
Abi Gabriel tidak habis fikir dengan kelakuan Arsyad yang benar-benar gila dan ia menganggap Arsyad adalah pria egois yang tak mengizinkan Aira memiliki ruang untuk menenangkan diri.
"Aku nggak tahu kenapa dia nggak kasihan sama Aira, kenapa dia bersikeras mendekati Aira lagi." ia menggerutu sembari mengekori istrinya yang saat ini berbelanja di pasar.
Ummi Firda menjadi pendengar yang baik bagi sang suami yang sejak tadi terus menggerutu setelah berbicara dengan Arsyad di telfon.
"Mungkin Arsyad hanya ingin membuktikan keseriusannya untuk kembali pada Aira, Bang," ucap Ummi Firda akhirnya setelah sejak tadi ia hanya diam.
"Tapi kan bisa nunggu Aira pulang dulu, bukannya bersikeras kesana, itu buat Aira nggak nyaman nantinya," seru Abi Gabriel penuh emosi. Ummi Firda mengerti kenapa sang suami bereaksi seperti ini, tentu karena ia terlalu mencintai putri semata wayangnya itu, begitu pun Ummi Firda.
Namun, tak bisa ia pungkiri, ia tersentuh dengan apa yang di lakukan Arsyad. Semua orang bisa meminta kesempatan kedua tapi tidak semua orang akan melakukan hal gila seperti Arsyad untuk mendapatkan kesempatan.
Apalagi mengingat Arsyad juga telah menceraikan Anggun, itu menguatkan pembelaan diri Arsyad tentang cintanya pada Aira dan penyesalannya pada apa yang telah ia lakukan.
"Bang, dia itu mengharapkan kesempatan dari Aira maka dia pasti mengejar Aira bukannya menunggu Aira," ujar Ummi Firda.
"Kok kamu kayak belaain dia?" Tanya Abi Gabriel seolah tak terima, Ummi Firda pun menghentikan langkahnya, ia berbalik badan dan menghadap sang suami.
"Bang, berapa pria yang melakukan kebohongan dengan niat menjaga perasaan wanitanya? Ada banyak, dan kamu salah satunya." Abi Gabriel terhenyak mendengar ucapan istrinya itu yang seolah memperlihatkan kembali masa lalunya. "Pria bisa mencintai dengan begitu besar, sebesar dunia ini mungkin, tapi nggak akan ada satu pun pria yang mampu mencintai dengan sempurna, karena pria juga cuma manusia dan juga, cinta selalu bersanding dengan luka." Abi Gabriel terdiam, ia menatap mata istrinya dengan sendu.
"Aku ibunya Aira, aku yang mengandung dan melahirkannya, jika ada yang membuat dia menangis, rasanya aku ingin mengutuk orang itu. Aku juga nggak bisa terima dengan apa yang Arsyad lakukan, terus kita bisa apa? Yang bisa kita lakukan cuma mendokan Aira agar Aira bisa bahagia dengan atau tanpa Arsyad."
...🌱...
Anggun menatap foto Arsyad yang ada di ponselnya sambil tersenyum, tak ada kenangaan manis bersama Arsyad namun entah kenapa Anggun masih tak bisa menyingkirkan pria itu dari benaknya.
Anggun teringat dengan pesan ummi Ridha yang menginginkan Arsyad kembali pada Aira.
"Aku selalu harus berkorban," gumam Anggun sedih. "Berbahagia lah kamu dengannya, Mas.
...🌱...
__ADS_1
Lahore, Pakistan.
"Happ... " seru Arsyad saat menangkap bola yang di lempar Via.
Saat ini kedua manusia itu sedang main lempar-lemparan bola di halaman samping rumah Aira yang berukuran sedang.
"Tangkap ya..." seru Arsyad pada Via, Via pun mengangguk, ia bersiap-siap untuk menangkap bola itu dan saat Arsyad melemparnya, Via pun dengan cepat menangkap bola itu, setelah itu Via kembali melempar bola itu namun justru mengenai kening Arsyad.
"Aduh..." rintih Arsyad.
"Maaf, Bi. Nggak sengaja..." seru Via sambil berlari menghampiri Arsyad. Via berjnjit untuk bisa melihat kening ayahnya. "Sakit ya, Bi?" Tanya Via cemas.
Arsyad berpura-pura kesakitan sambil mengelus keningnya, hal itu membuat Via semakin cemas, bahkan kini keduanya matannya sudah berembun, ia hendak menangis dan seketika Arsyad tertawa geli.
"Cuma bercanda, Sayang. Kok kamu mau nangis sih, hm..." Arsyad mendekap Via yang kini sudah cemberut.
" Kan Via takut kalau Abi sakit," rengek Via sembari mendongak guna menatap wajah Abinya. "Bi, ini sakit ya?" Tanya Via sembari memegang bekas luka di rahang dan di kening Arsyad.
"Abi jatuh dimana? Kenapa bisa luka semuanya begini? Abi juga jadi nggak bisa jalan," ucap Via prihatin dengan keadaan Arsyad.
"Abi salah dalam melangkah, Sayang. Makanya Abi jatuh dan meninggalkan banyak bekas luka," lirih Arsyad namun tentu kata-katanya itu punya makna yang lain.
Sementara tak jauh dari sana, Aira diam-diam memperhatikan kebersamaan Arsyad dan Via. Tak bisa Aira bohongi hatinya yang merasa begitu bahagia melihat dua orang yang di cintainya tampak sangat bahagia. Setalah sekian lama, ia merasakan sentuhan hangat di hatinya karena senyum Via dan Arsyad.
" Nyonya..."
"Astagfirullah..." pekik Aira yang terlonjak kaget karena tiba-tiba Bi Sri ada di sampingnya. "Ada apa, Bi?" Tanya Aira.
"Nggak ada apa-apa, Nyonya. Cuma semua pekerjaan saya sudah selesai, habis ini saya ngapain ya?" Tanya Bi Sri yang membuat Aira terkekeh.
"Terserah Bi Sri mau ngapain, mau nonton TV, mau tidur, silakan, Bi," jawab Aira.
__ADS_1
"Aduh, masak jam segini tidur sama nonton tv sih, Nyonya? Kalau di rumah tuan, jam segini saya masih bersih-bersih," ujar Bi Sri.
"Ya 'kan rumah mas Arsyad besar, Bi. Kalau rumah ini' kan lebih kecil."
"Iya sih, Nya. Saya bersihkan semua sudut di rumah tuan Arsyad, soalnya saya bingung mau kerja apalagi selain bersih-bersih. Mau masak juga jarang, karena tuan Arsyad kadang nggak makan."
"Dia nggak makan dengan teratur?" Tanya Aira dan Bi Sri langsung menggeleng.
"Udah makannya jarang, sekalinya makan cuma sedikit," kata Bi Sri. Aira menatap Arsyad yang kini benar-benar sangat kurus, entah kehilangan berapa kilo berat tubuh pria itu. "Saya senang liat tuan senang, Nya," ucap Bi Sri yang juga memperhatikan Arsyad. "Pas di rumah, Tuan Arsyad tidak pernah terlihat bahagia seperti sekarang, saya juga melihat beberapa kali tuan Arsyad tidur dengan meletakkan kerdung Nyonya di wajahnya, terus kadang-kadang dia memperhatikan sepatu Non Via sambil tersenyum sendiri." hati Aira terenyuh mendengar penuturan bi Sri, bisa ia bayangkan betapa Arsyad merindukan Via karena seperti itulah Via merindukannya disini, begitu juga dirinya.
" Ya udah, Bi. Aku mau ke kamar dulu, ya. Tolong bantu jagain mas Arsyad sama Via, " seru Aira yang langsung di jawab anggukan kepala sama Bi Sri.
Saat Aira kembali ke kamarnya, ia melihat layar ponselnya yang menyala. Aira langsung mengeceknya dan terdapat panggilan tak terjawab dari Hulya.
Aira langsung kembali menghubungi Hulya dan saat panggilan itu terjawab, Aira langsung berntanya, "Kamu tahu 'kan dia kesini?"
"Iya, tapi mas Fahmi larang aku kasih tahu kamu," jawab Hulya. "Maaf ya, Ai. Sumpah aku pengen kasih tahu kamu, tapi nggak di bolehin."
"Ya sebenarnya nggak apa-apa, Hul. Meskipun aku tahu juga itu nggak akan menghalangi dia datang,' kan" lirih Aira.
"Iya, semua orang mencoba mencegah dia, tapi dia benar-benar nggak dengerin siapapun, Ai."
"Aku bingung aku harus gimana sekarang, Hul. Aku bingung memperlakukan dia seperti apa setelah apa yang dia lakukan."
"Kesalahan yang dia lakukan memang sangat menyakitkan, Ai. Tapi coba selami lagi hatinya dan hatimu, apakah dia mengkhianatimu atas kehendak hatinya, nafsunya atau karena alasan yang lain? Dia memang salah karena dia itu manusia, Ai. Dan dia sedang berusaha memperbaiki kesalahannya, kenapa kamu harus mengeraskan hatimu padanya setelah usaha yang dia lakukan agar bisa bertemu denganmu?"
**TBC...
WAJIB MAMPIR NEH**!
__ADS_1