Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #71 - Masih Karena Cinta


__ADS_3

"Dia adalah masa lalu yang sudah seharusnya aku kubur..." Aira menyeka air matanya yang mengalir begitu saja di pipinya, ia menggigit bibirnya yang bergetar.


Tak ada suara dari seberang telfon, seolah Hulya sengaja memberikan ruang untuk Aira agar mengeluarkan apa yang selama ini tertahan di hatinya.


Sementara Aira masih berusaha menahan gemuruh di dadanya. Arsyad, satu nama yang mampu menjungkir balikan dunianya, yang mampu mengguncang seluruh perusahaannya. "Aku ... aku masih..." air mata Aira mengalir semakin deras saat mengingat bagaimana kisah cintanya tercabik tanpa ampun padahal selama ini ia selalu berusaha menjaga cintanya tetap utuh.


"Kamu masih sakit?" Tanya Hulya dengan suara rendah, Aira hanya bisa menggumam lirih karena rasa sakit itu masih ada. "Arsyad pun sama, Aira. Dia juga sakit, dia juga terpukul, Aira. Bahkan ... Arsyad menceraikan Anggun."


"Apa?" Aira mendesis tak percaya mendengar apa yang di katakan Hulya, keningnya berkerut dalam hingga kedua alisnya menyatu.


"Kamu nggak percaya? Aku juga nggak percaya, Aira. Nggak ada yang percaya Arsyad bisa melakukan hal seperti itu, tapi dia melakukan itu karena dia benar-benar nggak bisa menerima wanita lain selain kamu, Aira."


Aira menahan napas dan air matanya semakin deras mengalir di pipinya, dia tidak mengerti sebenarnya apa yang di inginkan Arsyad.


"Kamu nggak tahu 'kan kalau Anggun benar-benar nggak di terima di hidup Arsyad? Kamu juga nggak tahu' kan kalau Arsyad kecelakaan, dia koma sekarang bahkan kemungkinan dia selamat mungkin hanya 1%."


Aira tercengang, ia langsung terjatuh lemas mendengar apa yan di katakan Hulya. Seluruh tubuhnya seolah tak bertenaga, jantungnya seolah berhenti berdetak dan darahnya seolah membeku mendengar apa yang di katakan Hulya dari seberang telfon. "Dan semua itu karena Anggun, Anggun mendorong dia hingga dia kecelakaan. Wanita itu nggak pantas untuk Arsyad."


"Hulya, dia... dia ...." Aira berusaha bernapas dengan baik karena kini ia merasakan sesak di dadanya, ia seolah tak mendengar apa yang di katakan Hulya, yang ia dengar hanya Arsyad kecelakaan dan koma dan itu sudah sangat menyita perhatiannya. "Hulya, sudah dulu ya, aku mau telfon Abi," kata Aira kemudian. Ia memutuskan sambungan telfonnya tak perduli dengan Hulya yang masih memanggilnya.


"Huffff, ya Allah..." Aira mengusap dadanya yang benar-benar bergemuruh, berkali-kali ia mengehela napas panjang sementara air mata masih setia mengalir deras di pipinya.


Arsyad sakit, dia koma, kemungkinan sembuh sangat sedikit dan itu membuat Aira seolah di hantam oleh batu yang besar, sakit dan takut. Bahkan, dengan jarak ribuan mil seperti ini, Arsyad masih mampu menyentuh hati Aira.


Tangan Aira gemetar, bahkan tubuhnya panas dingin membayangkan keadaan Arsyad saat ini. Aira segera menghubungi ayahnya dan tak lama kemudian panggilannya terjawab.


"Ada apa, Aira?" Tanya sang ayah dari seberang telfon, suaranya terdengar cemas.

__ADS_1


"Abi, aku..."


"Kamu nangis, Sayang? Ada apa? Kamu sakit?" tanya sang ayah.


"Nggak, Bi. Aku cuma..." untuk yang kesekian kalinya, Aira menyeka air matanya. "Abi dulu pernah cerita, Abi punya kenalan Dokter di Amerika. Bi, aku minta contactnya, boleh?" Aira bertanya dengan suara yang bergetar, sebisa mungkin ia mencoba menahan kesedihan dan kecemasannya namun ia gagal.


"Kenapa kamu tiba-tiba tanya contact dia, Ai? Apa kamu..."


"Ar-Arsyad, Bi. Arsyad...." Aira tak sanggup mengatakannya, napasnya tercekat.


"Kamu sudah tahu dia sakit, Sayang?"


"Hem," Aira mengangguk sambil mengusap air mata di pipinya dan ia kembali menggigit bibirnya agar tak terisak.


"Kamu mau Abi panggil Dokter dari luar negeri untuk dia setelah apa yang dia lakukan sama kamu?"


Aira kembali mengangguk karena sungguh ia tak punya jawaban yang lain, sebesar ia kecewa pada Arsyad dan sebesar itulah cintanya. Dia ingin tak perduli, tapi hatinya berkhianat, hatinya perduli.


Aira bisa sedikit bernapas lega mendengar ucapan sang ayah, ia menggengam kalung nya dengan sangat erat, seolah melampiaskan apa yang ia rasakan saat ini. "Dengar, Aira! Kami nggak mau kamu tenggelam lagi dalam kesedihan yang tak berkesudahan, kamu lagi hamil, Sayang. Apa yang kamu rasakan di rasakan juga oleh anakmu, itulah alasan kami menyembunyikan berita ini."


"A-aku ... aku faham, Bi," lirih Aira yang mencoba menegarkan hatinya.


"Baiklah, kamu jangan mengkhawatirkan Arsyad. Abi akan membantu sebisa mungkin untuk perawatannya."


"Terima kasih," lirih Aira.


"Kenapa harus berterima kasih, Aira? Dia sudah membuang kamu, dia bukan siapa-siapa kamu lagi. Apa perlunya kamu berterima kasih untuk dia?"

__ADS_1


"Tapi dia ayah dari anakku, Bi." Aira menghela napas panjang. "Aku harus jawab apa pada anakku jika suatu hari nanti dia bertanya apa yang terjadi dengan ayahnya."


...***...


Jam menunjukan pukul 1 malam, Aira tak bisa tidur karena masih memikirkan keadaan Arsyad. Dan samar-samar Aira teringat apa yang di katakan Hulya.


"Anggun yang mendorong Arsyad..."


Aira langsung beranjak dari ranjangnya, ia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Hulya, menanyakan kronologi kecelakaan Arsyad namun tentu Hulya takkan membalas pesan di jam seperti ini.


Aira mengambil wudhu, kemudian ia melaksanakan sholat untuk menenangkan hatinya yang sungguh resah, setelah sholat, Aira berdo'a dan hal pertama yang ia minta adalah kesembuhan Arsyad.


"Aku berdo'a untuknya karena aku tak bisa membohongi hatiku, ya Allah. Aku masih sangat mencintainya terlepas dari apapun yang dia lakukan padaku. Aku berdo'a untuknya, ya Allah. karena aku ingin dia melihat anakku suatu hari nanti dan aku ingin anakku tahu siapa ayahnya. Karena itu adalah haknya. Cintaku telah terenggut dengan paksa dariku, jangan Kau biarkan hak anakku juga terenggut begitu saja."


...***...


^^^Jakarta, Indonesia. ^^^


Anggun terbangun dari tidurnya saat ia mendengar ponselnya yang terus berdering, ia meraba ponselnya dan kedua mata Anggun langsung terbuka lebar saat tahu yang menghubunginya adalah pihak rumah sakit.


"Halo..."


"Apa? Iya, aku kesana sekarang!" tanpa fikir panjang, Anggun langsung melompat dari ranjangnya, Anggun menyambar kunci mobilnya.


Anggun melajuka mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesampainya di rumah sakit, Anggun langsung berlari menuju ruang rawat Arsyad dan ia melihat beberapa suster dan Dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat Arsyad.


"Dokter..." teriak Anggun. "Bagaimana keadaan Arsyad?"

__ADS_1


"Sejak setengah jam yang lalu, pasien setengah tersadar dan dia terus menyebut nama Aira." Anggun hanya bisa menahan napas mendengar penjelasan Dokter. "Ini kemajuan yang luar biasa meskipun detak jantungnya masih tidak stabil, karena itulah, kehadiran Aira sangat di butuhkan oleh pasien saat ini. Saya yakin, kehadiran Aira bisa membantu dia keluar dari masa komanya. Saya sering mendapati kasus seperti ini, kehadiran orang tertentu sangat membantu."


TBC...


__ADS_2