Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #63 - Kebahagiaan Yang Pantas


__ADS_3

"Jika Ummi nggak bisa menyatukan mereka kembali, Ummi harap kamu bisa menyatukan mereka kembali, Anggun. Jika kamu benar-benar mencintai Arsyad, bantu dia."


Anggun tak tahu harus bereaksi apa setelah mendengar permintaan Ummi Ridha, yang pasti, hatinya begitu sakit, sesak, dan perih, bahkan ia seolah tak bisa bernapas. Ia bahkan tak mampu memperjuangkan cintanya sendiri, lalu bagaimana dia bisa memperjuangkan Aira untuk Arsyad.


"Anggun..." Ummi Ridha mengeratkan genggaman tangannya, ia menitikan air matanya mengingat hidup Arsyad sekarang benar-benar kacau sementara sebelumnya hidup Arsyad begitu bahagia dan tenang. "Ummi minta maaf jika ini menyakitimu," ucapnya dengan suara tercekat.


"Sudahlah, Ummi," lirih Anggun kemudian sembari memaksakan bibirnya tersenyum walaupun hatinya begitu perih. "Mas Arsyad masih sehat kembali, Ummi juga pasti nanti akan sehat kembali kok."


"Kamu nggak mau membantu Arsyad?" Tanya Ummi Ridha, Anggun terdiam sejenak, ia menatap Ummi Ridha dengan sendu kemudian ia mengangguk.


"Baik, Ummi. Aku akan membantu jika itu memang yang membuat mas Arsyad bahagia," kata Anggun dengan berat hati. Bibirnya berkata demikian, namun tidak dengan hati dan fikirannya. Ia sendiri tak bisa mendapatkan Arsyad, lalu bagaimana dia bisa mengembalikan Arsyad pada Aira?


"Terima kasih," kata Ummi Ridha sambil tersenyum lembut. "Kamu memang sangat baik, Nak. Terima kasih banyak." Anggun hanya bisa menanggapinya dengan senyum hambar.


Setelah menemani Ummi Ridha, Anggun menjenguk Arsyad sebentar sebelum ia pulang. Anggun menggenggam tangan Arsyad bahkan ia menciumnya, air mata Anggun mengalir deras hingga membasahi tangan Arsyad.


"Kenapa kamu selalu membuatku sakit, Mas?" Lirih Anggun dengan suara tercekat. "Kenapa? Aku berjuang keras untuk menjadi milikmu, aku melakukan segalanya agar mendapatkan cintamu, aku senang karena Ummi merestui cintaku, tapi sekarang? Bahkan dia kembali menginginkan Aira sebagai pendampingmu, Mas? Kenapa kalian tega sekali? Kenapa tidak bisa menghargaiku sedikit saja?" Anggun menyeka air matanya, ia menarik napas dan mencoba mengarkan hatinya yang rapuh. Anggun membawa tangan Arsya ke perutnya.


"Disini ada anak kamu, Mas. Darah daging kamu, tapi kamu nggak pernah perduli sama dia. Kalau saja kamu memperlihatkan kepedulian kamu sedikitpun sama aku dan anak kita, aku nggak akan melakukan hal apapun yang membuat Aira dari jauh dari kamu. Semua ini karena kamu, Mas. Kamu yang egois, kamu yang jahat. Kamu memkasaku melakukan semua itu dan sekarang lagi-lagi aku yang tersisksa."


Arsyad masih tak bergeming sedikitpun sementara Anggun hanya bisa sesegukan sendirian. Hingga tak lama kemudian ibunya datang dan mengusap pundak Anggun.


Bu Husna datang untuk menjemput Anggun karena ia tak ingin anaknya itu kelelahan. "Sudah, kamu jangan bersedih terus, kasihan anak kamu, Anggun."


Anggun tak bergeming, ia masih menangis sesegukan, melepaskan rasa sakit yang mendera hatinya. "Percaya sama Mama, suatu hari nanti kamu pasti akan bahagia."


...***...


^^^Islamabad, Pakistan^^^


"Aku senang melihat kamu bahagia, Dek." Aira menoleh dan tersenyum pada Jibril.


Perlahan Aira mulai bisa tersenyum dan melupakan sejenak masalahnya, apalagi dengan kegiatan mereka yang menyenangkan. Dan saat ini, Aira dan yang lainnya sudah berada di Islamabad dan dalam perjalanan ke hotel.


Dan tentu, kini mereka menambah anggota baru, Javeed Agarwal.

__ADS_1


Pria itu ingin ikut dengan alasan ia juga ingin jalan-jalan. Mereka tak keberatan sedikipun karena ternyata Javeed mengenal kota itu dengan sangat baik, bahkan Javeed bersedia membawa mereka ke tempat-tempat wisata terbaik di kota itu.


Sesampainya di hotel, mereka langsung check in ke kamar masing-masing untuk segera beristirahat karena hari sudah sore. Dan besok mereka baru akan meng-eksplor ibu kota Pakistan itu.


Arkan, Bayu dan Rehan sangat bersemangat untuk itu, apalagi mereka hanya seminggu di kota ini.


"Wah, kamarnya besar sekali, Ummi," kata Via saat ia memasuki kamar hotel mereka.


"Iya dong, Kakek yang pilihkan hotel ini untuk kita. Kata Kakek, dulu dia sering menginap di sini kalau dia ada pekerjaan disini, pelayanannya sangat bagus." Aira bercerita dengan ceria seolah Via mengerti apa yang ia maksud.


"Wah, Via jadi ingin tinggal disini selamanya, Ummi." Aira langsung tertawa geli mendengar ucapan putri kecilnya itu.


"Mandi yuk, biar segar." Via mengangguk dengan semangat.


Aira pun menyipakn pakaian ganti Via sebelum memandikan anak itu. Sejak Via jatuh di rumah Arsyad dulu, Aira tak pernah lagi membiarkan anaknya itu mandiri sendiri. Aira tak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan Via.


Setelah memandikan Via, kini gantian Aira yang mandi. Setelah itu, ia pun naik ke atas ranjang yang berukuran besar itu.


Yang mencarikan hotel memang ayahnya, karena ayahnya ingin memastikan Aira tinggal di tempat yang nyaman dan tentu aman.


Aira merasa itu berlebihan namun memang seperti itulah orang tuanya memperlakukannya selama ini.


Sambil tersenyum, Aira mengusap perutnya. "Tumbuh yang sehat disana ya, Nak. Ummi benar-benar sayang sekali sama kamu, Ummi nggak sabar untuk menyambut kedatangan kamu ke dunia ini."


"Ummi, kapan adik bayinya keluar?" Tanya Via yang juga mengelus perut Aira.


"Sebentar lagi, Sayang," kata Aira dengan semangat.


"Laki-laki apa perempuan, Ummi?"


"Rahasia dong, biar menjadi kejutan." Via terkikik mendengar ucapan ibunya itu dan itu membuat Aira tertawa. "Kenapa kamu ketawa?" Tanya Aira.


"Perut Ummi lucu kalau buncit, padahal bukan karena banyak makan seperti Via. Tapi buncit juga." Aira langsung tertawa geli mendengar celotehan anaknya yang semakin hari semakin pintar itu.


"Karena isinya adik bayi, Via. Nanti kalau sudah 7-9 bulan, lebih besar lagi," jawab Aira yang membuat kedua mata Via melotot sempurna.

__ADS_1


"Benarkah?"


**


"Om...." seru Via pada Javeed yang duduk di sampingnya.


Saat ini mereka semua sedang berada di restaurant Hotel untuk makan malam bersama, dan entah kenapa kini Via justru sangat lengket dengan Javeed. Apa mungkin karena Javeed selalu menandatangi Via dan selalu membawakan sesuatu untuk Via, dari makanan, mainan bahkan baju adat Pakistan yang sangat di sukai oleh Via "Kenapa, cantik?" Tanya Javeed.


"Om tahu tidak, perut Ummi buncit lho karena ada adik bayinya, lucu, Om mau lihat?"


Semua orang tercengang mendengar penawaran Via yang sebenarnya menggugah selera untuk Javeed. Sementara Arkan, Bayu, terutama Jibril langsung menatap tajam Javeed yang justru tersenyum lebar pada Aira kemudian berkata," Boleh Memangnya?"


Bughh


"Aduh..." Aira hanya bisa menahan senyum melihat ekspresi wajah Javeed yang kesakitan setelah mendapatkan pukulan dari Arkan menggunakan kameranya. Bahkan Jibril yang merasa terwakilkan pun tersenyum bahagia.


"Boleh aku potong tanganmu, huh?" Tegur Arkan.


"Tahu!" sambung Rehan.


"Tapi di tawarin sama Via," ucap Javeed membela diri.


"Via, tawarin dia masuk neraka dong!" seru Bayu.


"Om mau neraka?" tanya Via dengan polosnya namun kemudian ia tampak menyadari sesuatu. "Tunggu..." kini Via menatap Aira dengan tatapan seriusnya. "Ummi, bukankah neraka itu api tempatnya orang yang berbuat dosa?" Ia bertanya dengan begitu serius dan Aira mengangguk.


"Ih, takut..." Via bergidik ngeri sambil memeluk tubuhnya sendiri. "Om, jangan mau, Om. Nanti kita di panggang, gosong."


"Tuh, dengerin! Neraka tempatnya orang berbuat dosa, kalau kamu pegang wanita yang bukan mahram kamu, dosa kau!" Desis Rehan dan hanya Javeed hanya bisa cengengesan sembari menggaruk tengkuknya.


Hal itu membuat Aira tertawa dan kali ini ia benar-benar tertawa karena pancaran matanya berbeda.


Jibril yang melihat sang adik bahagia tentu ikut bahagia, rasanya ia tak ingin saat-saat seperti ini berakhir.


"Semoga Allah selalu menjaga kebahagiaanmu, Dek. Karena kami tidak tahu lagi apa yang harus kami melakukan untuk membuatmu bahagia."

__ADS_1


TBC...



__ADS_2