
"Assalamualaikum, Anggun..." sapa Aira sembari melirik Arsyad. "Nggak ada suaranya, Mas. Mungkin habis pulsanya," kata Aira kemudian yang teringat pada Via saat ia menghubungi Arsyad. Ia tahu itu dugaan yang konyol dan memang itulah tujuannya.
"Biar aku suruh Fahmi isi 'kan pulsanya dulu ya, Mas," ucap Aira kemudian padahal ia tahu telfonnya masih tersambung.
"Iya, Sayang. Terserah kamu aja," jawab Arsyad yang seketika membuat Aira tersenyum samar.
Bolehkah jika ia membalas Anggun sekarang? Membuatnya cemburu mati-matian? "Mau di suruh isi berapa, Sayang?" Tanya Aira dengan menekan kata 'sayang'
"Terserah kamu aja," jawab Arsyad sambil terkekeh.
Aira memutuskan sambungan telfonnya begitu saja, setelah itu ia menghubungi Fahmi dan meminta Fahmi agar membelikan Anggun pulsa. Setelah itu, Aira kembali menghubungi Anggun namun ia kembali ke kamarnya, meninggalkan Arsyad dan Abi Gabriel yang melanjutkan obrolan nya.
***
Bandung, Indonesia.
Dada Anggun sungguh bergemuruh mendengar perbincangan Arsyad dan Aira yang kini kembali seperti dulu, layaknya sepasang suami istri yang saling mencinti dan memiliki hubungan yang harmonis.
Anggun melempar ponselnya setelah Aira memutuskan sambungan telfonnya, namun sesaat kemudian ia mendapatkan notifikasi dan sejumlah pulsa masuk ke Nomor nya, Anggun tertawa hambar, merasa kesal pada Aira. Dan saat ia hendak melempar ponselnya lagi, ponselnya itu berdering. Anggun menjawabnya.
"Bagaiamana, Anggun? Pulsanya masuk?" Tanya Aira.
__ADS_1
"Iya, terima kasih," kata Anggun setengah menggeram. "Dimana mas Arsyad? Aku mau bicara dengannya," serunya kemudian.
"Ada, lagi ngobrol sama Abi. Kata suamiku, kamu boleh bicara sama aku, kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja sama aku." dada Anggun semakin bergemuruh, hatinya terasa sangat panas.
"Jadi, kamu butuh apa, Anggun? Apa butuh uang untuk check up? Sebentar, aku akan transfer ke kamu." darah Anggun benar-benar mendidih mendengar ucapan Aira, bahkan ia tak mampu lagi membendung air matanya saking kesalnya.
"Aku nggak butuh uangmu, Mbak Aira. Aku sangat mampu memenuhi kebutuhanku dan anakku, aku telfon cuma untuk ... untuk..." Anggun menghubungi Arsyad karena ia sedang merasa bahagia setelah mengadopsi anak, kesedihannya karena kehilang bayinya kini telah berganti kebahagiaan setelah ia mendapatkan Maita yang lain.
Tadinya ia jujur pada Arsyad tentang bayinya yang telah tiada, ia juga ingin mengatakan pada Arsyad bahwa ia mengadopsi seorang anak dan memberi nama belakang Arsyad di belakangnya sebagai pengganti anak mereka yang telah tiada. Namun setelah mendengar ocehan Aira, Anggun merasa tersinggung, ia merasa sakit hati pada Aira yang seolah tak menjaga perasaannya sedikit saja.
"Untuk apa?" Tanya Aira.
"Mungkin dia ingin tahu kabar anak yang aku kandung, bagaimanapun anak itu anaknya. Dan dia punya kehawajiban untuk itu." geram Anggun.
"Dan bukan hanya mas Arsyad, aku pun akan memenuhi tanggung jawabku sebagai ibu kedua dari anakmu. Karena mas Arsyad adalah suamiku, maka anakmu juga anakku." Anggun hanya bisa menelan ludah dengan kasar, tatapan matanya begitu berapi-api, rahangnya tegang.
"Sudah puas?"
***
"Sudah puas?" Aira mengernyit bingung mendengar pertanyaan Anggun. "Sudah puas kamu mencoba menyakiti hatiku? Menyinggung perasaanku?" tanyanya yang seketika membuat Aira terkekeh.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan, Anggun? Kapan aku menyakitimu? Memangnya aku merebut pasangan hidup kamu? Memangnya aku melakukan sandiawara apa di depan kamu? Atau aku mengambil kesempatan dalam kesempitan yang merugikan hidup kamu?"
Aira tersenyum miring, katakanlah ia kejam namun sekali saja, izinkan ia melampiaskan rasa sakit hati yang selama ini ia pendam pada wanita yang telah menjadi benalu dalam hidupnya.
Pintu kamar Aira terbuka, menampilkan Arsyad yang kini sudah berjalan menggunakan tongkat. "Okay, udah dulu, ya. Jangan khawatir soal biaya apapun," ucap Aira kemudian ia memutuskan sambungan telfonnya.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Arsyad.
"Anggun, Mas. Sebenarnya dia telfon untuk memberi tahu keadaan kandungannya," jawab Aira sembari membantu Arsyad duduk di tepi ranjang. "Dia juga bilang, kalau anak itu masih tanggung jawab kamu, jadi aku jawab aja kalau kamu pasti bertanggung jawab sama anaknya, bahkan aku pun akan bertanggung jawab sebagai ibu keduanya, karena anakmu adalah anakku." Aira berkata jujur, dan itu membuat Arsyad semakin takjub pada kelusan hati Aira.
Ia menatap sang istri dengan dalam." Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar memiliki hati bak malaikat, aku sangat beruntung memiliki kamu. Dan anak-anakku juga beruntung memiliki ibu seperti kamu." Aira hanya menganggapi ucapan Arsyad dengan senyum yang lembut.
Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya pada Anggun, karena apa yang dia katakan pasti sangat melukai perasaan Anggun. Namun mengingat cerita bahwa Anggun mencintai Arsyad sejak dulu, bahkan rela menjadi istri simpanan Arsyad atas nama cintanya itu, membuat Aira khawatir dan cemas. Ia hanya berusaha mengkalim miliknya dengan tegas.
***
Bandung, Indonesia.
Anggun menatap bayinya itu lekat-lekat, tadinya ia ingin memberi tahu Arsyad bahwa sebenarnya ia keguguran dan kini ia mengadopsi anak yang akan ia anggap anaknya dan anak Arsyad untuk menggantikan janinnya yang gagal ia lahirkan.
Mengingat Arsyad mengadopsi Via, Anggun yakin Arsyad akan menerima Maita seperti menerima Via. Dan itulah alasannya mengadopsi Maita, namun bagaimana Aira mempermalukannya, menyinggung perasaannya, membuat Anggun mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Biarkan orang-orang menganggap kamu adalah anakku dan anak Arsyad, agar Aira tahu bahwa suaminya bukan hanya miliknya, tapi juga milik kita. Agar dia tidak lagi sombong!"