter senang saat melihat Arsyad yang sudah membuka mata walaupun masih terlihat begitu lemah.
Arsyad di tangani oleh Dokter Satyo
selama ini dan hari ini Dokter Patrick, yang merupakan teman Abi Gabriel yang sudah bekerja di Amerika sejak lama datang untuk menangani Arsyad.
Dokter Patrick baru saja mendarat dan ia langsung ke rumah sakit untuk menangani Arsyad sesuai permintaan Abi Gabriel.
"Apakau mendengarku, pak Arsyad?" Tanya Dokter Satyo dan Arsyad hanya berkedip lemah.
Arsyad menutup matanya dan kembali air mata mengalir saat ia teringat dengan apa yang
terjadi sebelum ia terjebak pada kegelapan yang membelenggunya selama ini. Arsyad masih ingat dengan jelas bagaimana ia dan Anggun berdebat malam itu yang pada akhirnya Anggun mendorongnya, dan setelah itu, Arsyad tak ingat apapun lagi, ia hanya merasa berada di suatu tempat yang sempit, gelap dan asing, namun Arsyad bisa merasakan keberadaan Aira disana.
Dokter memberi tahu Arsyad bahwa Arsyad koma
selama sebulan dan itu membuat Arsyad terkejut, Dokter pun melakukan pemeriksaan secara
menyeluruh untuk mengetahui kondisi Arsyad.
"Ummi…" lirih Arsyad kemudian karena
tak ada siapapun yang ada di sampingnya saat ia membuka mata.
Sementara di luar ruang rawat Arsyad ,
menampakaan diri pada Arsyad setelah apa yang terjadi.
Anggun merasa begitu lega dan bahagia
karena Arsyad kini sudah sadar, ia bahagia namun juga sedih karena kini sudah
saatnya dirinya pergi. Sudah tak ada harapan lagi dan ia pun tak mau lagi berharap akan sesuatu yang semu, menyakitkan, dan rasanya tak mungkin.
Anggun menyeka air mata yang membasahi
pipinya kemudian ia mengirimkan pesan pada Fahmi, member tahu bahwa Arsyad sudah sadar.
Sementara di sisi lain, kedua bola mata Fahmi
langsungg terbuka lebar saat membaca pesan Anggun, ia langsusng bergegas ke rumah sakit dan tak lupa ia mengabari Aira tentang keadaan Arsyad.
Anggun pulang ke rumahnya dan kali ini raut wajahnya tampak berbeda, seolah ada beban yang berhasil terangkat dari pundaknya.
Anggun memberi tahu orang tuanya bahwa Arsyad sudah bangun dan kedua orang tuanya itu langsung mengucap syukur. Namun mereka juga cemas memikirkan apa yang akan mereka katakan pada Arsyad tentang Ummi Ridha, di tambah mereka juga cemas memikirkan kemungkinan Arsyad yang pasti membenci Anggun, mereka juga takut Arsyad kembali membawa kasusnya ini ke pengadilan.
"Nggak akan, Ma," kata Anggun sambil tersenyum tipis. "Aku yakin mas Arsyad nggak akan membawa kasus ini ke jalur hukum, meskipun mungkin dia membenciku tapi dia nggak mungkin tega menjebloskan aku ke penjara sementara aku sedang hamil anaknya."
__ADS_1
"Aamiin, itu yang selalu kami harapkan, Anggun," ucap bu Husna.
Anggun menghela napas berat, ia menatap kedua orang tuanya itu bergantian. "Ini salahku, Ma, Pa. Jangan lagi menyalahkan mas Arsyad atas apa aku alami selama ini." sekali lagi Anggun menarik napas, seolah ia begitu berat untuk mengungkapkan perasaannya. "Aku akan pergi dari sini, pergi dari hidup dia."
"Kamu gila?" pekik Pak Arif. "Bagaiamana pun juga kamu hamil anak Arsyad, Anggun. Kenapa kamu harus pergi? Apa kata orang nanti kalau kamu hamil tanpa suami? Nanti orang akan berfikir kamu hamil di luar nikah!" seru pak Arif yang tak setuju dengan keputusan Anggun.
"Aku tahu, Pa. Tapi keberadaanku di sisinya bukan hanya menyakiti mas Arsyad tapi juga menyakiti diriku sendiri. Lagi pula, apa bedanya aku disini atau di tempat lain? Arsyad akan selalu menjadi ayah dari anakku tapi dia nggak akan pernah menjadi pasanganku." Anggun langsung beranjak dari duduknya. "Aku sudah memesan tiket, malam ini aku akan pergi."
...🌱...
^^^Lahore, Pakistan.^^^
"Habis ini Via susun mainanannya ya, Sayang. Via harus belajar mandiri," kata Aira yang memperhatikan anaknya bermain di lantai itu.
"Iya, Ummi." Via menjawab tanpa menatap Aira karena Via sedang fokus melukis.
Aira duduk di sofa, menyalakan TV dan saat hendak rebahan di sofa, ponselnya berdering.
Aira langsung menyambar ponselnya yang berdering dan ia langsung menjawab panggilan yang masuk dari Fahmi karena ia memang selalu menunggu kabar dari Fahmi tentang Arsyad.
"Assalamualaikum..." sapa Aira dengan harap-harap cemas.
"Aira, Arsyad sadar." Arsyad terhenyek, ia terdiam dan memegang dadanya yang berdebar saat mendengar kabar itu dari Fahmi. "Aira, kamu mendengarku? Arsyad sudah sadar, aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit sekarang." ulang Fahmi namun bibir Aira masih bungkam, tak mampu bersuara namun tatapannya juga air yang mengalir di pipinya sudah menjawab bahwa ia sangat terharu mendengar kabar itu.
**TBC...
...🌱🌱🌱...
^^^Assalamualaikum semuanya 😍^^^
SkySal mengadakan give away ke dua neh.
Tapi kali ini ada yang berbeda.
Hanya akan ada 1 pemenang dengan hadiah pulsa sebesar 100. 000 rupiah.
Syaratnya gampang banget, berikan gift sebanyak mungkin ke Novel Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
Dan jika kamu berhasil mendapatkan julukan DIAMOND fans, maka kamu berhak mendapatkan pulsa 100.000.
Tapi bagaimana jika hanya GOLD Dan tidak ada yang mencapai DIAMOND Fans? Maka hadiahnya pulsa 50.000
Kerena kan?
Yuk, semangat dukung Novel MAHLIGAI CINTA ZEDA HUMAIRA EMERSON karena kamu berpeluang mendapatkan hadiah besar loh 😍😍💋💋💋**
__ADS_1
... ...