Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #89 - Belajar Dari Masa Lalu


__ADS_3

"Ini baru diagnosa awal, Anggun. Semuanya bisa berubah kok, kamu jangan sedih terus, kasihan anak kamu." Untuk yang ke sekian kalinya bu Husna menyemangati Anggun yang benar-benar down setelah mengetahui hasil pemeriksaan tentang bayinya.


Bagaiamana tak sedih? Bayi yang sangat ia harapkan kemungkinan akan terlahir cacat, pukulan yang luar biasa keras dan menyakitkan bagi seorang ibu.


"Iya, Anggun. Kamu juga harus ingat kata Dokter, jangan stres, itu sangat mempengaruhi bayi kamu," sambung pak Arif.


"Gimana aku nggak sedih, Pa. Bagaimana mungkin aku punya anak yang..." Anggun tak sanggup melanjutkan kata-katanya, air mata kembali mengalir begitu saja di pipinya.


Di saat yang bersamaan, terdengar suara ketukan pintu beberapa kali dan terdengar suara pria yang mengucapkan salam.


Anggun langsung mengusap air matanya sementara bu Husna bergegas membuka pintu.


Saat pintu terbuka, Bu Husna hanya bisa menganga dengan kedua mata yang membulat sempurna melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum, Tante..."


"WA-Waalaikum salam, Arsyad..." lirih bu Husna dan Arsyad hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Begitu juga dengan Fahmi yang datang menemani Arsyad.


Arsyad mendapatkan kabar dari orang yang minta untuk mencari Anggun, Arsyad bisa bernapas lega setelah mengetahui keberadaan Anggun dan juga keadaan mereka yang baik-baik saja.


Dan sebelum pergi ke Pakistan, Arsyad pun menghampiri Anggun ke tempat dimana Anggun bersembunyi. Dan disinlah ia sekarang, memberikan kejutan untuk Anggun dan keluarganya.


"Kamu bagaimana bisa..."


"Boleh aku masuk?" Tanya Arsyad kemudian. Bu Husna tak bisa langsung menjawab, ia bingung harus mengatakan apa. Di satu sisi, ia takut Arsyad kembali membuka kasus kecelakaan itu, sementara di sisi lain ia sangat berharap Arsyad memaafkan Anggun dan menerima mereka kembali menjadi bagian dari hidup Arsyad.


"Tante, kami dari perjalanan jauh," sambung Fahmi agar mereka di persilakan masuk. .


"O-oh ya, silakan masuk," kata bu Husna akhirnya sembari membuka pintu lebih lebar.

__ADS_1


Fahmi pun mendorong kursi roda Arsyad masuk dan sama seperti bu Husna, pak Arif juga Anggun sangat terkejut melihat kedatangan Arsyad yang sama sekali tak mereka sangka, mereka bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.


Anggun hanya bisa terpaku saat tatapannya bertemu dengan tatapan Arsyad. "Apa kabar, Anggun?" Sapa Arsyad yang berusaha bersikap biasa saja, meskipun dadanya bergemuruh saat melihat Anggun, teringat bagaimana Anggun mendorong Arsyad yang membuat Arsyad sampai harus duduk di kursi roda selama beberapa bulan terakhir.


"Kamu ... kamu bagaimana bisa ada disini?" Tanya Anggun dengan suara bergetar.


Arsyad melihat perut Anggun yang kini sudah membesar, dan seketika ia tersenyum kemudian bertanya. "Bagaiamana keadaan anak kita?" Tanyanya. Anggun semakin tegang, ia meremas bajunya. Anggun tak mau sampai Arsyad tahu keadaan bayinya, ia takut Arsyad tak mau menerima bayi itu nantinya.


Begitu pun dengan kedua orang tua Anggun yang memiliki pemikiran yang sama.


"Baik, sangat baik," kata bu Husna dengan cepat, ia pun membawa Anggun kembali duduk di sofa, di susul oleh pak Arif, begitu juga dengan Fahmi.


"Syukurlah," kata Arsyad sambil tersenyum senang. "Aku senang mendengarnya." lanjutnya. Sekuat tenaga Anggun berusaha membendung air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.


"Kenapa kamu kesini?" Tanya Anggun kemudian.


"Aku minta maaf..." sela Anggun, air mata berhasil menyelinap keluar begitu saja namun dengan cepat ia menyekanya.


"Maaf aja nggak cukup!" seru Arsyad. "Kamu sudah menciptakan kekacauan yang luar biasa, Anggun. Kamu membuat aku di musuhi oleh Aira dan keluarganya, kemudian kamu membuat aku kecelakaan, bahkan Ummi sampai..." Arsyad menghela napas berat, tak kuasa mengingat semua masa-masa berat yang sudah ia lewati.


Anggun hanya bisa menunduk dalam, penuh penyesalan dan rasa bersalah, kini air matanya tak bisa lagi terbendung.


Bu Husna dan pak Arif tak tahu harus berkata, mereka hanya bisa mendengarkan dalam diam begitu juga dengan Fahmi.


"Aku memaafkanmu," ucap Arsyad kemudian yang langsung membuat Anggun mendongak. "Aku juga salah." Arsyad menarik napas dalam, ia menatap kedua orang tua Anggun kemudian ia menatap Anggun yang saat ini masih menatapnya. "Aku memang marah bahkan benci sama kamu, lihat aku sekarang! Ada di atas kursi roda, aku ingin membawa masalah ini ke jalur hukum tapi..." kini tatapan Arsyad tertuju pada perut Anggun. "Ada anakku dalam diri kamu, bagaimana pun juga kamu ibu dari anakku."


Arsyad mengeluarkan selembar cek kosong dan meletakkannya di meja, pak Arif dan Bu Husna menatap selembar cek itu. "Isi berapa pun yang kamu butuhkan, untuk memenuhi kebutuhan kamu dan anak kita," kata Arsyad yang kembali membuat Anggun merasa menangis.


"Boleh aku mengatakan sesuatu?" cicit Anggun dengan gugup, Arsyad mempersilahkan. "Aku nggak butuh uang kamu, yang aku butuh itu ... kamu."

__ADS_1


Arsyad tersenyum kecut mendengar permintaan Anggun. "Kamu nggak belajar dari masa lalu? Kamu nggak kapok dengan apa yan sudah terjadi? Kamu masih meminta diriku? Kamu tahu dengan pasti itu nggak akan bisa."


"Aku tahu," ucap Anggun. "Tapi ... tapi setelah anak ini lahir, dia akan bertanya kenapa orang tuanya nggak bersama, Mas."


"Itu akan lebih baik, dari pada orang tuanya bersama namun tanpa cinta sedikitpun."


...🌱...


Lahore, Pakistan.


Aira dan Via sedang video call dengan Micheal juga Ummi Firda. Namun sejak tiga puluh menit yang lalu, Tanvir dan Via memimpin obrolan tanpa bisa di sela.


Kedua anak itu saling berbagi informasi tentang kehidupan yang mereka jalani masing-masing. Sesekali Via terlihat iri dengan Tanvir yang punya banyak teman, namun sesekali juga Tanvir terlihat iri pada Via saat Via bercerita tentang masa liburannya yang katanya sangat menyenangkan bahkan nanti akan ada salju disana.


"Ai, kandungan kamu bagaimana, Nak?" Tanya Ummi Firda di sela-sela obrilan Tanvir dan Via.


"Adik bayinya sehat, Nenek," jawab Via girang mendahului Aira, seketika Aira dan Ummi Firda hanya bisa terkekeh. Via pun beranjak dari tempatnya kemudian dia berlari ke kamar Aira.


"Mau kemana anak itu?" Tanya Ummi Firda, belum sempat Aira menjawab, Via sudah muncul membawa foto USG kehamilan Aira.


"Nek, lihat ini..." seru Via sembari menunjukan foto usg itu ke kamera laptop. "Ini adik bayi, Nek. Kata Dokter sebentar lagi adik bayinya keluar," lapor Via.


"Alhamdulillah, semoga persalinannya lancar ya, Nak. InsyaAllah bulan depan Ummi sama Abi kesana," ucap Ummi Firda.


"Tanvir ikut..." sambung Tanvir.


"Yeah, kesini semuanya. Abi juga mau kesini," kata Via girang, kini raut wajahnya terlihat sangat bahagia, bahkan lebih bahagia dari sebelumnya. Aira tersentuh melihat kebahagiaan putrinya, Via sangat mengharapkan abinya datang, jika boleh jujur, begitu juga dengan Aira. Di satu sisi, ia merindukan Arsyad namun di sisi lain, hati Aira masih takut akan sesuatu yang bahkan tak ia mengerti.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2