Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #60 - Abu-Abu


__ADS_3

^^^Lahore, Pakistan^^^


Kini Via sudah mau makan nasi kuning ala Pakistan, bahkan anak itu terlihat lahap memakannya, dan itu membuat Aira dan yang lainnya tertawa.


Malam ini mereka makan malam di rumah bersama ketiga teman Jibril, mereka membeli makanan di luar dan membawanya pulang.


"Enak, Via suka nasi kuningnya," kata Via bahkan ia bersendawa beberapa kali yang membuat Aira dan yang lainnya terkikik geli.


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu, Aira hendak membuka pintu namun Jibril melarangnya. "Biar Kakak aja," kata Jibril.


Ia pun segera membuka pintu. "Kamu?" pekik Jibril sedikit kesal namun kekesalannya hilang saat ia melihat mamanya Javeed.


"Selamat malam, Nak. Kami tetangga kalian, kamu pasti sudah kenal Javeed, aku Raisa, Mamanya," ucap Tante Raisa.


"Oh, ya. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Jibril.


"Kami mau memberikan ini..." Tante Raisa memberikan semangkuk makanan yang berwarna putih dan itu tidak asing bagi Jibril.


"Ini..."


"Kheer," jawab Javeed. "Dishes, mungkin kalian akan suka." lanjutnya.


Aira yang mendengar suara Javeed pun langsung keluar karena ia takut pria itu membuat ulah lagi.


"Hai, Nyonya Emerson...." sapa Javeed dengan riang, bahkan ia melambaikan tangannya pada Aira sambil tersenyum lebar seperti anak-anak yang menyapa temannya.


"Ini, Dek. Kita di kasih Kheer," kata Jibril sembari menyerahkan Kheer yang di bawa Tante Raisa.


"Oh, terima kasih," kata Aira dengan lembut. Mengingat mereka juga dari Indonesia, Aira pun mempersilakan mereka masuk dan menjamu mereka seadanya.


"Tidak perlu repot-repot, Aira. Kami hanya ingin menyapa saudara dari negara kami," kata Tante Raisa.


"Tante tahu nama adikku?" Tanya Jibril


"Iya, Javeed sudah bercerita tentang kalian." Tante Raisa menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gamis syar'i yang membalut tubuhnya membuat ia terlihat sangat anggun, dan seperti kata Javeed, kecantikannya terlihat jelas dari matanya meskipun wajahnya tertutup cadar.


"Jika kalian butuh sesuatu, katakan saja pada kami, kami siap membantu ," kata Tante Raisa dan Aira mengangguk sambil tersenyum tipis di balik cadarnya.


Ketiga teman Jibril juga menyambut Javeed dan mamanya dengan hangat.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin menikmati Kheer-nya?" tanya Tante Raisa.


"Oh, tentu..." ucap Aira, ia pun mengambil sendok dan mencicipi kheer itu. "Hem, ini enak," kata Aira antusias.


"Via mau ... Via mau...." seru Via antusias, Aira pun menyuapi putrinya itu. "Enak, manis," ucap Via girang.


Jibril mengambilkan sendok untuk teman-temannya dan mereka mencicipi dishes itu bersama sembari bercengkrama banyak hal .


Diam-diam Javeed terus memperhatikan Aira, yang kini tak terlihat jutek maupun dingin, Aira sangat hangat pada Jibril, Via dan teman-temannya.


"Sepertinya hanya padaku dia bersikap dingin." Javeed menggumam dalam hati.


"Oh ya, besok kalian ada rencana kemana?" tanya Javeed karena ia ingin mengikuti Aira, ia ingin lebih dekat dengan wanita itu tak perduli apakah Aira janda atau masih istri orang, apalagi Javeed melihat Aira tak memakai cincin pernikahan. "Aku bisa menunjukan tempat-tempat indah disini untuk kalian."


"Boleh, ide bagus," celetuk Arkan.


"Besok kami mau ke masjid Badshashi."


...***...


Kini, Javeed mengantar Aira dan yang lainnya ke masjid bersejarah itu, masjid yang juga merupakan peninggalan dinast Mughal.


Masjid ini konon dibangun pada 1671 hingga 1673, di bawah pengawasan Fida'i Khan Koka yang merupakan saudara ipar Mughal Kaisar Aurangzeb dan gubernur Lahore.


Aira dan yang lainnya berkeliling di masjid yang menjadi salah satu masjid terbesar di dunia ini dengan ukiran yang luar biasa indah.


Aira dan yang lainnya juga melaksanakan salat disana dengan di pimpin oleh Jibril.


Setelah salat, Aira kembali berdoa untuk Arsyad karena beberapa malam ini ia terus memikirkan Arsyad dan sering sekali memimpikannya.


"Ikhlaskan hatiku, ya Allah. Aku benar-benar memohon pada-Mu. Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan agar aku bisa ikhlas, aku kehabisan cara, aku terus memikirkannya dan aku seolah tak mampu melupakannya. Aku mohon, Engkaulah pemilik hati ini, jadi aku serahkan semuanya pada-Mu. "


...***...


^^^Jakarta, Indonesia.^^^


Ummi Ridha masih setia menemani Arsyad setiap hari, dan sampai detik ini, tak sedikpun Arsyad menunjukan ada perkembangan padahal ini sudah seminggu. Keadaannya masih sama dan itu membuat Ummi Ridha cemas, sedih juga takut, ia kehilangan semangat hidupnya, bahkan kini Ummi Ridha juga mulai merasa tak sehat karena terus cemas, tak bisa tidur dengan tenang dan tak bisa makan dengan baik.


Kini yang mengurus restaurant hanya Fahmi, Fahmi juga meminta Hulya agar menghubungi Aira dan memberi tahu kondisi Arsyad. Namun sayangnya, Hulya hanya bisa menghubungi Ummi Firda karena Ummi Firda tak memberikan nomor ponsel Aira yang baru.

__ADS_1


Hulya juga sudah memberi tahu pada Ummi Firda bahwa Arsyad kecelakaan dan Arsyad sudah menceraikan Anggun.


Ummi Firda terkejut, begitu juga dengan Abi Gabriel. Hulya juga menceritakan betapa tersiksanya Arsyad tanpa Aira, Hulya memohon agar Aira di izinkan menjenguk Arsyad namun Abi Gabriel mengatakan bahwa Aira sudah pergi. Saat Hulya bertanya kemana, Abi Gabriel tak memberi tahunya. Ia justru balik memohon pada Hulya agar tak mengungkit masa lalu putrinya dan tak lagi mengingatkan Aira pada Arsyad.


Tentu saja Hulya bingung, begitu juga dengan Fahmi. Namun Abi Gabriel begitu keras kepala dan benar-benar tak ingin mereka menghubungi Aira.


"Tapi kenapa Arsyad dan Anggun bercerai? Dia 'kan lagi hamil, Bang," ujar Ummi Firda sembari membersihkan isi kulkasnya, dan tentu suaminya itu membantunya.


"Mungkin sudah bosan," cetus Abi sekenanya, hatinya sudah terlanjur kecewa pada Arsyad jadi ia tak ingin memikirkan apapun tentang mantan menantunya itu.


"Masak iya Arsyad begitu, Bang? Aku nggak percaya Arsyad bisa setega itu sama istrinya yang lagi hamil."


"Kenapa nggak? Sama Aira aja dia tega, apalagi sama istri barunya." Ummi Firda hanya bisa menghela napas lesu mendengar ucapan ketus sang suami. "Pokoknya, jangan pernah membahas Arsyad dengan Aira, biarkan dia tenang dulu. Apalagi dia hamil."


Sementara di sisi lain, Anggun memeriksakan kandungannya sendirian, ia menitikan air matanya saat melihat gambar anaknya di monitor. Di saat hamil seperti ini, seharusnya menjadi saat-saat paling membahagiakan untuknya, namun nyatanya tidak!


Sekuat tenaga Anggun berusaha bertahan dari semua badai yang menerpanya, sekuat tenaga ia bertahan agar anaknya tak tersentuh badai itu.


"Sejauh ini perkembangannya cukup baik ya, Bu. Tapi saya sarankan, jangan sampai stres, karena kalau ibunya stres itu akan berdampak pada janin. Jangan lupa selalu mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi."


"Pasti, Dok."


...***...


^^^Lahore, Pakistan.^^^


Jibril dan Aira bersiap pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Aira dengan di antar Om Sahir. Namun saat hendak berangkat, Om Sahir justru tiba-tiba mendapatkan panggilan dari kantornya.


Untunglah ada Tante Raisa yang langsung memanggil Javeed dan menyuruh Javeed mengantar mereka ke rumah sakit.


"Siapa yang sakit?" Tanya Javeed.


"Aira mau memeriksa kandungannya.."


"Huh?" pekik Javeed dengan kedua mata yang melotot sempurna.


TBC...


MASJID BADSHASHI, LAHORE, PAKISTAN.

__ADS_1




__ADS_2