Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #111- Sebuah Keluarga


__ADS_3

Arsyad tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Aira yang saat ini masih tidur nyenyak dalam pelukannya. Arsyad ingin membangunkan Aira karena sudah waktunya sholat malam, namun melihat raut wajah tenang sang istri, Arsyad tidak tega.


Sementara dirinya sudah bangun sejak tadi, saat ia terbangun dan melihat wajah Aira, ia jadi enggan untuk tidur lagi. Karena pemandangan wajah tenang sang istri akan sangat sayang jika di lewatkan dengan tertidur, kemudian bermimpi indah namun mimpi itu akan musnah saat ia kembali terjaga.


Aira menggeliat tidak nyaman, itu pasti karena perut buncitnya yang memang sering membuatnya tak nyaman dalam beberapa posisi. Arsyad merasa prihatin pada sang istri yang harus menanggung beban luar biasa atas kehamilannya dan itu sejenak mengingatkan Arsyad pada Anggun. Arsyad menghela napas berat, ia tahu apa yang ia lakukan pada wanita itu mungkin tidak adil, tapi apa yang Anggun lakukan padanya juga tak adil. Wanita itu telah merenggut ibunya darinya, dan wanita itu hampir saja membuat nyawanya melayang. Yang paling membuat Arsyad marah sekaligus kecewa adalah apa yang ia lakukan pada hubungan nya dan Aira.


Arsyad menggelengkan kepala, mengenyahkan segala fikiran yang kembali memancing emosinya. Ia kembali menatap wajah sang istri lekat-lekat, wajak bak rembulan yang selalu memberikannya ketenangan.


"Semoga Allah memberikan segala rahmat-Nya untukmu, Sayang. Aku enggak akan sanggup membayar kebaikan kamu, cinta kamu, kasih sayang kamu yang begitu tulus. Semoga Allah yang membayar semua itu, Sayang." Arsyad membenarkan selimut yang menutupi Aira. Ia melihat kening Aira sedikit berkerut, Aira memijatnya degan lembut hingga kerutan itu perlahan hilang.


"Dan semoga Allah menhagamu, Anggun. Semoga Allah menjaga anak kita, memberikan kesehatan dan semoga kelak semua anak-anakku saling menyayangi."


Aira kembali tenang, bahkan kini ia mendengkur halus namun tiba-tiba ia terlonjak dan langsung membuka mata. "Ada apa?" Tanya Arsyad cemas.


"Nggak apa-apa, malaikat kita nendang," kekeh Aira sambil mengelus perutnya.


"Astagfirullah, Nak..." Arsyad mengusap perut Aira. "Selalu bikin Ummi kaget, ya. Aktif sekali, hm. Semoga terus aktif dan sehat ya, Sayang." Aira menguap dan ia melirik jam dinding.


"Mas, mau sholat?" Tanya Aira dan Arsyad tentu langsung mengangguk.


Aira beranjak dari ranjangnya dan saat ia hendak membantu Arsyad, Arsyad menolak. "Aku bisa ke kamar mandi sendiri, Sayang."


"Benar?" tanya Aira dan Arsyad lagi-lagi hanya mengangguk.


Sementara Arsyad pergi ke kamar mandi, Aira kembali merebahkan dirinya dan hanya berselang beberapa detik kemudian ia kembali terlelap.


Setelah selesai wudhu, Arsyad kembali ke kamar dan ia hanya terkekeh melihat Aira yang sudah kembali tertidur bahkan dengan mulut yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Masyaallah, Sayang." alih-alih membangunkan Aira untuk sholat, Arsyad justru menyelimuti tubuh Aira dan membenarkan posisi tidur Aira hingga Aira merasa nyaman.


...🌱...


Matahari sudah terbit, kembali memancarkan cahaya hangatnya.


Setiap orang kembali pada kesibukan masing-masing, begitu juga dengan Javeed.


Sebenarnya, ia masih menyimpan kekesalan yang mendalam pada Arsyad karena Arsyad pernah membakar tangannya. Namun sayangnya, ia tak bisa lagi mengganggu Arsyad lagi karena pagi ini ia harus terbang ke Islamabad karena ada pekerjaan disana.


"Mau pergi?" Javeed yang saat ini sedang memasukan koper ke dalam bagasi mobilnya langsung menoleh saat mendengar suara Nida.


"Iya, ada pekerjaan disana. Mau ikut?" Tanya Javeed.


"Nggak lah, mau ngapain aku kesana," jawab Nida sambil tertawa.


"Ya kamu 'kan tahu sendiri orang tua aku posesifnya kayak apa. Pergi belanja sendirian aja nggak boleh," kata Nida kemudian ia melirik arlojinya. "Ya sudah, aku pergi ke kampus dulu. Takut telat, teman-temanku pasti sudah menunggu." lanjutnya.


"Okay, belajar yang rajin, ya. Biar jadi istri yang baik kelak!" seru Javeed sambil tertawa kecil.


"Di kampus nggak di ajarin jadi istri yang baik," dengus Nida kesal kemudian ia segera bergegas pergi.


Sementara di rumah Aira, kini rumah lebih ramai dari biasanya di karenakan ada Abi Gabril juga Ummi Firda.


Saat ini Ummi Firda sedang membuat sarapan bersama bi Sri, Via sedang bermain tembak-tembakan bersama Abi Gabriel sedangkan Aira sedang membantu Arsyad berlatih berjalan di halaman samping rumah.


"Wah, kakek sepertinya bisa menembak dengan cepat. Hush hush hush..." Via berkata sambil memperagakan bagaimana orang memasang amunisi dengan menggunakan tembak-tembakan palsunya.

__ADS_1


"Via melihat dari mana hal seperti itu? " Tanya Abi Gabriel yang merasa terkejut dengan apa yang Via lakukan.


"Di video, Kek," kata Via.


"Hem, dasar anak-anak sekarang," gumam Abi Gabriel.


"Kakek, Via mau menembak, siap-siap yaaa." Via berseru sembari mengarahkan pistol mainanya pada Abi Gabriel.


"Tidak boleh di bidik ke orang, Sayang. Bidik kesini saja, ya." Abi mengarahkan Via akan membidik ke dinding.


"Ingat, ya. Main seperti ini, tidak boleh menyerang orang atau hewan, tidak baik. Harus menyerang benda mati." Abi Gabriel mengingatkan dengan hati-hati karena ia tak ingin Via sampai melukai orang lain meskipun itu hanya permainan.


"Baik, Kek," jawab Via patuh.


...🌱...


Bandung, Indonesia.


"Cantik sekali 'kan, Ma?" Tanya Anggun sembari mengusap pipi bayi yang ada dalam gendongannya.


Setelah sekian lama Anggun tampak murung di karenakan kehilangan bayinya, kini ia kembali bahagia setelah mendapatkan bayi yang ia adopsi dari panti asuhan. Bayi berjenis kelamin perempuan itu ia beri nama Maita Ibrahim, sama seperti nama putrinya.


"Iya, dia punya mata yang sangat cantik," jawab Bu Husna.


"Dia akan tumbuh menjadi gadis cantik yang pintar, apalagi ayahnya adalah Arsyad Ibrahim. Dia tidak akan kekurangan apapun dalam hidupnya."


TBC...

__ADS_1


__ADS_2