Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #36 - Akankah Tetap Bahagia Setelahnya?


__ADS_3

"Kenapa Abi nggak ikut, Ummi?" Tanya Via sedih, ia cemberut dan sorot matanya begitu sendu setelah Aira memberi tahu nya bahwa mereka akan kerumah Nenek di desa dan Arsyad tidak ikut.


"Abi sibuk kerja, Sayang," jawab Aira lembut sembari memasukan beberapa barangnya ke dalam tas.


Aira tidak memiliki banyak baju di rumah Micheal, sementara bajunya yang dari rumah Arsyad tak ia bawa saat ia pergi dari rumah Arsyad. Tak ada satupun barangnya yang Aira bawa, kecuali baju dan tas yang ia pakai saat itu.


"Apa nanti Abi akan menyusul kalau udah nggak sibuk?" Tanya Via lagi. Aira tak bisa menjawab, ia hanya bisa menatap sayu Via yang kini menatapnya penasaran.


"Sebaiknya Via masukan barang-barang yang mau Via bawa ke dalam tas, biar nanti nggak ketinggalan, Nak," ujar Aira mengalihkan pembicaraan.


"Apa Abi dan Ummi bertengkar?" Tanya Via kemudian, tentu Aira langsung menggeleng sambil tersenyum. "Via nggak mau Abi dan Ummi bertengkar dan sedih lagi Seperti waktu di rumah sakit dulu, Via sangat sayang Abi dan Ummi."


Hati Aira terenyuh mendengar ucapan Via, mungkin itu hanya celetukan anak kecil, namun itu sangat berarti. Anak kecil yang masih berusia 6 tahun saja tak ingin melihat orang yang ia sayangi sedih, lalu bagaimana bisa ibu mertuanya yang katanya mencintai Arsyad dan menyayangi dirinya bisa dengan begitu tega melakukan ini?


Aira menggelengkan kepalanya, mengusir fikiran buruk itu dari benaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, Arsyad mencoba menegarkan hatinya untuk menjalani hari-harinya tanpa Aira dan Via lagi.


Sampai detik ini, ia juga masih sulit bersikap seperti dulu pada ibunya.


Tamparan itu dan perceraiannya dengan Aira seolah merenggangkan hubungannya dengan ibunya.


Dan yang membuat Arsyad semakin kesal dengan sang ibu, hari ini ia membawa Anggun ke rumahnya. Bukan untuk berkunjung, tapi untuk tinggal disana.


Saat ini, Arsyad sedang berdiri di balkon kamarnya, menatap jauh ke depan sana dengan fikiran yang melayang entah kemana.

__ADS_1


"Aku minta maaf...." Arsyad menoleh sekilas saat mendengar suara Anggun yang kini berjalan mendekatinya. "Aku minta maaf kalau keberadaanku membuatmu kesal, aku janji, aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik untukmu, Mas."


Arsyad tersenyum miring mendengar ucapan Anggun. "Bagaiamana mungkin kamu bisa membuatku bahagia sementara kamu sendiri nggak bahagia?" tanya Arsyad dingin.


"Aku bahagia kok, Mas," jawab Anggun sambil tersenyum.


"Oh ya?" Tanya Arsyad juga tersenyum. Ia menoleh dan menatap Anggun dengan tatapan yang tak biasa, bahkan Arsyad melangkah maju, hingga jaraknya begitu dekat dengan Anggun.


"Kamu boleh tinggal di sini, tapi bukan di kamarku karena ini kamar Aira. Apa kamu masih bahagia sekarang?"


Sambil tersenyum dan dengan lapang dada Anggun menjawab, " Tentu saja, aku rasa kamar bukan sebuah masalah. Kamar di rumah ini banyak, aku bisa tinggal dimanapun." Arsyad tersenyum miring mendengar ucapan Anggun yang percaya diri.


"Okay, aku juga tidak akan memberikan nafkah batin padamu. Karena aku menikahimu hanya demi seorang anak yang di inginkan ibuku, dan sekarang calon anak itu sudah ada, aku sudah memenuhi keinginan ibuku. Jadi aku rasa, aku sudah tidak perlu lagi memberikan nafkah batin padamu," tukas Arsyad dengan begitu dingin yang membuat dada Anggun langsung terasa sesak." Bagaiamana? Masih bahagia?"


Ini bukan tentang kebutuhan hasrat seksual, namun tentang sebuah pengakuan dalam sebuah hubungan pernikahan, dan itulah yang membuat Anggun merasa sesak.


Dengan mengatakan tak akan memberikan nafkah batin untuknya itu sama saja artinya Arsyad sama sekali tidak menganggapnya sebagai seorang istri, seorang pasangan yang terikat pernikahan.


"Aku menikahimu karena paksaan ibuku, tapi tidak ada yang memaksamu untuk mau menikah denganku, kamu memaksakan dirimu sendiri melakukan itu. Kenapa kamu melakukan itu? Kamu akan sakit, Anggun! Akan selalu sakit karena bersama pria yang tidak mencintaimu tapi mencintai wanita lain." Arsyad berkata penuh penekanan dengan tatapan yang begitu tajam.


"Begitu pun aku, aku juga sangat sakit karena aku harus kehilangan wanita yang aku cintai dan kemudian hidup dengan wanita yang tidak aku cintai sedikitpun. Aira juga sakit, dia yang paling sakit di sini. Aku, kamu, ibuku, orang tuamu. Kita semua! Kita semua telah menyakiti Aira! Bukan hanya kamu yang tidak bahagia sekarang, aku pun tidak bahagia. Tidak akan pernah bahagia! Aku rasa, pernikahan kita hanya menjadi jurang bunuh diri untuk kita."


Hati Anggun begitu perih mendengar ucapan Arsyad itu, setiap kata yang Arsyad ucapkan seperti sebuah jarum yang di tusukan ke hatinya.


"Aku yakin kita bisa bahagia kalau kamu mau menerimaku," ujar Anggun kemudian dengan suara bergetar. "Belajar mencintaiku! Aku yakin pernikahan kita juga akan bahagia." Anggun menitikan air matanya, bibirnya berkata demikian, namun hatinya sulit meyakini itu.


"Baik, kita lihat saja nanti," tantang Arsyad. "Tapi ingat! Jangan pernah menuntut apapun dariku karena itulah janji kamu dulu!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu mengizinkan Arsyad menemuimu dan Via?" Tanya Micheal kesal setelah sang adik bercerita bahwa sebelum pulang ke desa, ia akan bertemu dengan Arsyad.


Saat ini mereka sedang makan malam bersama, dan besok Aira, Via serta Ummi Firda akan pulang ke desa. Sementara Abi akan tetap di Jakarta sampai perceraian Aira selesai.


"Arsyad itu bukan pelaku kdrt, Kak. Nggak usah takut," kata Aira yang semakin hari terlihat lebih baik, bahkan ia kembali makan dengan normal, tentu karena awalnya di paksa terus oleh Ummi Firda. Dan itu sudah cukup membuat seluruh keluarganya bernapas lega.


"Bagiku dia sama kejamnya dengan pelaku kdrt, ck, pria seperti itu, ingin aku..." Micheal menusuk daging di depannya dengan garpu, dan itu membuat Tanvir menatap sang ayah dengan bingung.


"Papa, kata Mama, jangan melampiaskan kekesalan pada makanan, dosa," tegurnya yang seketika membuat semua orang terkekeh, termasuk Aira.


"Pintar sekali keponakan Tante yang paling tampan ini," puji Aira.


"Tapi aku rasa, berada di posisi Arsyad juga tidak mudah, Mas," sambung Zenwa. "Ketika dia Berada di antara dua surga yang sangat ia rindukan namun ia justru harus memilih salah satunya."


"Kamu kenapa belain dia?" Geram Micheal.


Sementara Abi dan Ummi tetap makan dengan tenang walaupun hati mereka bergemuruh. Jika Micheal marah atas apa yang mereka lakukan pada Aira, maka Ummi dan Abi, sebagai orang tua Aira, sangatlah murka. Namun menunjukan kemarahan itu tidak akan menghasilkan apapun.


"Lagi pula, meskipun seandainya Arsyad memilihku, aku akan tetap mundur dan meminta dia memilih ibunya," sambung Aira. "Ibunya yang melahirkannya, menyusui, merawatnya siang malam, mengajari nya banyak hal, berjalan, berbiacara dan sebagainya. Menyekolahkannya hingga dia menjadi orang sukses seperti sekarang"


"Tuh, kamu bisa berfikir bijak begini. Tapi mereka tetap menampakkanmu begini, memang aneh mereka tuh," keluh Micheal.


"Nggak ada yang mencampakkan Aira, Micheal. Aira hanya memilih berpisah demi kesehatan hatinya," sambung Abi Gabriel dan Aira mengangguk setuju.


"Ummi...." Aira menarik lengan baju Aira hingga Aira menoleh. "Katanya surga itu ada 7 tingkatan, kalau Abi tidak masuk ke dua surga itu, kan masih ada sisa 5 surga lagi," ujar Via dengan polosnya yang membuat Aira terkekeh.

__ADS_1


"Pintar sekali anak Ummi."


TBC...


__ADS_2