Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #99 - Membuka Hati?


__ADS_3

"Kenapa liatin aku begitu, Bang?" Tanya Ummi Firda sembari menikmati mie kuahnya yang masih panas.


"Kalau kamu mau makanan khas bandung, mau yang dijual di Bandung, mending kita kesan sekarang, ya. Dari pada nunggu Dokter Tiya," tukas Abi Gabriel.


"Nggak ah, malas. Lagian aku bukannya ngidam, cuma pengan aja," jawab Ummi Firda.


Dengan mesra Abi Gabriel mengelap sudut bibir istrinya yang basah, setelah itu ia justru menjilati jarinya yang membuat pipi Ummi Firda langsung merona indah, pemadangan yang membuat hati Abi Gabriel selalu berdebar.


"Apaan sih, Bang," gumam Ummi Firda yang berusaha menyembunyikan rona wajahnya.


Abi Gabriel menatap sang istri dengan begitu intens, membuat jiwa  sang ummi bergetar, apalagi saat Abi Gabriel mengapit dagunya, memaksanya mendongak dan saat Abi Gabriel mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri yang basah karena kuah mie itu, sedikit lagi kedua bibir itu menyatu hingga tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar di dapur.


"Dapur ini..." Ummi Firda langsung menjauh dari sang suami, wajahnya sudah merah padam karena malu pada Jibril yang hampir saja menangkap basah dirinya berciuman dengan sang suami. Sementara Abi Gabriel justru mengambil sendok dan melempari putranya itu dengan kesal.


"Katanya kamu mau pergi ke rumah Bayu, kok masih ada di rumah?" tanya sang ayah.


"Nggak jadi, aku ketiduran, Bi," jawab Jibril, ia berjalan mendekati Abi dan umminya di meja makan, kemudian ia mengambil sendok yang baru dan ikut menikmati mie kuah sang ibu.


"Kamu kapan mau nikah?" Tanya sang ayah tiba-tiba yang membuat Jibril langsung menoleh pada sang ayah. "Usiamu sudah 32 lho." lanjutnya.


"Masih nunggu ada wanita yang melamar kamu?" Sambung sang ibu sambil terkekeh.


Jibril teringat dengan wanita asing yang ia temui di Pakistan, wanita itu melamarnya di malam pernikahan seseorang dan itu adalah prank, tanpa izin, pria itu sudah menjadikan Jibril badut penghibur di sana. Jibril menggelengkan kepalanya, mengusir ingatan itu.


"Masalahnya, aku nggak tahu mau melamar siapa, Ummi. 'kan kalian tahu sendiri aku nggak punya kenalan wanita," ujar Jibril kemudian.


"Sebenarnya ada anak teman Ummi, Jay. Namanya Shalwa Az Zahwa, dia pintar, cantik, anggun, kamu mau nggak? Ummi sih suka sama dia," ujar Ummi Firda.


"Jangan perjodohan lah," sambung Abi Gabriel yang teringat pada perjodohan Aira dan Arsyad. "Biar Jibril cari sendiri aja." lanjutnya.

__ADS_1


"Aku terserah Ummi dan Abi aja, aku bingung kalau di suruh cari wanita, mau cari dimana dan yang seperti apa" kata Jibril dengan tenangnya.


***


Lahore, Pakistan.


"Di sini makanannya enak, 'kan? Ini restaurant favorit kami," kata Javeed sambil melirik Arsyad.


"Kami?" Tanya Arsyad dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Iya, favoritku, Via dan Aira. Kami sering makan disini," jawab Javeed dengan santainya.


Mendengar jawaban Javeed, Arsyad  hanya menatap Aira dengan raut wajah datarnya, setelah itu ia kembali fokus pada makanannya, begitu juga dengan Aira. Seolah tak ada apa-apa padahal hati keduanya merasakan sedikit ketegangan.


Beda halnya dengan Via yang bercoleteh panjang lebar, sampai Aira harus menegurnya agar anaknya itu tak banyak berbicara saat makan.


Setelah selesai makan, mereka langsung pulang. Selama dalam perjalanan, hanya terdengar suara Via dan Bi Sri yang terus mengobrol, sementara Aira, Javeed dan Arsyad sama-sama diam.


Sementara Arsyad, mati-matian ia menahan emosi dan rasa cemburunya saat Javeed menceritakan kebersamaannya dengan Aira juga Via, apa lagi saat Javeed mengatakan beberapa kali ia menemani Aira ke Dokter kandungan. Ia ingin marah, tapi dengan alasan apa? Apalagi selama ini ia memang tak ada untuk Aira dan Via.


Aira pun tak menyangka Javeed akan menceritakan itu pada Arsyad, Aira mengerti, mungkin Javeed ingin membuat Arsyad cemburu. Tapi Aira tak begitu menyukai apa yang Javeed lakukan, karena entah di sadari Javeed atau tidak, itu seolah membuat Aira sudah begitu dekat lebih dari teman dengan Javeed. Padahal faktanya, Javeed tak sendiri jika mengantar Aira karena Nida juga selalu ikut atas permintaan Om Sahir.


Sesampainya di rumah, Aira mengucapkan terima kasih pada Javeed karena sudah meluangkan waktunya untuk mengantar dan menemani mereka. Seperti biasa Javeed tak mempermasalahkan itu.


***


Saat sore hari, Arsyad duduk merenung di halaman samping rumah, ia merenungi hidupnya dan hidup Aira.


Untuk pertama kalinya, Arsyad melihat Aira punya teman dekat pria, meskipun kata Aira pertemanannya dengan Javeed sama seperti pertemanannya dengan teman-teman Jibril, namun Arsyad bisa meraskan perasaan Javeed yang pasti lebih dari teman pada Aira.

__ADS_1


Sementara Aira saat ini sedang memakaikan baju pada Via yang baru saja selesai mandi. Setelah itu, Via dan Aira pergi ke dapur karena sore ini Bi Sri membuat cookies untuk cemilan mereka.


"Sudah, Bi?" Tanya Aira.


"Sudah, Nyonya. Ini juga sudah saya siapkan di piring untuk tuan Arsyad," kata Bi Sri.


"Mas Arsyad dimana?" Tanya Aira sembari mengambil satu cookies dan memakannya.


"Di taman, Nyonya," jawab Bi Sri.


"Via mau bawa kuenya ke abi..." seru Via semangat, Aira pun memberikan piring berisi cookies itu pada Via.


"Hati-hati, kalau jatuh pecah nanti piringnya!" Aira memperingatkan namun Via tak mengindahkannya. Ia tetap berjalan setengah berlari menghampiri sang ayah.


Arsyad langsung tersenyum saat melihat putrinya yang datang membawa seiring cookies itu. "Via sudah mandi?" Tanya Arsyad yang melihat rambut Via masih setengah basah.


"Iya, Bi. Sama ummi di mandikan lebih cepat karena tadi habis dari luar," jawab Via.


Tak berselang lama Aira datang dengan membawa tiga gelas jus jeruk. "Via masih di mandikan?" Tanya Arsyad dan Aira hanya mengangguk sebagai jawaban. "Dia sudah besar, seharusnya biarkan belajar mandiri sendiri," ujar Arsyad.


"Tadinya begitu, tapi aku masih truama karena Via dulu pernah jatuh di kamar mandi," jawab Aira lirih. Ia teringat dengan musibah yang ia dapatkan hari itu, hari dimana ia mengetahui fakta tersembunyi tentang suaminya.


Arsyad pun mengingat hal yang sama dan seketika ia langsung menunuduk dalam, rasa penyesalan dan bersalah kembali menghantam hatinya.


"Aku minta maaf," kata Aira dengan lirih. Aira tersenyum tipis, ia mengambil minumannya dan menyeruput jus jeruk yang masih segar itu.


"Aku pun minta maaf, karena saat itu aku di kuasi amarah, di bakar api cemburu, sangat sulit mengendalikan diri."


 Tbc...

__ADS_1



__ADS_2