Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #121 - Mendominasi


__ADS_3

"Ini hanya demam biasa, bu Anggun. Tidak perlu cemas," kata Dokter yang memeriksa keadaan Baby Maita.


Anggun bernapas lega walaupun raut ke khawatiran di wajahnya masih terlihat jelas. Tak berselang lama ponselnya berdering, Anggun langsung menjawab saat membaca nama Arsyad di layar smartphonenya itu. Anggun sudah membuka mulut untuk berbicara namun ia kembali bungkan saat yang terdengar justru suara Aira.


"Assalamualaikum, Anggun. Aku telfon mau tanya kabar anak kita."


Dada Anggun bergemuruh setiap kali Aira mengatakan anak kita dengan begitu entengnya, seolah Aira punya hak yang sama dengannya pada baby Maita dan Anggun tak suka itu.


"Dimana mas Arsyad?" Tanya Anggun dingin yang bahkan tak menjawab salam Aira.


"Anggun, mengucapkan salam itu sunnah tapi jawabnya wajib lho," kekeh Aira yang membuat Anggun semakin kesal. "Maaf, ya. Bukan maksudku menggurui kamu, cuma karena kita sekarang sudah menjadi ibu, maka kita harus memperhatikan hal sekecil apapun agar bisa menjadi contoh untuk anak kita," ujar Aira, Anggun hanya mendengarkan dalam diam, "Oh, ya. Baby Maita sudah punya adik, namanya Ali Zubair Ibrahim."


Anggun tercengang mendengar kabar itu, ia tahu Aira pasti melahirkan namun entah kenapa hatinya seperti terscubit saat mendapatkan kabar itu, apalagi ia membayangkan Arsyad menemani Aira saat melahirkan sedangkan saat ia keguguran Arsyad tak ada untuknya. Dan sekarang ia mengerti kenapa Arsyad sulit di hubungi.


"Anggun, keadaan anak kita bagaimana? Kamu belum jawab." Aira mengulangi Pertanyaannya.


"Dia demam, badannya panas," jawab Anggun ketus.


"Innalillah, yang sabar, ya. Sudah di bawa ke Dokter?" Anggun tersenyum sinis mendengar pertanyaan Aira yang baginya sok perhatian itu.


"Aku ibunya, aku tahu kalau dia sakit harus kemana," kata Anggun kemudian ia memutuskan sambungan telfonnya dengan kesal.


🌱


"Tanvir..." panggil Zenwa sembari mencari Tanvir ke halaman belakang rumah, namun tak ada siapapun disana.


"Tanvir, kamu dimana? Mau main petak umpet? Jangan sekarang deh, ya. Sudah sore, ayo mandi!" seru Zenwa yang masih terus mencari Tanvir ke beberapa sudut rumahnya namun ia masih belum menemukannya.


"Mungkin di kamar, Nya," kata Bi Eni.


"Nggak ada, Bi. Di kamar dia, di kamarku, bocah itu enggak ada," jawab Zenwa yang sudah kesal.


Sementara yang di cari kini justru berada di ruang kerja Micheal, ia sedang duduk bersila di atas meja kerja Micheal dengan laptop di depannya.


"Cara bikin..." Micheal mengetikan kata tersebut di google pencarian. "Adik bayi yang mudah dan cepat jadi, yang lucu dan imut." setelah mengetikan kata-kata itu Tanvir langsung menekan enter.

__ADS_1


"Yah, kok kartun yang muncul? Ini 'kan filmnya Via, film anak-anak," dengusnya.


(Noh, yang muncul)



Tanvir menghela napas lesu karena sejak dulu keinginannya untuk memiliki adik bayi belum juga bisa terkabul.


"Coba cari sekali lagi..." saat Tanvir hendak mengetik lagi di keyboard, tiba-tiba pintu terbuka lebar. Tanvir menoleh dan ia langsung tersenyum lebar, memamerkan gigi-giginya yang putih dan rapi itu.


Di ambang pintu, Zenwa, Micheal yang bi Eni hanya bisa memelototi Tanvir yang sudah membuat mereka cemas, untung lah Micheal memeriksa cctv dan melihat anak itu masuk ke ruang kerjanya.


"Kamu ngapain, Tanvir? Semua orang cariin lho," seru Micheal.


"Lagi cari informasi penting, Pa," kata Tanvir dengan serius bak orang dewasa.


Micheal mendekati putranya itu kemudian ia menyelipkan tangannya di kedua ketiak Tanvir dan langsung menurunkan Tanvir.


Micheal memeriksa laptopnnya dan seketika tawanya pecah melihat apa yang tertampil di layar laptopnya. Micheal memperlihatkannya pada Zenwa dan Zenwa pun tak bisa menahan tawanya, sementara Tanvir justru cemberut.


"Ya Allah, Sayang. Segitu inginnya kamu punya adik dari Mama? Via dan baby Ali 'kan juga adik Tanvir," kata Zenwa.


"Iya sih, Ma. Cuma penasaran aja kenapa Mama sama Papa nggak kasih Tanvir adik, tapi nggak apa-apa, nanti Tanvir minta sama tante Aira," celetuknya kemudian ia berjalan keluar dari ruang kerja sang ayah tanpa memperdulikan ayah dan ibunya yang hanya bisa melongo.


🌱


Lahore, Pakistan


Aira member tahu Arsyad bahwa baby Maita sedang sakit, tentu saja kabar itu membuat Arsyad cemas. Namun Aira berhasil meyakinkan suaminya itu bahwa Anggun pasti sudah membawa anaknya ke Dokter.


"Semoga saja dia nggak apa-apa, aku khawatir," kata Arsyad lirih.


Tak berselang lama, ada pesan masuk dan Aira tersenyum melihat foto baby Maita yang di kirimkan Anggun.


"Neh, dia baik-baik aja kok," ujar Aira sembari memperlihatkan foto bayi mungil itu.

__ADS_1


"Coba Ummi mau lihat," kata Ummi Firda. Aira pun memberikan ponselnya dan Ummi Firda langsung melihat foto anak itu. "Wajahnya terlihat memerah, mungkin demamnya tinggi," ucapnya.


Saat ia hendak mengembalikan ponsel Aira, tiba-tiba keningnya mengernyit dan ia seperti memikirkan sesuatu. Sekali lagi Ummi Firda melihat gambar baby Maita dengan seksama. "Dia lahir di usia kandungan 8 bulan, lahirnya tidak normal, tapi kenapa wajahnya terlihat seperti anak yang lahir normal dan sudah lama di lahirkan? Tubuhnya besar, wajahnya..."


"Kenapa, Ummi?" Tanya Aira yang melihat sang ibu menatap foto baby Maita dengan tatapan yang tak biasa.


"Emm nggak apa-apa, cuma dia lahir belum sebulan 'kan? Kok..." alis Ummi Firda menyatu karena merasa ada yang tak biasa dari anak Anggun. Ia pernah melihat bayi yang di lahirkan saat usia 8 bulan, dan bayinya kecil meskipun usianya sudah lebih dari satu bulan. Tapi anak Anggun tampak berbeda. "Apa mungkin perasaan aku aja?"


"Iya, dia jadi lebih tua dari baby Ali padahal usia kandungannya lebih tua aku," kata Aira.


"Nggak apa-apa siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda, yang penting sama-sama sehat," ujar Arsyad dan Aira mengangguk sambil tersenyum.


"Aku transfer uang ke Anggun lagi ya, Mas. Dari rekening aku," kata Aira kemudian.


"Bukannya kamu sudah transfer, Ai?" Tanya Ummi Firda.


"Iya, Ummi. Tapi itu 'kan dua minggu yang lalu, apalagi sekarang baby Maita sakit, takutnya dia butuh biaya lebih." Aira menjawab sembari mentransfer sejumlah uang untuk Anggun.


"Kenapa nggak pakai uang Arsyad aja?" Tanya Ummi Firda yang tampak tak menyukai apa yang di lakukan Aira.


Tentu saja ia tak suka, kenapa Aira harus menafkahi anak Arsyad dari perempuan lain menggunakan uangnya fikir Ummi Firda. Sementara Aira justru terkekeh dan berkata," Ini juga uangnya mas Arsyad. Cuma aku sengaja kirim dari rekening aku, biar Anggun terbiasa berkomonikasi dan terkoneksi sama aku, bukan sama mas Arsyad." jawaban Aira berhasil membuat Arsyad mengulum senyum simpul, sementara sang ibu hanya mengulum senyum meraskan sikap Aira yang benar-benar berubah sekarang.


Ia seolah mendominasi Arsyad dan hubungan yang Arsyad miliki dengan Anggun, Ummi Firda tidak tahu apakah itu di benarkan atau tidak tapi ia setuju dengan apa yang di lakukan Aira. Sebagai seorang istri, wajib menjaga suaminya 'kan?


Dulu, Anggun hanya seorang guru di sekolah yang di miliki Arsyad, dan dia berhasil menikung Aira. Dan sekarang, Anggun memiliki anak dari Arsyad, maka Aira harus lebih hati-hati.


TBC..


Hai, semuanya. Masih suka sampai episode ini?


Oh, ya. Aku punya cerita bagus neh, tapi bukan di sini ya. Di kamar sebelah, faham 'kan? Di PAIJO.


Jadi, klo kalian udah bosan dengan cerita rumah tangga ini, cus ke sebelah. Di jamin beda. Hehehe.


__ADS_1


__ADS_2