
Untuk menghibur sang adik yang selama beberapa hari ini hanya diam di rumah, Jibril mengajak Aira ikut ke pengajian mingguan yang di adakan secara rutin, dan hari ini bagian Jibril untuk memberikan materi kajian.
Para ibu-ibu kajian sangat senang melihat kehadiran Aira, dan tentu mereka mengira Aira hanya pulang untuk liburan seperti biasa walaupun dengan Aira pulang sendiri, itu sangat tidak biasa di karenakan selama ini Aira selalu pulang bersama Arsyad selamanya. Mereka menanyakan kabar Arsyad, Aira menjawabnya dengan senyum dan memberi tahu bahwa Arsyad sehat.
Materi kajian kali ini adalah tentang do'a yang di ijabah dan tidak.
Jibril menjelaskan dengan singkat dan jelas, namun itu justru lebih di sukai oleh ibu-ibu kajian. Bahkan, mereka mendengarkan dengan seksama, karena Jibril tidak akan mengulangi apa yang sudah ia terangkan.
"“Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku di sisi Allah. Nabi Muhammad lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul. (HR. Athabrani)"
"Karena itu, jangan lelah berdo'a, karena sesungguhnya Allah itu punya sifat As-Sami', yang artinya maha mendengar. Dia mendengar apa yang kita keluhkan, bahkan Dia mendengar apa yang terlintas dalam benak kita, apa yang terucap dari hati kita meskipun telinga kita sendiri tidak mendengarnya. Dan Allah punya sifat Al-Mujib, yang artinya maha mengabulkan. Tiada do'a yang tidak di kabulkan, selama kita percaya dan bersabar. Karena sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang terburu-buru. Siapa itu orang yang terburu-buru? Dia adalah orang yang mengira, menyangka, Allah tidak mengabulkan do'anya."
"Aku rasa, kita semua percaya. Do'a Nabi tak pernah tertolak, selalu di kabulkan, benar?"
"Benar, Ustadz..." jawab para jemaah serempak. "Namanya juga Nabi, Ustadz. Mana mungkin do'anya di tolak," celetuk salah satu jemaah.
"Benar, do'anya tak mungkin di tolak, tapi bukan berarti tak mungkin di tunda. Apa kalian tahu? Dulu, kiblat orang mukmin itu di masjidil Aqsa namun kemudian di pindahkan ke masjidil haram?"
"Tahu, Ustadz. Pelajaran sejarah dasar itu," celetuk salah satu jemaah yang membuat Jibril tersenyum tertahan.
"Kalian juga pasti tahu, Nabi berdo'a sejak lama sebelum akhirnya do'a itu di kabulkan. Sekitar 3 tahun lamanya, Nabi berdo'a tanpa henti, dengan segenap hati hingga akhirnya Allah kabulkan permintaannya. Dia adalah Nabi, tapi kenapa do'anya masih tertunda? Karena Allah mengabulkan do'a kita di waktu yang tepat, bukan di waktu yang cepat. Jika Nabi saja do'anya bisa tertunda, apalagi kita? Dimana dosa bisa saja menjadi penyebab do'a kita tertunda di ijabah, atau bahkan tertolak."
"Tapi kadang-kadang kesal kalau do'anya lama sekali di Kabulkannya, Ustadz!" seru salah satu jemaah lagi.
"Itu manusiawi, tapi bukankah kita punya keimanan, kepercayaan dalam hati. Allah tahu yang terbaik untuk kita sementara yang kita tahu hanya merencanakan dan berharap."
***
Anggun segera berlari membuka pintu saat ia mendengar deru mobil Arsyad, sambil tersenyum manis, ia menyambut sang suami namun Arsyad masih bersikap acuh padanya.
__ADS_1
Arsyad berjalan melewati Anggun dan seketika Anggun mengernyitkan keningnya, ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidungnya saat mencium aroma rokok.
"Mas, kamu merokok?" Tanya Anggun sembari mengekori Arsyad naik ke kamarnya namun Arsyad enggan menjawab. "Mas, merokok itu nggak sehat lho. Apalagi aku sedang hamil, nggak baik buat janin aku."
"Kalau begitu kamu bisa menjauh dariku selama kamu hamil," jawab Arsyad dingin yang membuat Anggun terperangah.
"Mas...." Arsyad enggan menjawab, ia justru menutup pintu kamarnya dan mengunci nya.
Arsyad mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api dari saku jasnya.
Arsyad memang merokok, karena itu bisa sedikit mengurangi tingkat setresnya selama beberapa hari ini.
Arsyad mendapatkan kabar dari pengacaranya kalau sidang perceraiannya hanya akan berlangsung dua kali karena tidak ada yang perlu di urus atau di perebutkan. Itu artinya, tinggal satu persidangan terakhir dan Arsyad akan resmi bercerai dari Aira.
Hari sudah sore, Arsyad segera mandi karena setelah ini ia akan pergi bersama Fahmi untuk makan malam bersama. Dan sekali lagi, itu untuk mengurangi tingkat setresnya karena setiap kali ia melihat orang-orang di rumah ini, itu hanya akan membuatnya tambah tertekan.
Di bawah, Anggun bergegas ke dapur untuk memasak makan malam, dan tak berselang lama Ummi Ridha datang untuk membantunya.
"Meroko? Apa dia merokok lagi?" pekik Ummi Ridha.
"Iya, tadi aku mencium aroma rokok saat dia datang. Padahal itu nggak baik buat kesehatan dia, apalagi aku ada di sekitar dia dan aku sedang hamil," keluhnya. "Memangnya, sebelumnya Mas Arsyad sudah merokok, Ummi?"
"Iya, waktu remaja. Ikut-ikutan temannya, tapi dia berhenti sendiri saat masuk kuliah," jawab Ummi Ridha. Keningnya berkerut, alisnya turun, menandakan ia pun kefikiran dengan keadaan Arsyad yang tampak sangat berbeda akhir-akhir ini.
Ia jarang sarapan di rumah, jarang makan malam d rumah. Bahkan, jarang keluar dari kamarnya juga.
***
Setelah kajian usai, Jibril mengajak Aira pulang sembari kembali membicarakan tentang materi yang di sampaikan Jibril tadi.
__ADS_1
"Ummi pasti bangga sama Kaka," ujar Aira yang juga terlihat bangga sama Jibril yang telah menjadi Ustadz muda idaman ibu-ibu kompleks.
"In Shaa Allah, yang terpenting, orang tua kita Ridho' dengan apa yang kaka lakukan," kata Jibril sembari merangkul adiknya itu. Obrolan Aira dan Jibril terganggu saat salah satu ibu pengajian menyapa Aira dan menanyakan pertanyaan yang membuat Aira bingung.
"Sudah isi, Ning? Berapa bulan?" Tanyannya yang tentu saja membuat Aira mengernyit bingung.
"Isi apanya, Bi?" Tanyanya.
"Kandunganmu?"
"Huh?" pekik Aira, hatinya berdesir mendengar kata 'kandungan', karena jika boleh jujur, ia masih punya harapan akan hal itu. "Aku nggak hamil, Bi," ucapnya kemudian dengan lirih.
Jibril tahu, topik kehamilan sangat sensitif sekarang untuk Aira, ia semakin mengeratkan rangkulannya di pundak sang adik, seolah memberi tahu 'tidak apa-apa'.
"Loh, masak? Tapi kalau dari cara Ning Aira jalan, itu seperti orang hamil, Ning," tukasnya yang membuat Aira semakin bingung.
"Nggak mungkin, bulan ini aku masih haid."
"Ada sebagian orang yang memang tetap haid saat hamil, bahkan haidnya lancar seperti orang normal."
Aira melirik Jibril, kini perasaannya mulai tak nyaman, apalagi saat ia mengingat apa kata Arsyad dan ibu mertuanya bahwa ia tak bisa mengandung.
"Nanti kita ke Dokter, Dek. Kita periksa biar tahu hasilnya," sambung Jibril kemudian. "Bi, kami permisi. Ini sudah sore."
"Iya, Ustadz. Silakan, jagain Ning Aira dan calon keponakan Ustadz." Aira hanya tersenyum tipis di balik cadarnya kemudian Jibril segera membawanya pergi.
Sementara ibu yang tadi kini mendatangi teman-temannya yang juga mengira Aira hamil. "Katanya sih nggak hamil, apalagi bulan ini masih haid."
"Tapi cara jalan orang hamil dan nggak itu beda banget lho, kalau kita lihat beberapa hari ini, cara jalan Ning Aira seperti orang hamil."
__ADS_1