
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, kini Ummi Ridha di perbolehkan pulang. Dokter juga selalu mengingatkan Ummi Ridha agar bisa menjaga kesehatannay sendiri, tidak boleh shock dan tertekan.
Sementara Arsyad, pria itu masih dalam keadaan yang sama, seolah ia memang enggan bangun padahal banyak yang menunggunya bangun.
Dan Fahmi, ia berusaha menghubungi Arkan dan Bayu lewat media sosial neraka namun ia masih tak mendapatkan tanggapan dari kedua pria itu.
Saat ini Fahmi kembali menjenguk Arsyad, ia memutar video Via yang ia ambil dari akun Arkan, serta ia memperdengarkan suara Via, berharap Arsyad mendengarnya.
"Mereka sedang liburan di Pakistan, Arsyad. Via sepertinya sangat bahagia disana, aku yakin Aira juga disana. Kalau kamu juga pergi kesana, aku yakin kebahagiaan mereka akan berkali-kali lipat."
Arsyad masih tak merespon sedikitpun, detak jantungnya masih begitu lemah."Ibumu juga sakit, bro." Fahmi berkata dengan lirih namun Arsyad masih dalam keadaan yang sama.
"Ya Allah..." Fahmi hanya bisa menggumam cemas akan keadaan temannya itu.
Di sisi lain, Hulya menjenguk Ummi Ridha ke rumahnya dan lagi-lagi Hulya besikap dingin pada Anggun meskipun Anggun selalu berusaha bersikap ramah, bahkan ia selalu menyunggingkan senyum pada Hulya, namun itu sungguh tak menyentuh hati Huya sedikitpun.
Dan sekali lagi, Ummi memohon agar Hulya membantunya untuk bisa berbicara dengan Aira. Hulya pun menunjukan video Via dan Ummi Ridha tersenyum bahagia melihat Via yang tampak sangat bahagia.
"Kata mas Fahmi, mereka di Pakistan, Tante," ucap Hulya.
"Pakistan?" Tanya Ummi Ridha.
"Iya, mungkin Aira pergi untuk menenangkan diri. Aku yakin dia pasti sangat terluka dengan perceraiannya, apalagi selama ini Aira sangat mencintai Arsyad." Ummi Ridha hanya bisa tertunduk sedih mendengar apa yang di katakan Hulya, ia teringat bagaimana ia bersimpuh pada Aira agar Aira memilih, di madu atau kehilangan Arsyad, dan Aira memilih kehilangan Arsyad.
"Dia memilih meninggalkan Arsyad, Hulya," gumam Ummi Ridha sedih.
"Karena cara kalian salah dalam poligami," ucap Hulya sambil tersenyum kecut. "Kalian menipu, membohongi Aira, dan saat Aira tahu ia telah di poligami, istri Arsyad yang lain sedang hamil. Jika kita berada di posisi Aira, apa kita sanggup, Tante?" Ummi Ridha hanya bisa menatap Hulya dengan nanar. "Kalau aku sih nggak akan sanggup, mungkin bukan perceraian yang aku pilih, karena aku pasti sudah membunuh selingkuhan suamiku dan suamiku sendiri. Tapi Aira? Dia meninggalkan Arsyad bukan untuk Anggun, tapi untukmu, Tante."
Ummi Ridha semakin tak sanggup untuk mengucapkan satu patah kata-pun, apalagi saat ia mengingat apa yang Aira katakan saat itu.
__ADS_1
"Ibumu memberiku pilihan, terima Anggun atau tinggalkan kamu."
"Ini bukan tentang aku dan Anggun, Arsyad. Bukan tentang aku yang katanya nggak bisa hamil dan Anggun yang nyatanya bisa hamil. Bukan....."
"Tapi ini tentang aku dan ibu kamu,"
"Aku tahu, kamu tidak akan sanggup memilih, tidak akan bisa memilih, sampai kapanpun. Karena itulah, aku yang akan memilih, kembalikan aku pada orang tuaku! Lepaskan aku! Tinggalkan aku!"
Air mata Ummi Ridha mengalir begitu saja mengingat hari itu, hari dimana semuanya seolah berakhir namun saat itu ia masih tak sadar. Ia justru merasa itu adalah awal hidup yang baru untuk Arsyad, dan memang benar, awal hidup yang kacau.
Di luar, Anggun menguping pembicaraan mereka dengan dada yang bergemuruh, bahkan ia juga menitikan air matanya, untuk apa? Ia juga tak tahu.
Tak lama kemudian terdengar suara bel pintu yang membuat Anggun tersentak kaget, ia pun segera berlari keluar.
Anggun membuka pintu dan ia sangat terkejut melihat ada beberapa polisi yang datang ke rumahnya, seketika Anggun merasa gugup, cemas, seluruh tubuhnya gemetar dan panas dingin.
"Ibu Anggun, kami membawa surat penangkapan untuk ibu atas apa yang menimpa bapak Arsyad..." Anggun yang mendengar ucapan polisi itu, ia seperti di sambar petir yang bahkan membuat Anggun tak bisa bernapas.
"Tu-tunggu..." Anggun berkata dengan suara terbata-bata, ia melangkah mundur dan tubuhnya limbung, ia hampir jatuh namun tiba-tiba Hulya datang dan menangkap tubuhnya.
"Ada apa, Pak?" Tanya Hulya bingung.
"Kami menemukan bukti rekaman cctv di lokasi kecelakaan pak Arsyad, dari rekaman cctv, ayah bu Anggun dan Bu Anggun terlihat mendorong pak Arsyad." Hulya tercengang mendengar apa yang di katakan polisi itu, ia menahan napas dan langsung menatap Anggun yang kini juga mematung dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.
Kemudian Hulya menoleh dan ia melihat Ummi Ridha yang tampaknya sudah mendengar apa yang di katakan polisi.
Ummi Ridha memang mendengarnya, ia begitu terkejut dan merasa tak percaya dengan apa yang di katakan polisi itu. Namun saat melihat raut wajah Angggu yang tampak ketakutan, Ummi Ridha bisa merasakan bahwa semua itu benar.
"Tante...." pekik Hulya yang melihat Ummi Ridha memegang dadanya dan jatuh terkulai ta berdaya ke lantai.
__ADS_1
Anggun pun segera berlari menghampiri Ummi Ridha yang kini sudah kehilangan kesadarannya sepenuhnya.
"Panggil ambulance!" Teriak Anggun panik.
...***...
^^^Islamabad, Pakistan.^^^
"Wisata tidak akan terasa berwisata jika kita melewatkan bukit ini, bukit yang memanjakan mata kita."
Seperti biasa, Javeed membawa Aira dan yang lainnya ke tempat wisata yang pasti akan di sesali jika di lewatkan. Saat ini mereka sedang berada di bukit Muree. Bukit ini terletak sekitar 46 kilometer di utara pusat ibu Kota Islamabad.
"Kalau lagi musim dingin, disini kita bisa menikmati salju dengan cara yang menyenangkan, sambil menyaksikan keindahan kota dari ketinggian. Karena sekarang kita berkunjung saat musim semi, Bukit ini tetap tidak kalah cantik. Karena panorama alam hijau yang memukau siap memanjakan mata. Seperti yang kalian lihat.... "
"Iya, ini sangat cantik," ucap Aira takjub.
"Wow...." seru Arkan sembari mengambil gambar dan video.
"Ini adalah perjalanan terkahir kita," ucap Bayu lemas. Tanpa terasa sudah satu minggu mereka di islamabad dan sudah waktunya mereka kembali ke Lahore, yang artinya juga, sebentar lagi liburan mereka akan usai.
Selama liburan, Jibril dan ketiga temannya selalu bepergian setiap hari, beda halnya dengan Via dan Aira hanya pergi sesekali karena Aira tak ingin kelelahan yang bisa berbahaya untuk kandungannya.
Aira menikmati pemandangan itu sambil tersenyum senang, dan di negara ini, hari terasa berjalan begitu cepat karena Aira mulai menyukai tempat dan suasana baru itu
"Kau akan merindukan ini saat kembali ke Indonesia," kata Javeed.
"Aku tidak akan kembali," kata Aira yang membuat Javeed sedikit terkejut.
"Maksudnya? Kamu akan tinggal disini?"
__ADS_1
"Hanya sampai melahirkan."
TBC...