Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
Promosi Author Tie Tik


__ADS_3

Judul : Tanpa Perpisahan


Penulis : Tie Tik


Cuplikan


Jangan meminta talak ataupun menginginkan sebuah perpisahan jika kita sudah menikah nanti. Aku hanya ingin memiliki rumah tangga yang utuh, tanpa ada dusta ataupun orang ketiga. Arvin Axelle.


Aku akan pergi jika kamu menginginkan hal itu, karena mencintai orang yang tidak mengharapkan kehadiranku, rasanya percuma saja. Waktuku bukan untuk mencintai pria tak berhati. Kyomi Fayre.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Bab 9. Identitas Fayre.


"Selamat pagi, Nona," sapa bi Atin setelah masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Fay.


Langit gelap telah berubah menjadi terang seiring dengan naiknya sang raja sinar ke medan perang. Setelah meletakkan nampan berisi sarapan dan obat untuk Fay, bi Atin berjalan menuju jendela kaca di kamar tersebut. Beliau menyibak tirai yang menutupi kamar tersebut, hingga sinar sang mentari menerobos masuk ke dalam kamar.


"Nona bisa memanggil saya bi Atin. Saya ditugaskan untuk menemani Nona di sini," ucap bi Atin setelah duduk di tepi ranjang.


"Ah, ya, terima kasih, Bi," ucap Fay dengan diiringi senyum tipis, "maaf, kalau boleh tahu, saya ini di mana dan kenapa saya berada di sini?" tanya Fay seraya menatap wanita paruh baya itu.


"Nona berada di apartment pak Bramasta. Saya tidak tahu kenapa Nona berada di sini. Saya hanya ditugaskan beliau untuk menemani dan merawat Nona di sini," ucap bi Atin dengan diiringi senyum tipis.


Kemudian, bi Atin mengambil piring berisi sarapan untuk Fay dan memberikannya kepada Fay. Bi Atin memberikan isyarat agar Fay segera sarapan dan minum obat. Setelah itu mereka bisa bicara kembali.


"Silahkan Nona sarapan dulu. Jika membutuhkan sesuatu, saya berada di dapur," ucap bi Atin sebelum keluar dari kamar Fay.


Sepeninggal bi Atin, Fay mengedarkan pandangan sambil mengecap makanan yang ada di mulutnya. Ia mengamati isi kamar tersebut, untuk mencari barang atau foto pemilik kamar ini. Namun, hasilnya nihil.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi, ya." Fay mencoba mengingat kejadian tadi malam, "aku hanya ingat ada mobil yang mengklakson beberapa kali, setelah itu, aku tidak ingat apapun lagi," gumam Fay setelah termenung beberapa saat.


Fay buru-buru menghabiskan sarapan dan meminum obat yang sudah disiapkan oleh bi Atin. Setelah itu, ia turun dari ranjang sambil membawa nampan berisi piring dan gelas kosong. Ia berniat untuk mengulik informasi ke bi Atin, tentang siapa pemilik apartment ini.


"Aduh, harusnya Nona tidak usah membawa semua ini ke dapur langsung. Biar saya saja yang mengambilnya," ucap bi Atin setelah melihat Fay di dapur.


"Saya bisa kok, bi. Panggil saya Fay saja, Bi," ucap Fay dengan diiringi senyum tipis.


Bi Sari bisa mengartikan jika gadis yang ada di hadapannya itu keberatan dengan panggilan 'Nona' darinya. Beliau segera meletakkan nampan pemberian Fay ke dalam tempat cucian. Bi Atin pun menggiring Fay untuk duduk di ruang makan.


"Apa yang Nak Fay butuhkan? Katakan saja," ucap bi Sari seraya menyentuh punggung tangan Fay.


"Saya hanya butuh penjelasan kenapa saya berada di sini, Bi," ucap Fay dengan suara yang lirih.


"Bibi juga tidak tahu jika masalah itu. Nanti kamu pasti tahu sendiri jika Tuan Bram atau asistennya datang ke apartment ini. Sabar ya," ucap bi Sari dengan nada bicara yang lembut.


Fay mengedarkan pandangan ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan kopernya. Akan tetapi ia tidak menemukan apapun di sana, padahal di koper tersebut, ada berkas-berkas penting milik Fay. Seperti, Ijazah, Akta kelahiran dan lain-lain.


"Sayang sekali, Nak. Bibi juga tidak tahu tentang hal itu. Bisa jadi, barangmu ada di tangan pak Bram," ucap bi Atin dengan sorot mata penuh sesal, "katakan pada Bibi, apa yang kamu butuhkan sekarang?" tanya bi Atin tanpa melepaskan pandangannya dari Fay.


"Saya mau mandi, Bi," ucap Fay dengan suara lirih.


Bi Atin tersenyum simpul setelah mendengar jawaban Fay. Beliau segera beranjak dari tempatnya dan pergi menuju kamar yang ada di dekat dapur. Tak lama kemudian, bi Atin keluar dari sana dengan membawa tas selempang kecil. Sebelum pergi bi Atin bertanya kepada Fay tentang pakaian yang disukainya dan ukuran underwearnya.


"Boleh saya ikut Bi Atin?" tanya Fay seraya beranjak dari tempatnya.


"Tidak. Kamu harus tetap di sini, Nak. Jangan mempersulit saya, karena pak Bram melarang kamu keluar dari sini. Lebih baik kamu tidur lagi atau nonton film sampai saya pulang," ucap bi Atin seraya menepuk pundak Fay beberapa kali.


"Boleh saya pesan beberapa barang lagi? Nanti jika koper saya sudah ketemu, akan saya ganti," ucap Fay sebelum bi Atin pergi.

__ADS_1


"Saya butuh canvas, cat dan kuas, Bi," ucap Fay setelah bi Atin menganggukkan kepala.


Fay memutuskan untuk menunggu kedatangan bi Atin di ruang keluarga. Ia menekan remote control televisi berukuran besar itu untuk mengusir rasa sepi di tempat ini. Fay harus sabar, menunggu kedatangan bi Atin seorang diri di sini.


♦️♦️♦️♦️♦️♦️


Sementara itu, di tempat lain. Obrolan empat mata berlangsung di ruang kerja pak Bram meski hari masih pagi. Setelah mendapat kabar, jika Rofan sudah mengumpulkan semua data gadis yang ada di apartment, pak Bram menyuruh asistennya untuk datang saat itu juga, meski beliau sendiri belum sarapan.


"Bagaimana, Fan?" tanya pak Bram setelah Rofan membuka map yang dibawanya.


"Gadis tersebut bernama Kyomi Fayre. Dia kuliah di Rhode Island School of Design, Amerika. Saat ini gadis tersebut sudah menyelesaikan kuliah pasca sarjana, tinggal wisuda yang belum terlaksana," ucap Rofan tanpa mengalihkan pandangannya dari map berisi data Fay.


"Dia kuliah di kampus yang sama dengan Arvin dulu ternyata," gumam pak Bram, "lanjutkan!" titah pak Bram.


"Ada hal yang lebih mengejutkan lagi, Pak," ucap Rofan seraya menatap wajah pak Bram, "Kyomi Fayre adalah putri tunggal Hardinata Bastian, sahabat sekaligus patner kerja Bapak," ucap Rofan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah pak Bram.


Kabar yang disampaikan oleh Rofan, berhasil membuat pak Bram terkejut. Beliau tidak menyangka saja, jika putri sahabatnya itu mengalami nasib buruk seperti yang beliau lihat sendiri kemarin malam.


"Apa kamu sudah mendapatkan informasi, kenapa gadis itu ada di club malam?" tanya pak Bram.


"Saya belum mendapatkan kabar yang pasti, Pak. Akan tetapi saya mendengar kabar jika perusahaan dan semua harta pak Hardi diwariskan kepada istri dan anak sambungnya. Menurut praduga saya, gadis yang ada di Apartment itu, sengaja disingkirkan oleh istri pak Hardi," ucap Rofan seraya menutup map tersebut.


Ya, praduga yang diucapkan Rofan sepertinya tidak salah. Pak Bram tidak terima akan hal itu. Tangannya mengepal kuat ketika membayangkan bagaimana istri pak Hardi memperlakukan Fay sekejam itu.


"Setelah ini kita akan ke rumah Hardi. Lagi pula saya belum kesana sejak Hardi meninggal. Nanti kita akan mencari tahu langsung jawaban dari istrinya Hardi," ucap pak Bram dengan tegas.


Rofan mengangguk pelan. Ia paham apa yang diinginkan bos nya itu. Rofan mulai memikirkan rencana agar bu Lisa tidak mengetahui jika kedatangan mereka ke sana untuk mencari tahu sebuah kebenaran, "lalu bagaimana dengan gadis yang ada di apartment itu, Pak? Apa kita harus menemuinya hari ini juga? Saya tadi mendapat kabar dari bi Atin jika gadis tersebut mencari koper dan tasnya. Dia meminta—" Rofan menghentikan ucapannya saat mendengar suara bu Linda di dalam ruangan tersebut.


"Seorang gadis di Apartemen? Siapa yang kamu maksud, Fan? Apa suamiku menyembunyikan seorang gadis di sana?" tanya bu Linda sambil berjalan ke meja kerja pak Bram.

__ADS_1


🌹Selamat membaca 🌹



__ADS_2