Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #102 - Cemburu Dong!


__ADS_3

"Aku pernah berusaha menjadi yang paling sempurna untukmu, tapi ternyata aku salah. Semakin seseorang berusaha menjadi sempurna, maka akan semakin terlihat kekurangannya. Dan kini aku meraskan itu, Sayang. Aku sangat salah, seharusnya aku pasrah pada Allah, jika aku tak bisa menjaga kebahagiaanmu, seharusnya aku biarkan Allah yang menjaga kebahagiaanmu, bukannya memaksakan kehendak bahkan menghalalkan segala cara untuk menjaga kebahagiaanmu."


"Tapi sekarang, izinkan aku melangkah kembali bersamamu. Aku tahu aku pernah jatuh, dan aku janji, aku tidak akan melangkah di tempat yang sama, akan aku hindari jalan yang membuatku jatuh."


"Ummi, Via sudah mandi..."


"Ummi..."


Via mengguncang pundak Aira yang saat ini masih tertidur pulas di atas ranjangnya, bahkan ia masih mengenakan mukenanya. Itu bukan hal baru, karena sejak Aira hamil besar, ia mudah sekali tertidur.


Aira yang meraskan sentuhan dan mendengar suara Via perlahan membuka mata, hal pertama yang tertangkap pandangannya adalah Via yang cengengesan, menampilkan giginya yang banyak di makan ulat.


"Via sudah mandi?" Tanya Aira yang melihat Via hanya memakai handuk yang menutupi sebagian tubuhnyanya, rambut Via basah bahkan masih meneteskan air. "Astagfirullah, Vi..." Aira langsung beranjak duduk, ia melepaskan mukenanya kemudian ia segera mengambil handuk yang lain untuk mengeringkan rambutnya.


"Sayang, kalau habis mandi itu keringkan dulu rambutnya," kata Aira sembari mengeringkan rambut Via. "Tapi kenapa Via mandiri sendiri? Kenapa nggak bangunin Ummi?" Tanya Aira.


"Kata Abi, Via harus belajar mandiri, Ummi. Mandiri sendiri, hehe. Kan Via sudah besar, terus nanti akan ada adik bayi yang lahir, Ummi pasti sibuk ngurus adik bayinya kata abi, jadi mulai sekarang Via harus bisa semuanya sendiri." Via berceloteh panjang lebar dengan raut wajah yang tampak berbinar. Aira senang melihat itu, Via bukan hanya anak yang lucu tapi ia juga pintar dan mudah memahami apa yang di beri tahukan kepadanya.


"Tapi kan bahaya kalau di kamar mandi itu, Vi. Nanti kamu jatuh kayak dulu tuh," ujar Aira.


"Kata abi, jangan takut hanya karena pernah jatuh, Ummi. Justru karena dulu Via jatuh, sekarang harus bisa hati-hati, kata abi begitu," jawab Via dengan polosnya.


"Kapan abimu bilang begitu?" Tanya Aira yang kini mencarikan pakaian Via.


"Tadi," jawab Via dan ia hendak melepaskan handuk yang melilit tubuhnya namun Aira segera mencegahnya.


"Jangan asal lepas begitu, Sayang. Apalagi pintu kamar nggak di kunci," seru Aira.


"Tapi kan nggak ada orang lain, Ummi," balas Via.

__ADS_1


"Ada, bi Sri sama abi, malu sama mereka kalau nanti mereka lihat Via nggak pakai baju," jawab Aira.


"Kan abinya Via, Ummi. Kenapa malu," kata Via dengan polosnya, Aira menanggapi kepolosan putrinya itu dengan senyuman lembut, selama ini ialupa untuk mengejarkan Via merasa malu bahkan pada anggota keluarganya sendiri.


"Nak, Via itu sudah besar, jadi harus malu pada siapapun, termasuk abi, kakek dan om-om Via, apalagi mereka itu pria dan Via itu wanita." Aira menyerahkan baju Via pada Via sehingga anak itu memakai bajunya sendiri sementara Aira bergegas mengunci pintu kamarnya. "sebagai wanita, kita tidak boleh memperlihatkan tubuh kita pada siapapun, okay? Bahkan neh, mulai sekarang, Via nggak boleh lagi nggak berpakaian di depan Ummi, kan sekarang Via sudah bisa mandi sendiri." lanjutnya.


Via pun mengangguk mengerti, bahkan ia tersenyum saat mendengar penjelasan sang ibu. Aira pun juga tersenyum, ia tahu, apa yang Arsyad katakan pada Via memang benar. Hanya karena pernah jatuh, tak seharusnya itu menjadi ketakutan dan trauma, seharusnya dari jatuh itulah ia belajar agar hati-hati.


Di luar, Arsyad menguping obrolan ibu dan anak itu sambil tersenyum, sebenarnya Arsyad sudah sejak tadi berada di sana, ia hendak memanggil mereka untuk sarapan namun Arsyad mengurungkan niatnya saat mendengar obrolan Aira dan Via.


Kini Arsyad mengetuk pintu dan memanggil Aira juga Via. "Sarapan sudah siap," seru Arsyad.


"Tunggu, Bi. Via pakai rok dulu, kata Ummi malau kalau di lihat Abi," balas Via dari dalam yang membuat Arsyad terkekeh.


"Okay, Abi tunggu di meja makan, ya!"


"Baiklah, Abi..."


"Ya Allah, Engkau pemilik hatinya, bukakanlah pintu hatinya untukku, aku mohon..."


Saat Arsyad hendak kembali ke dapur, ia mendengar ketukan pintu dan suara seseorang yang mengucapkan salam. Bi Sri hendak membuka pintu namun Arsyad mencegahnya karena ia kenal dengan suara itu.


Arsyad pun membuka pintu dan benar saja, yang datang adalah Javeed. "Waalaikum salam, Ada apa?" Tanya Arsyad.


"Neh, aku belikan nasi kuning kesukaan Via dan Aira," kata Javeed sembari memberikan makanan yang di bungkus plastik itu. Arsyad hanya menatap makanan itu sesaat namun kemudian ia mengambilnya sambil tersenyum.


"Terima kasih," kata Arsyad.


"Sama-sama, oh ya, apa Aira di dalam?" tanya Javeed yang seolah kembali ingin memancing kecemburuan Arsyad.

__ADS_1


"Ada," jawab Arsyad dingin.


"Bisa tolong Panggilin? Aku mau ngajak dia dan Via ke pesta pernikahan temanku, dulu Aira pernah bilang dia ingin tahu bagaimana pesta pernikahan di Pakistan," ujar Javeed dengan Santai nya.


Dada Arsyad bergemuruh mendengar itu, namun ia tetap berusaha menahan perasaannya." Tunggu sebentar, " ujar Arsyad, ia pun memutar kursi roda nya kembali ke dalam dan itu membuat Javeed mengernyit bingung namun kemudian ia tersenyum senang.


"Sepertinya dia nggak cemburu sama aku, berarti dia udah nggak cinta dong sama Aira, apa dia kesini hanya untuk anak-anaknya? Itu bagus, berarti aku masih punya kesempatan untuk mendekati Aira nanti," seru batin Javeed dengan girang.


Tak berselang lama Arsyad kembali namun ia sendirian . "Aira nya mana?" tanya Javeed.


"Sini tanganmu..." alih-alih menjawab pertanyaan Javeed, Arsyad justru mengulurkan tangannya pada Javeed yang membuat Javeed semakin bingung.


"Aku tanya Aira, dimana dia?" tanya Javeed.


"Iya, nanti kamu boleh ketemu Aira tapi sini dulu tanganmu, aku mau kasih sesuatu, magic," ucap Arsyad tenang namun raut wajahnya serta tatapan matanya tampak sangat mencurigakan.


"Nggak, kamu mau ngapain?" Tanya Javeed yang menatap penuh curiga pada Arsyad, Arsyad pun menarik paksa tangan Javeed.


"Diam! Aku mau nunjukin sulap!" Tegas Arsyad saat Javeed mencoba menarik tangannya kembali, kemudian Arsyad membakar tangan Javeed dengan korek api yang membuat Javeed memekik terkejut sekaligus kepanasan. Javeed mengumpat kesal pada Arsyad sementara Arsyad justru berseringai tajam.


"Panas?" Tanya Arsyad tenang namun bibirnya tersenyum miring.


"Iyalah, kamu bakar lenganku, bodoh!" seru Javeed sambil meniup lengannya yang panas. "Kriminal lho ini."


"Panasnya itu nggak seberapa dengan panasnya api cemburu yang aku rasain di hatiku gara-gara celeotehan bocah ingusan seperti kamu ini," seru Arsyad. "Dan satu lagi! Status ku memang bukan lagi suami Humaira, tapi aku masih punya hak untuk melarang dia ketemu sama kamu, aku juga punya hak dan bisa memperistri dia lagi dengan mudah." tegas Arsyad, ia melemparkan tatapan mematikannya pada Javeed.


"Kalau kalian memang berteman, aku hargai itu, apalagi kamu tetangganya dan sama-sama dari Indonesia, kamu pasti banyak membantu dia dan Via selama ini, aku sangat berterima kasih lho. Tapi kalau sudah melewati batas, sepertinya aku akan memanggang tubuh kamu."


TBC...

__ADS_1



__ADS_2