
Dokter Patrick memeriksa Arsyad setiap dua jam sekali, ia membantu menggerakan tubuh Arsyad agar tak kaku. Dokter Patrick juga bercerita bahwa ia merawat Arsyad atas permintaan Abi Gabriel dan itu membuat Arsyad terenyuh. Ia fikir seluruh keluarga Aira memusuhi nya namun nyatanya tidak, rasa penyesalan dan rasa bersalah semakin besar di hatinya mengingat semua kebaikan mereka yang begitu tulus.
"Aku fikir pasien siapa yang sedang kritis karena Gabriel benar-benar mendesakku supaya segera datang, ternyata menantunya yang sakit," kata Dokter Patrick sembari berusaha menggerakan kaki Arsyad namun Arsyad langsung mengerang kesakitan.
"Oh Tuhan!" gumam Dokter Patrick yang tampak cemas.
"Ada apa?" Tanya Arsyad.
"Apa kau tahu? aku punya 13 berita buruk untukmu," kata Dokter Patrick yang membuat Arsyad merasa tegang. "13 tulang mu patah dan kau harus duduk di kursi roda selama beberapa bulan atau sampai kau merasa bisa berdiri sendiri." Arsyad langsung merasa lemas mendengar apa yang di katakan Dokter Patrick.
"Aku harus pergi ke Pakistan secepatnya, aku mohon lakukan sesuatu, Dokter," pinta Arsyad memelas.
"Pakistan? Mau apa? Jibril baru saja pulang dari Pakistan kata Gabriel," ujar Patrick.
"Aku mau menghampiri adiknya Jibril," jawab Arsyad lirih dalam hati.
Arsyad tahu, Aira takkan kembali padanya begitu saja dan Arsyad takkan memintanya kembali. Karena itulah Arsyad yang akan datang padanya, membuktikan bahwa ia benar-benar membutuhkan Aira.
Setelah Dokter Patrick selesai memeriksa Arsyad, Dokter Patrick menyuruh Arsyad beristirahat kemudian ia meninggalkan Arsyad. Tak berselang lama setelah Dokter pergi, Bi Eni datang bersama Tanvir yang membuat hati Arsyad langsung menghangat dan terhibur. Kedatangan Tanvir sungguh kejutan untuknya.
"Assalamualaikum, Om..." sapa Tanvir dengan senyum lebar yang mengembang di bibirnya, Tanvir membawa keranjang buah yang ia pegang di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang setangkai bunga mawar, terlihat sangat menggemaskan.
"Waalaikum salam, Sayang. Tanvir sama siapa?" Tanya Arsyad.
"Sama Bibi, Om. Mama di mobil, Papa bekerja," jawab Tanvir sembari menyerahkan bunga mawar dan keranjang buah untuk Arsyad.
"Wah, terima kasih," kata Arsyad girang.
"Nyonya nggak bisa ikut, Pak. Soalnya nggak berani izin sama Tuan Micheal. Jadinya kami deh yang di suruh kesini," kata Bi Eni. Ia meringis melihat keadaan Arsyad.
Wajah yang dulu tampan kini ternoda dengan luka memar juga pipi Arsyad begitu tirus, lingkaran hitam di bawah matanya, bahkan jambangnya mulai tumbuh di sekitar pipinya.
"Pak Arsyad sudah sehat?" Tanya Bi Eni yang seketika membuat Arsyad tertawa hambar.
__ADS_1
"Aku nggak bisa bangun sendiri, Bi. Bagaimana bisa aku sehat?" Arsyad berkata dengan lirih.
"Om...." panggil Tanvir menarik baju Arsyad yang membuat Arsyad langsung menatapnya. "Kalau Om sakit, siapa yang jaga Tante Aira dan adik Via, Om? Sama adik bayinya juga, kok Om sakit sih? Seharusnya nggak boleh sakit, Om. Kata Papa, laki-laki nggak boleh sakit, harus kuat," ujar Tanvir panjang lebar dengan raut wajah yang sangat serius, membuat Arsyad gemas dan teringat dengan Via.
"Iya, Tanvir. Doakan Om biar cepat sembuh ya," kata Arsyad dengan tatapan sendu.
Bi Eni merasa tak tega melihat Arsyad dalam keadaan seperti ini, tak ada siapapun di sisinya di saat ia sedang membutuhkan orang-orang terkasihya
"Pak Arsyad mau buah? Biar saya potong kan," kata Bi Eni menawarkan.
"Memangnya nggak buru-buru, Bi? Nanti Mbak Zenwa nungguin," ucap Arsyad.
"Nggak apa-apa, Pak. Kata Nyonya Zenwa nggak apa-apa kalau Tanvir mau main dulu, biar bisa hibur pak Arsyad." lagi-lagi hati Arsyad tersentuh dengan apa yang di lakukan keluarga Aira.
Bi Eni mengupas buah untuk Arsyad, bahkan ia menyuapi Arsyad makan dan itu membuat Arsyad kembali teringat dengan ibunya. Seketika hati Arsyad bergemuruh, ia yakin pasti ada yang di sembunyikan darinya.
"Bi, apa Bibi tahu dimana ibuku?" Tanya Arsyad yang membuat Bi Eni terdiam, tak tahu harus menjawab apa. "Bi, rasanya nggak mungkin Ummi nggak kesini kecuali jika dia..." Arsyad merasakan sesak di dadanya saat fikiran buruknya bekerja. "Ummi baik-baik aja, 'kan?" Tanya Arsyad.
"Kata Mama, orang yang meninggal itu karena di sayang Allah, jadi di panggil biar tinggal di sisi Allah." Tanvir melanjutkan ucapannya yang terasa seperti silet, mengiris-ngiris hati Arsyad. Ibunya meninggal? Sudah mati? Tak ada lagi?
Seketika kepala Arsyad terasa berdentum hebat, seolah ia di pukul dengan benda tumpul. Dadanya pun terasa begitu sesak, seolah di himpit oleh batu. Napas Arsyad memberat, seolah ia di cekik. , Tatapannya begitu sayu hingga akhirnya Arsyad kehilangan kesadarannya. Bi Eni panik, ia memanggil Dokter sementara Tanvir tampak shock melihat Arsyad yang tiba-tiba pingsan.
"Apa itu karena Tanvir, Bibi?" lirih Tanvir dengan mata yang berkaca-kaca, ia tampak cemas dan ketakutan karena Arsyad pingsan setelah mendengar ucapannya.
🌱
"Aku tak bisa merengkuhnya dalam dekapanku, namun aku masih ingin merengkuhnya dalam alunan do'aku. Tuhan, sesungguhnya aku tak kembali karena ... karena aku masih takut, aku tak siap, kenangan itu terlalu mengerikan untukku. Salahkan aku? Egokah aku? aku hanya ingin melindungi hatiku yang sudah retak."
Setelah melaksanakan sholat zuhur, Aira menyiapkan makan siang untuk Via. Dan seperti kata Javeed, sekarang Aira tampak lebih bahagia. Namun lebih tepatnya, ia merasa lega karena kondisi Arsyad baik-baik saja.
Saat sibuk menyiapkan makan siang, Aira harus merasa terganggu saat mendengar suara ketukan pintu. Aira segera membuka pintu dan kedua alisnya langsung terangkat saat ia melihat Javeed yang datang.
"Kamu sudah makan siang?" Tanya Javeed sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Baru akan makan," jawab Aira.
"Bagus, aku belikan nasi kuning," kata Javeed yang membuat Aira langsung tertawa.
Sejak ada Via, kini keluarga Nida dan juga Javeed menyebut nasi Biryani adalah nasi kuning.
"Makasih, padahal kamu nggak perlu repot-repot karena aku bisa membelinya sendiri," ucap Aira sembari menerima dua bungkus nasi yang di berikan Javeed.
"Aku hanya ingin berbagi," kata Javeed. "Ya udah, aku pulang dulu. Selamat makan siang." Javeed berkata sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih," ucap Aira yang hanya di balas senyuman simpul oleh Javeed.
Setelah Javeed pergi, Aira hendak menutup pintu namun kini justru ada Nida yang datang.
Nida memberi tahu Aira bahwa di rumah sedang tak ada orang, karena itulah Nida ingin bermain di runah Aira.
Aira pun membagi nasi biryani itu dengan Nida dan Aira memberi tahu bahwa Javeed yang memberikannya.
"Kak Aira, Javeed itu sebenarnya suka sama Kaka," kata Nida yang membuat Aira langsung tersedak makanannya.
"Aduh, maaf, aku mengagetkan," kata Nida cemas.
"Kamu ngomong apa tadi, Nid?" Tanya Aira.
"Javeed sebenarnya suka sama Kak Aira," ulang Nida yang membuat Aira melongo.
"Kak Aira nggak senang di sukai Javeed?" Tanya Nida karena Aira tak terlihat senang.
"Kamu serius, Nid?" Tanya Aira dan Nida mengangguk yakin. Aira mengingat kembali perhatian Javeed padanya selama ia tinggal Lahore.
"Astagfirullah...."
__ADS_1