Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #108 - Masih Kecewa


__ADS_3

Hulya yang saat ini sedang dalam perjalanan ke restaurant mendapatkan panggilan video dari Aira, ia langsung menjawab panggilan itu dengan semangat.


"Halo, Via..." sapa Hulya sambil melayangkan tangannya di depan layarnya.


"Halo, Tante. Jihannya ada?" Tanya Via.


"Ada, Sayang. Neh..." Hulya langsung memberikan ponselnya pada Jihan yang saat ini duduk di sampingnya.


"Via, kamu ada dimana? Kok nggak pernah ke restaurant lagi?" Tanya Jihan saat melihat Via. "Ini aku sama Mama mau ke restaurant," ujarnya kemudian.


"Aku belum bisa ke restaurant, Jihan. Karena jalannya jauh dari sini ke sana, harus beli tiket, tiketnya mahal karena jalannya jauh, jadi harus nabung dulu," cerocos Via yang bahkan tidak tak bernapas saat mengucapkan hal itu.


"Memangnya kamu dimana sekarang, Via? Kata Mama kamu lagi pulang kampung, terus Abi sama Ummi kamu 'kan kaya, bisa beli tiket dong," celetuk Jihan yang membuat Hulya tertawa begitu juga dengan Aira.


"Ada-ada aja kamu ini, Nak," ucap Aira. "Kamu mau kemana, Hul? Kayak lagi di mobil?"


"Aku mau ke restaurant, Ai. Oh ya, Tante dan Om sudah sampek kesana?"


"Alhamdulillah sudah."


"Syukurlah."


"Memangnya tante Aira sama Via ada dimana?" Sambung Jihan.


"Aku di Pakistan, Jihan. Kesini juga, yuk. Kita bisa jalan-jalan lho disini, kita pergi ke semua tempat yang nggak ada di rumah, terus ada Festival juga, pokoknya seru! Apalagi sekarang ada Abi, ada kakek nenek, sebentar lagi Kak Tanvir juga pasti kesini, kamu juga kesini ya, Jihan!" ajak Via yang seolah mengajarkan anak tetangga main bersama.


"insyaallah, Sayang. Via doakan semoga kami bisa menyusul kesana ya," sambung Hulya.


"Kalau nggak bisa kesini, minta saja tiketnya sama abi dan Ummi, Tante. Kan kata Jihan mereka kaya," ucap Via dengan polosnya yang lagi-lagi membuat Hulya dan Aira tertawa.


"Ai, aku sudah sampai neh, udah dulu, ya," kta Hulya kemudian.


"Iya, titip restaurant ya, Hul."

__ADS_1


***


Fahmi bekerja seperti biasa, tak lupa ia selalu memberi kabar pada Arsyad tentang perkembangan restaurant nya.


Dan tak lama kemudian, Hulya datang dengan membawa Jihan. "Hai anak Papa..." seru Fahmi pada Jihan yang berlari padanya.


"Papa! Jihan mau ke Pakistan..." seru Jihan tiba-tiba yang membuat Fahmi sedikit terkejut, ia menatap Hulya sementara Hulya hanya menanggapinya dengan mengedikan bahu.


"Kemana?" Tanya Fahmi ingin memastikan.


"Ke Pakistan, nyusul Via, Pa," rengek Jihan.


"Hem, insyaallah ya, Sayang."


"Beneran ya?"


"Iya."


***


Begitupun dengan Arsyad, sesekali ia mencuri pandang pada Abi Gabriel, dan saat Abi Gabriel juga meliriknya, Arsyad langsung mengalihkah tatapannya ke arah yang lain. Hal itu terus berlangsung, kini keduanya tampak seperti sepasang kekasih yang sedang perang dingin.


Sementara Via yang saat ini berada di pangkuan Abi Gabriel juga menikmati obrolan Ummi dan neneknya walaupun ia tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Bahkan, Via juga ikut cekikikan saat para orang dewasa itu tertawa.


"Kenapa kalian seperti robot?" Tanya Aira yang menyadari ketegangan antara Abi Gabriel dan Arsyad.


"NGGAK APA-APA!" Arsyad dan Abi Gabriel menjawab bersamaan.


Aira menatap mereka bergantian dengan kening berkerut. "Kenapa sih?" Tanya Aira lagi.


"Abi capek, Sayang. Mau istirahat," kata Abi Gabriel kemudian sembari memindahkan Via ke sofa.


"Emmm, Abi tinggal di kamar Mas Arsyad, ya," ucap Aira kemudian. Abi Gabriel hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Karena ia tahu, di rumah ini hanya ada dua kamar, maka mau tak mau ia harus tinggal di kamar Arsyad.

__ADS_1


"Kalau kakek sama nenek tidur di kamar Abi, berarti nanti Abi tidur sama Ummi lagi dong," sambung Via sambil tersenyum lebar.


"Iya, Sayang," jawab Arsyad dengan cepat.


Abi Gabriel hanya melirik Arsyad dengan tajam tanpa mau mengucapkan satu patah kata-pun.


"Yeayyyy. Berarti kita tinggal satu kamar lagi, horeeee...." seru Via berjingkrak riang.


Arsyad dan Aira saling melempar senyum melihat kebahagiaan yang terpancar di mata Via, namun senyum keduanya musnah saat tiba-tiba Abi Gabriel berkata. "Ummi tidur sama nenek, Via. Sementara Abi sama kakek," ucapnya yang membuat Aira dan Arsyad langsung melongo.


"Kenapa gitu, Bang? Kan mereka mau rujuk malam ini," sambung Ummi Firda.


"Ya kan masih nanti malam, hari ini mereka belum boleh satu kamar, Sayang!" sanggah Abi Gabriel dengan tegas yang membuat Arsyad hanya bisa menghela napas lesu.


"Ya sudah, kamu pergi ke istirahat juga, Sayang. Kamu pasti capek," ucapnya kemudian.


"Sarapan dulu. Bi Sri pasti sudah selesai masak," tukas Aira kemudian.


"Iya, Sayang. Kami mau mandi dulu," jawab Abi Gabriel.


"Ummi juga mau mandi, biar segar," sambung Ummi Firda.


Sepasang suami istripun pergi ke kamar yang berbeda seperti yang perintahkan oleh Abi Gabriel, sementara Arsyad lagi-lagi hanya bisa menghela napas lesu


"Kenapa?" Tanya Aira dengan lembut pada Arsyad.


"Kayaknya Abi masih marah banget sama aku, dia benar-benar nggak mau bicara sama aku, Sayang," jawab Arsyad lirih.


Sejak Abi Gabriel datang, ia sama sekali tak berbicara pada Arsyad, beda halnya dengan Ummi Firda yang masih menyapa Arsyad walaupun sapaan itu tak lagi sehangat dulu.


"Kadang-kadang Abi memang begitu sama orang yang sudah merusak kepercayaan dia, tapi hati Abi itu sebenarnya lembut banget dan gampang banget di sentuh, Mas. Buktinya waktu kamu sakit dia panggilin Dokter buat kamu, padahal saat itu abi masih nggak tahu kebenaran tentang kamu. Jadi sebenarnya Abi itu bukannya marah ke kamu, mungkin dia masih kecewa," papar Aira yang bisa sedikit menghibur hati Arsyad.


" Iya, Sayang. Makasih, ya,"ucap Arsyad kemudian sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sayang? Belum halal tuh!" Arsyad dan Aira menoleh saat mendengar suara Abi Gabriel secara tiba tiba, Abi Gabriel untuk mengambil ponselnya. "Belum rujuk lho, jaga sikap ya!" tegasnya tajam. Arsyad hanya bisa mengangguk pelan.


Tbc...


__ADS_2