Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #50 - Sesungguhnya Semuanya Adalah Hikmah


__ADS_3

Setelah sholat Isya, para tetangga berdatangan untuk mengikuti acara syukuran atas kehamilan Aira.


Bahkan, tamu yang datang lebih banyak dari yang di undang.


Tentu saja, dia adalah Zeda Humaira, dimana keluarganya adalah keluarga terpandang dan di hormati di desa.


Bahkan, Micheal dan Zenwa pun juga pulang karena mereka tak ingin melewatkan acara penuh rasa syukur ini.


Yang berbahagia atas kehamilan Aira bukan hanya Aira dan keluarganya, tapi juga semua orang-orang yang ada di sekitar mereka.


Yang akan mendo'akan anak Aira bukan hanya keluarga Aira, tapi juga para tetangganya yang sangat menghormati keluarga Aira.


Acara berlangsung sesuai yang di inginkan Aira, lancar, penuh hikmat. Namun sayangnya, ayah dari anaknya itu tak hadir dan tak mendo'akannya. Hal itu merupakan kesedihan yang teramat bagi Aira, namun ia mencoba menahan kesedihan itu karena masih banyak yang mendo'akan anaknya.


"Kamu masih punya kakek dan Om ya, Sayang. Mereka akan menjadi sosok ayah pengganti yang baik untukmu." Aira menggumam dalam hatinya sembari mengusap perutnya dengan lembut. Ia melirik kedua kakaknya yang kini duduk dengan Abi Gabriel, ketiga pria itu berdo'a dengan sangat khyusyuk.


"Kamu kenapa?" Bisik Abi Gabriel setelah acara do'a selesai pada Jibril yang sejak tadi tampak murung


"Bi, menurut Abi, kenapa Arsyad tega melakukan ini pada Aira? Padahal dia terlihat sangat mencintai Aira, dan pernikahan mereka sudah berjalan hampir lebih dari 5 tahun. Rasanya aku masih sulit percaya Arsyad mencampakkan Aira bahkan setelah ia tahu Aira sedang hamil." Jibril juga berbisik karena ia tak ingin ada yang mendengarkan obrolan mereka.


"Cinta yang dia tunjukan selama ini palsu, Jibril. Munafik, hanya topeng. Jadi seharusnya kita nggak kaget kalau Arsyad mencampakkan Aira meskipun Aira hamil. Karena sekarang dia juga punya wanita lain yang sedang hamil. Pernikahan bagi dia hanya ajang untuk mendapatkan anak! "


Abi Gabriel berkata penuh penekanan apalagi saat mengingat Arsyad di malam itu, dimana mungkin Aira sedang bersedih tapi dia justru mengadakan pesta di rumahnya. Setelah malam itu, Abi Gabriel tak punya lagi prasangka baik tentang Arsyad dan apapun yang terlintas dalam benaknya mengenai Arsyad, mungkin itu pastilah hal negatif.


Jibril menghela napas berat kemudian berkata, "Dia tadi telfon, Bi. Lewat Hulya,"


"Untuk apa dia telfon setelah apa yang dia katakan pada Aira? Apa dia sudah bosan sama yang disana dan mencari yang di sini? Atau bagaimana?"


"Katanya dia hanya ingin tahu kabar Via dan Aira."


"Katakan padanya tidak usah sok perduli! Itu menjijikan!"

__ADS_1


***


Arsyad masih tak bisa melupakan apa yang Jibril katakan tadi siang, karena Arsyad tak pernah mengatakan apapun pada Aira. Dan ia juga tak mencampakan Aira apalagi berkata fokus pada kehidupan masing-masing, karena bukan Arsyad yang meninggalkan Aira tapi Aira yang meninggalkannya.


"Mungkin dia benar-benar marah, seperti Micheal," gumam Arsyad pasrah.


"Ya Allah, semoga Aira dan anak kami selalu bahagia, selalu Engkau jaga karena aku tak bisa menjaga mereka."


Malam ini Arsyad tidur di restaurant seperti biasa, ia tidur di kamar khusus yang terletak di ruang kerjanya. Dan karena ia benar-benar tak pulang setelah malam itu, ia pun terpaksa harus membeli pakaian baru dan merubah ruang kerjanya menjadi sebuah kamar.


Selain itu, Arsyad sedang mencari rumah baru yang sederhana untuk ia tempati, karena meskipun ibunya meminta Arsyad pulang, itu bukan berarti ia akan tinggal disana karena Arsyad tak ingin satu rumah dengan Anggun.


"Ya Allah, andai aku bisa memutar waktu. Akan aku lakukan apapun untuk mempertahankan Aira."


***


Anggun memasuki kamar Arsyad dan hatinya langsung terasa sesak saat melihat foto pernikahan Arsyad dan Aira yang terpajang di dinding kamar Arsyad. Dimana itu mengingatkan Anggun akan kata-kata Ummi Firda.


Anggun memprihatikan setiap sudut kamar bernunasa putih abu-abu itu, dan bisa Anggun tebak dekorasi kamar itu sesuai keinginan Aira, kalem.


Anggun membuka lemari baju yang masih di penuhi baju Aira, kemudian ia mengambil satu baju berwarna hitam dan menempelkannya di tubuhnya, hingga tiba-tiba terdengar suara Ummi Ridha yang mengejutkannya.


"Anggun, kamu ngapain disini?" Tanya Ummi Ridha sembari berjalan masuk.


"Nggak apa-apa, Ummi. Tadi cuma... Cuma liat-liat," jawab Anggun sembari mengembalikan baju Aira.


"Lain kali, jangan masuk sembarangan ke kamar Arsyad. Bukan karena apa, tapi dia paling benci kalau ada orang yang masuk kamar tanpa permisi." Ummi Ridha berkata sembari mengibas ranjang Arsyad dan menarik ujung sepreinya hingga rapi.


"Iya, maaf," cicit Anggun yang merasa sedikit tersinggung atas apa yang di katakan Ummi Ridha.


"Nggak apa-apa, jangan tersinggung. Ummi cuma nggak mau nanti Arsyad marah sama kamu. Dalam keadaan seperti ini, Ummi harap kamu nggak melakukan sesuatu yang membuat Arsyad kesal."

__ADS_1


Anggun hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ummi Ridha. "Aku ke kamar dulu, Ummi."


"Anggun, kamu nggak balik mengajar lagi di TK?" langkah Anggun terhenti saat mendengar pertanyaan itu.


"Menurut Ummi, kamu kembali mengajar disana, ya. Supaya itu bisa sedikit mengalihkan fikiran kamu."


Anggun bukannya tak memikirkan ini, ia juga ingin melakukan sesuatu yang bisa mengalihkan fikirannya dari masalah yang sedang menderanya, namun kembali mengajar di TK?


Anggun takut dengan apa yang akan di katakan guru-guru yang lain nanti tentang dirinya.


"Nggak deh, Ummi. Aku di rumah aja," kata Anggun lirih.


"Oh, ya sudah kalau itu memang mau kamu."


...


"Terima kasih banyak sudah datang, Ti," ucap Ummi Firda pada Dokter Tiya yang menyempatkan diri datang ke acara syukuran kehamilan Aira.


Meskipun tanpa Arsyad, namun acara syukuran itu berjalan dengan lancar dan Aira sangat bahagia malam ini. Semua orang mendo'akannya dan memberikan dukungan yang luar biasa.


Meskipun sejak tadi hati Aira bergemuruh setiap kali ada yang bertanya dimana Arsyad, kenapa Arsyad tidak datang dan sebagainya.


"Ya pasti aku datang, Mbak. Apalagi ini anak pertama Aira," ujar Tiya. "Oh ya, Arsyad nggak datang?" Tanya Dokter Tiya yang membuat Aira Firda saling melirik.


"Dia nggak bisa datang," jawab Ummi Firda kemudian.


Dokter Tiya terdiam dan menatap Ummi Firda penuh curiga, apalagi ketika Ummi Firda menyuruh Aira menemui Abinya, seolah ia dengan sengaja ingin menghindarkan Aira darinya.


"Ada apa, Mbak? Apa ada masalah?" tanya Dokter Tiya kemudian.


"Iya, namanya juga hidup. Nggak luput dari masalah." jawaban ambigu Ummi Firda itu berhasil membuat Dokter Tiya semakin curiga namun ia tak ingin bertanya lebih lagi, karena Ummi Firda tak akan me bocorkan masalah keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2