
"Kamu hebat, Ai. Benar-benar hebat, wanita pilihan, wanita istimewa." Hulya tak henti-hentinya memuji sahabatnya itu yang katanya, lolos dari badai. Sementara Aira hanya terkekeh menanggapi kehebohan Hulya, apalagi saat ia melihat baby Ali secara langsung untuk pertama kalinya. Hulya begitu mengagumi anak itu bahkan ia berkata kalau sekarang ia ingin punya bayi lagi.
"Alhamdulillah, Hul. Pertolongan Allah jauh lebih besar dan lebih kuat dari badai yang datang menerpa," kata Aira sambil menimang sang putra yang sedikit merengek karena mengantuk.
"Iya sih, Ai. Dan rupanya janji Allah benar-benar di tepati ya pada hamba-Nya yang sabar."
"Insyaallah."
"Kalau aku jadi kamu, Ai. Uh, jangankan sabar, Ai. Yang akan terjadi hanya di antara dua hal, aku mati atau membunuh." Aira meringis mendengar ucapan Hulya yang terkadang memang berlebihan itu. Namun Hulya juga benar, jika saja Aira mengikuti nafsunya saat itu, mungkin dia akan melakukan tindakan yang merugikan. Namun Aira sangat beruntung karena ia memiliki keluarga yang selalu mendukungnya, menguatkannya.
Sementara itu, Fahmi dan Arsyad justru sibuk membicarakan bisnis mereka. Saat ini mereka berada di halaman samping rumah karena mereka tak kuat mendengar obrolan para wanita di dalam.
Fahmi mengatakan semakin hari restaurant Arsyad akhir-akhir ini sangat ramai, bahkan sering sekali pengunjung tak menemukan tempat sehingga mereka harus memesannya lebih dulu.
"Aku rasa kita harus buka cabang lagi, Syad." saran Fahmi.
"Inysaallah nanti kita buka cabang, aku rasanya masih nggak percaya restaurant sampai ramai begitu, padahal dulu nggak pernah pengunjung nggak menemukan tempat meskipun sangat ramai," tutur Arsyad.
"Aku rasa baby Ali bawa rezeki," ujar Fahmi sambil tertawa kecil. "Karena semenjak kelahiran dia, restaurant ramai terus, apalagi kalau akhir pekan. Kami sering kehabisan stok bahan-bahan, kami juga harus merekrut pelayan dan chef baru, mereka semua kewalahan."
"Iya, kamu tambah saja karyawan, Fahmi. Kasihan juga mereka kalau sampai kewalahan, pasti capek juga kalau setiap hari harus bekerja non stop."
"Jadi, kapan kamu akan membuka cabang yang baru?"
"Nanti kita fikirkan lagi, aku juga masih mau bicara sama Aira. Aku mau minta pendapat dia soal ini." Fahmi mengangguk mengerti.
Tak berselang lama bi Sri datang mengantarkan teh dan cemilan untuk mereka. "Bi, Hulya sama Aira masih ngobrol?" tanya Fahmi sambil melirik arloji nya, hari sudah sore dan ia ingin kembali ke restaurant.
"Masih, Tuan. Mereka ngomongin..." Bi Sri setengah berbisik sambil menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Ngomongin apa?" Tanya Fahmi penasaran.
"Katanya, kalau dia ada di posisi Nyonya Aira. Yang terjadi hanya dua hal, mati atau membunuh," bisik Bi Sri sambil meringis ngeri. Arsyad dan Fahmi yang mendengar itu melongo. "Memangnya, maksud Nyonya Hulya apa ya, Tuan? Kok bisa sampai mau membunuh atau mati?" Tanya Bi Sri penasaran yang langsung membuat Arsyad berdiri dari kursinya.
"Aku ke dalam dulu sebentar, mau ambil air putih," kata Arsyad.
Sementara Fahmi hanya bisa garuk-garuk kepala sambil cengengesan, membuat Bi Sri mengernyit bingung.
"Bi, tolong bawakan teh kami ke dalam, ya. Aku mau lihat baby Ali," ujar Fahmi kemudian ia segera bergegas masuk ke dalam. Bi Sri hanya mengedikan bahu.
"Sayang, pulang yuk. Aku mau ke restaurant," ajak Fahmi.
"Tunggu sebentar, aku sama Aira masih mau ngobrol, Mas. Atau kamu ke restaurant aja dulu. Nanti jemput kami kesini," pinta Hulya.
"Iya, Jihan juga masih main sama Via," sambung Aira.
Saat Fahmi pergi, Aira dan Hulya kembali melanjutkan gosip mereka. Bahkan mereka seolah lupa waktu dan anehnya, mereka selalu menemukan topik untuk terus melanjutkan acara gosip itu.
Jihan dan Via masih sibuk bermain sambil bertukar cerita, sementara Arsyad hanya bisa menjadi pendengar dan penonton para wanita beda generasi itu.
Arsyad tersenyum saat melihat Aira yang tertawa bersama Hulya, ia hampir tak percaya kini ia bisa kembali menjalani kehidupan bersama Aira setelah badai besar dalam hidup mereka. Dan kini hidupnya lebih berwarna dari sebelumnya dengan adanya Via dan baby Ali.
Saat Aira dan Hulya asyik mengobarol, Arsyad menyela dan memberi tahu mereka tentang rencananya dan Fahmi yang akan kembali membuka cabang restaurant.
"Menurut kamu bagaimana, Sayang? Kata Fahmi akhir-akhir ini restaurant sangat ramai, bahkan untuk tempat mereka harus booking dulu. Padahal dulu nggak gitu loh," kata Arsyad.
"Alhamdulillah kalau sekarang sampai seramai itu, Mas," ucap Aira. "Dan kalau memang di perlukan, benar kata Fahmi, buka cabang baru."
"Bagaiamana kalau nanti nama restaurantnya kasih nama baby Ali aja, Sayang? Ali Ajwad resto," saran Arsyad.
__ADS_1
"Boleh, Mas. Ide bagus," sahut Aira antusias. "Menurut kamu bagaimana, Hul?"
"Keren, Ai. Aku setuju," jawab Hulya. "Kalau saja mas Fahmi ngizinin, aku pengen kerja di restaurant baru kalian, tapi mas Fahmi nggak ngizinin aku bekerja tetap, Ai."
"Ikuti aja apa kata suami selama dia menafkahi kamu dengan sempurna," kata Arsyad.
"Iya, Hul. Fahmi melarang kamu pasti demi kebaikan kamu juga, kalau kamu kerja di luar, habis itu ngurus anak dan suami, pasti kamu kelelahan." Hulya mengangguk mengerti, karena apa yang di katakan Aira memang benar. Fahmi sudah memberi tahunya alasan ia melarang Hulya bekerja. Namun Fahmi tak pernah melarang Hulya melakukan sesuatu yang lain selama itu tidak membuat tugas Hulya terbengkelai sebagai istri dan ibu. Namun jika harus fokus pada pekerjaan tetap, besar kemungkinan perhatian Hulya terbagi banyak.
"Makasih ya, kalian udah ingetin aku," kata Hulya kemudian.
"Sama-sama, 'kan kita teman, saling mengingatkan," kata Aira sambil tersenyum.
***
Kembalinya Arsyad dan Aira ke rumah lama mereka cukup membuat para tetangga terkejut, apalagi Aira yang membawa seorang bayi. Bahkan, beberapa dari mereka menduga itu adalah bayi Anggun yang mungkin akan di rawat Arsyad dan Aira. Karena mereka memang tak tahu bahwa Aira hamil.
Mereka bahkan mengatakan Aira menggantikan posisi Anggun, merebut posisinya bahkan merebut anaknya.
Gosip itu seperti percikan api di jerami, begitu cepat menyulut dari satu mulut ke mulut yang lain. Hingga akhirnya gosip itu sama pada telinga Aira dan Arsyad.
Arsyad terkejut dan marah, ia bahkan sudah bersiap untuk melabarak para tetangganya itu agar tak membicarakan hal buruk tentang Aira. Arsyad bisa menerima apapun yang orang katakan tentangnya tapi tidak jika tentang Aira.
"Mereka keterlaluan, Sayang." Arsyad berseru penuh emosi namun Aira tetap terlihat tenang.
"Lebih baik kita undang mereka makan malam nanti malam, semuanya. Untuk mendoakan Maita, Mas. Bagaimana?" Saran Aira. Arsyad terdiam sejenak, ia masih emosi dan tak bisa berfikir dengan bijak saat ini. "Mas, nggak mungkin juga kita menjelaskan pada mereka dengan rinci tentang hidup kita, mereka akan tetap bergosip di belakang kita. Biarkan mata hati mereka terbuka dengan sendirinya."
"Baiklah, terserah kamu saja," kata Arsyad pasrah. "Tapi bagaimana jika setelah ini mereka masih berfiikir buruk tentang kamu?"
"Itu hak mereka dan urusan pribadi mereka."
__ADS_1