
"Aap Kahan ja rahey ho? mein ap sy bat karna chata houn abhi meri bat khatm nahi howi!"
...(Kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara)...
"Maaf kijey, Ami. mein ja raha houn."
...(Maaf, Ma. Tapi aku mau pergi dulu)...
"Javeed, Meri baat suno, yaar... Javeed!"
...(Javeed, dengerin dulu. Javeed!"...
Pria yang di panggil Javeed itu justru masuk ke dalam mobilnya begitu saja. Aira yang melihat itu merasa kasihan karena sepertinya sang ibu sedang sangat kesal.
Jibril dan Aira di sambut dengan sangat hangat oleh keluarga Om Sahir, istrinya yang bernama Suriya pun menyajikan makanan khas Pakistan pada mereka, Biryani. Namun sayangnya Via justru enggan makan karena makanan itu asing baginya.
"Ini enak, Sayang," bujuk Aira namun Via tetap menggeleng dan menutup mulutnya rapat-rapat saat saat Aira hendak menyuapinya.
"Jadi Via mau makan apa?" Tanya Jibril kemudian.
"Mau roti kayak yang di rumah," cicit Via sambil bergelanyut manja pada Aira.
"Nanti ya, Sayang. Ummi lagi capek banget," ucap Aira berharap anaknya itu mengerti namun Via justru cemberut dan tampak hendak menangis.
"Ada toko roti di dekat sini, biar aku belikan," kata Om Sahir.
"Jangan, Om," cegah Jibril sungkan.
"Nggak apa-apa, Jibril. Dekat kok, anak-anak kadang memang begitu, nggak suka dengan makanan yang asing bagi mereka."
"Jangan, Om. Biar nanti kami yang beli," sambung Aira.
"Tapi Via pasti lapar," kata tante Suriya.
"Via masih kenyang, tadi sudah makan di pesawat," sambung Via. "Via cuma pengen makan roti aja, nggak mau makan itu."
"Ya udah, nanti kita beli sama-sama."
"Biar nanti Nida yang antar," sambung Nida.
Mereka pun melanjutkan makan siang mereka dan setelah selesai, Nida mengantar mereka ke toko roti.
Awalnya Jibril menyuruh Aira istirahat saja di rumah namun Aira ingin tahu tokonya.
Sesampainya di toko, Via langsung memilih beberapa roti yang kelihatan enak sekali. Aira yang tadinya sudah kenyang pun terasa lapar kembali saat melihat roti itu dan ia yakin ini pasti bawaan bayinya.
Saat Aira mengambil satu roti, tiba-tiba ada orang lain yang mengambil roti itu dari tangan Aira.
__ADS_1
"Mas, kan saya duluan yang ambil..." seru Aira kesal karena orang itu justru memakan rotinya sambil tersenyum pada Aira, tak hanya itu, ia juga mengedipkan matanya pada Aira yang membuat Aira melongo. Namun kemudian Aira teringat ia di pakistan dan pria di depannya ini pasti tidak mengerti bahasanya.
"It's okay, Sir. But next time, please respect women!" Seru Aira tajam kemudian ia mengambil roti yang lain.
Hormon kehamilannya membuat Aira sensitif dan mudah sekali memancing emosinya. Sementara pria itu justru tersenyum pada Aira sembari menikmati rotinya, ia terus menatap Aira apalagi saat Aira menggerutu tanpa henti.
"Dasar aneh! Nggak ada akhlak, emang nggak ada roti lain apa? Kenapa harus ngambil dari tangan aku? Astagfirullah, kalau aja nggak dosa, udah aku caci maki orang ini. Astagfirullah, astaghfirullah..."
"Ada apa?" Tanya Jibril dengan kening berkerut saat melihat sang adik kesal.
"Nggak apa-apa," jawab Aira ketus.
Ia pun segera mengambil beberapa roti kemudian mengajak Jibril membayar ke kasir, dan saat Jibril hendak membayar, tiba-tiba pria yang tadi datang.
"Itu gratis untuk pendatang baru!" Aira langsung melotot saat mendengar pria itu lancar menggunakan bahasa Indonesia.
"Terutama untukmu, Meri Jan (Sayang)." pria itu berkata pada Via sembari mencubit pipi Via dengan gemas.
"Om, namaku bukan Meri Jan, tapi Via, Livia," ralat Via yang membuat pria itu tertawa gemas.
"Panggil aja aku Chacha Javeed."
"Chacha? Om kan laki-laki, kok namanya perempuan?"
Javeed kembali tertawa ucapan Via itu. "Chacha dalam bahasa Urdu artinya Paman," ucapnya namun matanya kembali melirik Aira.
"Anak-anak tidak boleh berbicara dengan orang asing kalau tidak di awasi orang tua. Kan kamu mendampinginya, Nona Emerson." Aira terkejut mendengar Javeed menyebutkan nama belakangnya, begitu juga dengan Jibril.
Namun tiba-tiba Javeed menyerahkan dompet Aira. "Untung saja aku yang menemukannya di luar toko." Aira langsung menyambar dompetnya dan memeriksa isinya, hal itu membuat Javeed terkekeh. 'Aku nggak akan mengambil isinya, Nona Emerson."
"Nyonya..." sambung Aira. "Aku sudah menikah." ia berkata dengan tegas apalagi tadi Javeed sempat mengedipkan mata padanya, ia bisa merasakan aura yang tak baik pada Javeed.
"Aku tahu, kau sudah melahirkan satu anak cantik." Aira melirik Jibril dan ia menggandeng tangan Jibril, berharap Javeed mengira Jibril lah suaminya namun harapannya tak terjadi. "Kalian saudara, 'kan? Kenapa kamu nggak datang sama suami kamu?" Tentu saja Javeed tahu bahwa Jibril adalah saudara Aira karena tadi ia sempat mendengar Via memanggilnya Om.
"Jaga bicaramu, Tuan!" Seru Jibril.
"Maaf jika aku menyinggung." Javeed berkata sembari membungkus roti yang sudah di pilih Aira kemudian ia memberikannya pada Aira. "Gratis!" imbuh Javeed.
"Kami mampu bayar," ucap Aira.
"Peraturan di toko ini begitu, No- Nyonya... Nyonya Emerson, aku ingin berbagi dengan orang dari negaraku."
"Terima kasih," sela Jibril yang tak ingin perdebatan ini berlangsung lebih lama. Apalagi ia melihat mata Aira sudah terlihat sangat lelah.
Jibril mengambil roti itu kemudian menarik Aira, Nida dan Via pergi dari sana.
"Kamu kenapa, Dek? Baru kali ini kaka lihat kamu sensi begitu sama orang," kata Jibril.
__ADS_1
"Orang tadi itu bikin kesal, Kak. Masak dia ngambil roti dari tanganku?" Gerutu Aira.
"Namanya Javeed, Kak. Dia pemilik toko kue itu," sambung Nida.
"Dia bisa bahasa Indonesia?"
"Bisa lah, mereka baru pindah kesini tiga tahun yang lalu."
"Ohh..."
...----------------...
Indonesia
"Sudah beberapa hari ini di rumah Micheal nggak ada orang, apa mereka ke desa?" gumam Arsyad sembari menemani Jihan menggambar.
Saat ini Arsyad sedang bersama Fahmi menjaga Jihan karena Hulya sedang menemani Mama nya ke Dokter gigi.
"Bisa jadi, atau mereka liburan," kata Fahmi.
"Tapi perasaanku nggak enak, kalau sampai Micheal pulang lama ke desa, apa mungkin terjadi sesuatu disana? Bagaimana jika Aira..."
"Akhir-akhir ini kamu sering berfikir negatif, Arsyad. Nggak akan terjadi sesuatu pada Aira, dia tinggal bersama keluarganya."
Arsyad hanya bisa menghela napas, semakin hari ia semakin sulit melupakan Aira. Bahkan, semakin hari kerinduannya pada Aira semakin besar dan membesar, hingga membuat hati Arsyad terasa sesak.
"Lebih baik kamu susul dia ke desanya, biar hati kamu tenang. Bilang aja kamu kangen sama Via."
"Aku juga maunya begitu, tapi entah kenapa aku seperti nggak siap ketemu Aira."
"Ya harus siap, Arsyad. Sekalian kamu bilang sama Aira kalau kamu sudah menceraikan Anggun, siapa tahu setelah itu kamu bisa rujuk sama Aira."
"Mati..." seru Jihan tiba-tiba yang membuat Arsyad dan Fahmi langsung menatapnya.
"Astagfirullah, itu hpnya Om Arsyad, kenapa kamu mainin, Jihan?" Tanya Fahmi kesal, ia langsung mengambil ponsel Arsyad yang entah sejak kapan di mainkan oleh Jihan padahal tadi anak itu sibuk menggambar.
"Mungkin dia nggak sengaja matiin, nggak usah di marahin," ucap Arsyad sambil menyalakan ponselnya namun ia tercengang saat melihat ponselnya yang bersih.
"Kenapa semuanya ke hapus?
**TBC...
...----------------...
...Halo semuanya, terima kasih buat semua yang sudah setia mengikuti kisha cinta Aira sejauh ini. Dan jauh sebelum Novel ini launching, aku sudah kasih pengumuman bahwa Novel ini SEQUEL MANDIRI yang artinya TIDAK ADA HUBUNGANYA DENGAN NOVEL YANG LAIN. TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA. Kehadiran Javeed pun bukan melanjutkan kisah dari MAKMUM PILIHAN MICHEAL EMERSON, tapi hubungan Aira di sini semuanya di mulai dari nol, baik dengan Arsyad maupun dengan Javeed. Walaupun begitu, aku bisa pastikan novel ini tetap akan membuat kalian BAPER 😍. Mau bukti? yuk, kita buktikan bersama dengan mengikuti terus MAHLIGAI CINTA ZEDA HUMAIRA EMERSON INI. ...
...Thank you and I love you all 😍😘**...
__ADS_1