Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #37 - Senyum Luka


__ADS_3

Dengan di temani Ummi Firda, Aira dan Via pergi ke panti asuhan untuk berpamitan pada bu Kinan dan para penghuni lainnya, karena bagaimanapun juga, merekalah keluarga pertama Via.


Bu Kinan yang masih tak tahu masalah Aira, mengira Aira dan Via hanya pulang kampung untuk liburan, apalagi Via memang mengatakan mereka akan liburan disana.


Setelah Via berpamitan dengan ibu panti dan teman-temannya, mereka pun pulang.


Namun di perjalanan pulang, Via merengek ingin mengambil tasnya yang masih ada di rumah Arsyad.


"Nanti Ummi belikan lagi tas yang lain, Sayang," bujuk Aira.


"Tapi Via suka tas pink yang di belikan Ummi itu, Via nggak mau tas yang lain," rengek Via.


Aira menghela napas panjang, rasanya ia malas sekali jika harus pergi ke rumah mertuanya itu. Namun karena merasa kasihan pada Via, ia pun melajukan mobilnya menuju rumah Arsyad.


"Bukannya hari ini Arsyad akan ke rumah untuk menemui kalian? Suruh saja dia bawa tasnya," tukas Ummi Firda.


"Tadi dia kirim pesan, Ummi. Katanya sudah berangkat," jawab Aira.


"Ya suruh ambilin lagi, Aira."


"Sudahlah, Ummi. Nggak apa-apa, sekalian aku mau pamit sama Ummi Ridha." Ummi Firda tak menanggapi apa yang di katakan putrinya itu, karena jika ia jadi Aira, rasanya ia tak ingin lagi melihat mertua macam itu.


Sesampainya di rumah Arsyad, Aira mengetuk pintu dan napasnya tertahan di dadanya saat Anggun yang datang membukakannya pintu.


Rasa sakit yang belum reda kini seolah di sulut kembali, hati yang masih sakit seolah kini di cabik-cabik kembali, napasnya pun terasa berat, seolah ia tak bisa bernapas.


Anggun pun sangat terkejut melihat kedatangan Aira, ia hanya bisa tercengang tanpa tahu harus berkata apa.


"Siapa, Anggun?" Teriak Ummi Ridha dari dalam.


"Humaira...." jawab Aira berusaha tegar.


Ummi Ridha yang mendengar suara Aira pun sangat terkejut, ia langsung bergegas keluar dan ia pun tercengang melihat Aira dan Ummi Firda.


"Maaf mengganggu, Via ingin mengambil tasnya yang tertinggal di kamarnya," kata Aira sementara Ummi Ridha tak mampu berkata-kata, apalagi ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Ummi Firda yang menatapnya dengan dingin.

__ADS_1


"Sekalian aku juga mau pamitan sama Ummi." lanjutnya.


"Ma-masuk ... silakan masuk," ujar Ummi Ridha terbata-bata.


"Kami hanya sebentar, Mbak," jawab Ummi Firda masih mempertahankan tatapan dan raut wajah dinginnya.


"Ayo, Sayang. Kita ambil tas kamu," kata Aira sembari menggandeng tangan Via, ia berjalan melewati Anggun dan Ummi Ridha yang hanya berdiri mematung.


"Tante, silakan masuk dulu, biar aku buatkan teh," kata Anggun untuk mencairkan suasana yang begitu tegang.


"Asal jangan di campur racun," celetuk Ummi Firda dengan santai yang membuat hati Anggun terkesiap, begitu dengan Ummi Ridha.


Melihat wajah tegang kedua wanita di depannya ini, Ummi Firda justru terkekeh.


"Aku hanya bercanda," ucap Ummi Firda kemudian. "Orang baik tidak akan meracuni orang lain, kecuali ada racun keburukan di hatinya." sindirnya yang membuat Anggun langsung tertunduk.


"Aku minta maaf, Mbak," kata Ummi Ridha kemudian.


"Oh, jangan! Jangan minta maaf, disini nggak ada yang salah, semua orang hanya ingin yang terbaik dan akan melakukan yang terbaik." Ummi Ridha menatap besannya itu dengan tajam kemudian ia melanjutkan. "Untuk diri mereka sendiri," sindirnya.


"Apa kamu tahu?" sela Ummi Firda yang tak membiarkan Anggun berbicara. "Biasanya, wanita kedua yang menjadi orang ketiga dalam hubungan seseorang hanya akan menjadi bayangan dari yang pertama, SELALU!"


Sementara di atas, Aira mencari tas Via yang tidak ada di kamarnya. Bahkan mainan Via juga tak ada di kamar Via. "Kok tasnya hilang? Apa mungkin sudah di buang?" rengek Via sedih, hidungnya sudah kembang kempis dan matanya sudah memerah.


"Nggak mungkin Abi buang barangmu, Sayang. Mungkin ada di kamar Abi," kata Aira.


Ia pun membawa Via ke kamarnya dan benar saja, semua barang Via ada di kamar Arsyad. Tas, buku, sepatu, sandal.


Berada di kamar ini kembali membuat Aira kembali teringat dengan kenangannya bersama Arsyad. Kamar ini menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, harapan, mimpi dan do'a-do'a mereka. Air mata Aira kembali meluncur begitu saja namun Aira segera menyekanya.


Sebelum pergi, Aira melihat-lihat kamar itu, menyentuh meja rias dimana terkadang Arsyad membantunya mengeringkan rambut, mengepang rambutnya saat akan tidur, bahkan tak jarang Arsyad membantunya memakaikan cadarnya. Aira tersenyum mengingat kenangan manis itu yang kini hanya akan menjadi kenangan.


Aira menyentuh ranjang tempat ia dan Arsyad memadu kasih selama ini, dan di ranjang itu, Aira menemukan liontin yang sempat ia kira hilang.


Aira mengambil lionton itu dan memakainya kembali, Aira mengecup lionton yang terukir nama Arsyad dan nama dirinya.

__ADS_1


"Izinkan aku membawa ini, sebagai kenang-kenangan."


Setelah itu, Aira dan Via pun turun dan Aira bisa merasakan ketegangan di antara ketiga wanita itu.


"Sudah?" tanya Ummi Firda. Aira mengangguk, kemudian ia menarik tangan Ummi Ridha dan mengecup punggung tangannya yang membuat hati Ummi Ridha terkesiap.


"Aku pamit, Ummi," lirih Aira dengan lembut. "Maafkan aku jika selama ini aku nggak bisa menjadi menantu yang sempurna, yang sesuai keinginan Ummi." Ummi Ridha hanya diam tak bersuara.


"Itu wajar, Sayang," sambung Ummu Firda. "Jika tak ada menantu yang sempurna sesuai keinginan mertua, maka juga tak ada mertua yang sempurna sesuai keinginan menantu. Karena manusia hanyalah makhluk yang pasti memiliki kekurangan." ia kembali menyindir dengan tajam.


"Ayo, Ummi. Kita pulang," ajak Aira karena ia bisa merasakan emosi dalam suara sang ibu, Aira tak ingin memperkeruh keadaan.


"Assalamualaikum," ucap Ummi Firda masih dengan tatapan tajamnya.


"Via mau pergi dulu ya, Nek. Mau pergi liburan, nanti suruh Abi nyusul ya, Nek," seru Via dengan mata berbinar.


"Iya, Sayang," jawab Ummi Ridha, ia memeluk Via dan menciumnya. "Hati-hati ya."


"Kami pasti menjaganya dan tidak akan menyakitinya dengan sengaja." lagi-lagi Ummi Firda menyela dengan tajam yang membuat Ummi Ridha salah tingkah sendiri, begitu juga dengan Anggun.


***


"Aku masih suaminya," ujar Arsyad saat Micheal menatapnya dengan sangat tajam dan tak mengizinkannya melangkah masuk ke dalam rumahnya. "Aku hanya ingin menemuinya sebelum Aira pulang," imbuhnya dengan suara tercekat.


"Biarkan dia masuk, Micheal!" Seru Abi Gabriel dari dalam.


Dengan enggan, Micheal pun membiarkan Arsyad masuk. "Aira dan Via masih ke panti asuhan tadi, sebentar lagi mungkin sampai rumah," ujar Abi Gabriel.


Arsyad hanya mengangguk kemudian duduk di sofa, ia menunggu Aira dengan perasaan berdebar.


Dan saat mendengar suara mobil, Arsyad langsung keluar. Jantungnya semakin berdebar kencang saat ia melihat Aira turun dari mobil.


Arsyad tak bisa menghentikan air mata yang mengalir di pipinya saat Aira mendekatinya sambil tersenyum di balik cadarnya.


Arsyad tahu Aira tersenyum meskipun wajah Aira tertutup cadar, senyum itu terlihat jelas di matanya, senyum yang penuh luka.

__ADS_1


__ADS_2