Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #129 - Peran Yang Pantas


__ADS_3

"Bukannya kalian ada di..."


"Kami pulang untuk melihat anakku," sela Arsyad dengan nada yang begitu dingin.


Anggun terperangah mendengar ucapan Arsyad, wajahnya seketika pucat pasi, takut ketahuan bahwa yang ada di rumahnya saat ini bukanlah anak mereka. Namnn Anggun berusaha menyambut mantan suami dan mabyabt madaunya itu dengan ramah dan tenang.


"Kalian hanya datang berdua?" Tanya Anggun.


"Nggak, kami datang bersama orang tuaku dan pengacara kami," jawab Aira yang membuat pupil mata Anggun membesar, ia semakin pucat, hatinya bertanya-tanya. Apakah semuanya baik-baik saja.


"Pe-pengacara?" tanya Anggun gugup. "Untuk apa?"


Aira dan Arsyad enggan menjawab hingga Abi Gabriel, Dokter Tiya dan seorang pengacara yang merupakan pengacara keluarga Aira datang.


Melihat dokter Tiya seketika Anggun seolah tak bisa bernapas, ia berusaha menghindari tatapan dr. Tiya yang kini menatapnya dengan tatapan tak biasa.


"Halo, Anggun..." sapa dr. Tiya.


"Siapa yang datang malam-malam begini, Anggun??" Tanya pak Arif dari dalam.


Dan saat pak Arif menyusul keluar, ia hanya bisa terdiam mematung. "Kenapa kalian terlihat terkejut?" Tanya Arsyad dan kini suaranya terdengar bergetar.


Anggun tak berani menjawab, begitu juga dengan pak Arif. Bahkan mereka tak mampu bersuara dan mempersilakan mereka masuk.


"Aku datang hanya untuk tahu, dimana makam anakku?" desis Arsyad yang membuat Anggun semakin shock.


"Ma-mas..." Anggun langsung mendekati Arsyad namun Arsyad melangkah mundur, membuat hati Anggun terasa begitu sakit namun ia tetap berusaha tegar. "Ka-kamu bicara apa sih? Makam apa? Anak kita sedang tidur," kata Anggun dengan suara tercekat.


"Kamu nggak bosan bohong terus sama aku?" sinis Arsyad. "Tante Tiya..." Arsyad menunjuk dokter Tiya namun tatapannya begitu tajam menatap Anggun yang mulai gemetar. "Dia adalah dokter yang sama yang memeriksa kandungan Aira, dan dia adalah dokter yang menangani kamu saat kamu..." Arsyad tak mampu meneruskan kata-katanya.


Rahangnya mengeras dengan tatapan penuh emosi. "Aku cuma tanya, dimana makam anakku?"

__ADS_1


Seketika air mata Anggun mengalir bebas, pelupuk matanya sudah tak sanggup lagi menahannya. "Dia..." Anggun menyeka air matanya. "Dia tidur, Mas. Ada di kamar..." lirihnya.


"ANGGUN!" Bentak Arsyad bahkan ia memukul daun pintu dengan keras yang membuat Anggun terperanjat. Begitu juga dengan Aira dan yang lainnya.


Bu Husna yang saat ini masih ada di dapur juga begitu terkejut mendengar keributan di luar, saat ia hendak pergi memeriksa keluar, terdengar suara tangis baby Maita dari kamar Anggun. Ia pun segera menghampiri cucu angkatnya itu.


"Jauh-jauh aku datang kesini cuma mau tahu, anakku di makamkan dimana!" seru Arsyad. "Dan aku tahu, yang kamu rawat saat ini bukan anakku! Jadi berhenti berbohong atau aku akan bawa kasus ini ke pengadilan dan aku bersumpah kali ini nggak ada ampun buat kamu!" gertak Arsyad yang sudah sangat geram pada Anggun.


"Itu benar," sambung Aira. "Aku bisa menjerat kamu dengan pasal penipuan, Anggun. Jadi sebaiknya kamu jujur sama kami!"


"Menurut kalian aku bohong? Buat apa aku bohong? Yang ada di sini memang anaknya mas Arsyad," elak Anggun yang membuat Aira tersenyum sinis.


"Kami nggak tanya kenapa kamu bohong karena kami tahu alasan kamu bohong, pasti supaya tetap dekat sama mas Arsyad, 'kan?" tuding Aira yang langsung tepat mengenai sasaran dan tentu membungkam Anggun. "Kamu benar-benar gila, ya. Cuma demi dekat sama suami aku, kamu sampai senekat ini..." desis Aira.


"Jaga bicara kamu, Mbak Aira..." sanggah Anggun.


"Kamu yang jaga sikap, Anggun!" seru Aira. "Kamu mau apalagi dari suami aku, huh?"


"Aku cuma nggak mau dia sedih kalau tahu anaknya meninggal..." lirih Anggun kemudian yang bukannya membuat Arsyad tersentuh, justru membuat dia semakin geram.


"Mas, apa salah kalau aku cuma mau bahagia dengan memiliki anak? Aku cuma mau bahagia, Mas. Aku kehilangan kamu, setelah itu aku kehilangan anak aku. Kamu tahu nggak betapa hancurnya perasaan aku?" Anggun menatap mata Arsyad yang juga menatapnya.


Sementara Aira dan yang lainnya hanya bisa menonton perdebatan Anggun dan Arsyad yang sama-sama merasa benar.


"Tapi bukan begini caranya, Anggun..." desis Arsyad yang sungguh tak habis fikir dengan pemikiran Anggun. "Kalau kamu memang mau mengadopsi anak, silakan! Tapi nggak harus menggantikan anak yang sudah meninggal! Nggak harus menggantikan anakku!"


Anggun kembali menitikan air matanya saat mengingat anaknya yang sudah meninggal, ia terisak pilu.


"Cukup, Arsyad!" seru pak Arif yang tak tega melihat Anggun di pojokan. "Jangan memojokan Anggun! Memang salahnya apa kalau dia mengadopsi anak untuk menggantikan anaknya yang sudah meninggal? Toh dia merawat anak adopsinya dengan baik," bela pak Arif.


Abi Gabriel ikut merasa geram dengan pak Arif yang seolah justru mendukung Anggun melakukan kesalahan ini, namun ia menahan diri dan tak ingin ikut campur.

__ADS_1


Ia hanya datang untuk menemani Arsyad dan Aira menyelesaikan masalah keluarga mereka, bukan untuk masuk ke dalam masalah tersebut.


Dan Abi Gabriel memang membawa pengacara untuk jaga-jaga, karena jika Anggun masih bersikeras tak mau jujur, maka mereka akan membawa Anggun ke jalur hukum karena sudah menipu Arsyad apalagi selama ini ada dana dari Arsyad yang mengalir untuk Anggun.


Sebenarnya, uang itu tidak seberapa namun yang Arsyad permasalahkan adalah kebenaran yang tertutupi hingga membuat ia mengeluarkan uang, bukan nilai uangnya.


"Ya salah dong, Om!" seru Arsyad tajam. "Dia bohong sama aku, dan selama ini aku menafkahi dia, Om. Untuk yang ke sekian kalinya dia terus berbohong dan semua kebohongan dia sangat merugikan orang lain!"


"Ya sudah, mulai sekarang tidak usah memberikan apapun untuk Anggun dan Maita karena Maita memang bukan anak kamu karena anak kamu sudah mati!" seru pak Arif tak mau kalah.


Anak kamu sudah mati!


Mendengar kata itu hati Arsyad terkesiap, rasanya sakit dan perih, matanya sudah memerah, menahan kesedihan yang luar biasa di hatinya.


"Kalau begitu ganti identitas dia!" seru Arsyad kemudian yang membuat Anggun terperangah.


"Mas, kenapa?" lirih Anggun.


"Karena dia bukan Maita anakku, Anggun. Kedua anak itu berhak memiliki identitas mereka masing-masing, lagi pula dimana akal sehat kamu sampai memberikan identitas orang mati pada orang yang masih hidup!"


Anggun sudah membuka mulut hendak menjawab Arsyad namun kemudian ia kembali menyatupkan bibirnya saat tahu harus berkata apa.


Anggun kembali menangis sesegukan, memperlihatkan betapa terlukanya dia saat ini." Kalian benar-benar nggak punya perasaan!" Desis pak Arif sambil merangkul Anggun.


"Kalian merenggut semuanya dariku...." gumam Anggun di tengah isak tangisnya. "Aku juga berhak mendapatkan cintaku, kebahagiaanku, tapi kenapa kalian selalu merenggutnya dariku..." kini tatapan Anggun tertuju pada Aira, tampak kebencian yang begitu besar pada Aira. "Kamu puas? Kamu pasti senang karena anakku dan mas Arsyad mati!" tuding Anggun yang membuat Aira meringis.


"Aku nggak mencari kepuasan kesini," jawab Aira dengan tenang. "Dan kalau kamu nggak mau cinta kamu di renggut atau pergi meninggalkan kamu, maka berperanlah sebagai orang yang pantas di cintai, Anggun. Coba tanya pada diri kamu sendiri, apa selama ini kamu menjadi orang yang pantas di cintai atau sebaliknya?" ucap Aira dengan begitu menohok.


TBC...


Tegang?

__ADS_1


Nggak ya? Santai ya?


Eh, konflik mau selesai dong, apakah akan selesai neh cerita?


__ADS_2