Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #138 - Sang Pangeran


__ADS_3

"Kita mau ke pesta, Ummi?" Tanya Via yang saat ini sudah siap dengan pakaian barunya, begitu juga dengan Aira. Ia terlihat sangat cantik nan Anggun dalam balutan gaun berwarna putih polos bertabur krstal itu, lengkap dengan cadar yang menutup sebagian wajahnya seperti biasa.


"Iya, Sayang. Abi punya kejutan untuk kita," jawab Aira yang saat ini memakaikan kaos kaki pada baby Ali yang juga sudah tampan dengan baju barunya yang juga berwarna putih.


Setelah semuanya selesai, Aira membawa kedua anaknya segera turun dari kamar dan Aira terpaku karena di bawah sana Arsyad menunggunya dengan pakaian yang sangat formal, tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu membuatnya tampak begitu tampan.


"Wah, Abi sangat tampan," puji Via yang juga begitu takjub dengan penampilan Arsyad yang begitu mempesona.


Sementara Arsyad, ia justru terpaku melihat penampilan sang istri yang bak bidadari itu, Arsyad tak bisa berkedip barang sedikit saja hingga suara Aira membubarkan lamunannya. "Mas, kamu kapan kamu pulang? Aku nggak dengar suara mobil kamu," ujar Aira sembari melangkah mendekati Arsyad. "Dan penampilan kamu...." Aira menatap Arsyad dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Aku sangat tampan, 'kan?" Arsyad mengedipkan sebelah matanya pada Aira yang seketika membuat Aira terkekeh.


Sambil menggendong Baby Ali, Aira mengelilingi Arsyad seolah ia sedang menilai penampilan suaminya itu. "Hem.. Nilainya 4 dari 10," tukas Aira yang langsung membuat Arsyad tertawa.


"Oh ya? Kamu tahu berapa nilai penampilan kamu?" Kini Arsyad memegang kedua pundak Aira dan ia melepaskan cadar sang istri dengan pelan. Wajah Aira tersipu, apalagi tatapan Arsyad begitu dalam seolah menusuk hatinya. "Nggak ada, Sayang. Karena terlalu tinggi nilainya sampai sebuah angka tak lagi berarti," ujarnya yang semakin membuat Aira merona.


"Terus penampilan Via bagaimana, Abi?" Tanya Via sambil berputar dan tersenyum lebar.


"100..." Arsyad dan Aira menjawab bersamaan yang membuat putri mereka itu kegirangan.


"Mobil sudah menunggu di depan, Sayang. Dan biar aku yang gendong baby Ali," ucap Arsyad sembari memasang kembali cadari Aira kemudian ia mengambil putranya dari gendongan Aira.


Mereka pun keluar bersama dan sekali lagi Aira di buat terkejut karena di depan rumahnya sudah terparkir mobil limousine. Aira terpaku apalagi saat seorang pria membukakannya pintu dan mempersilahkan nya masuk dengan begitu sopan dan hormat.


"Kejutanmu apa sih, Mas?" Tanya Aira yang semakin penasaran.

__ADS_1


"Kalau di kasih tahu namanya bukan kejutan, Sayang," kekeh Arsyad.


Aira pun membantu Via masuk lebih dulu, setelah itu baru dirinya dan Arsyad pun menyusul. Di dalam mobil, Via lagi-lagi berdecak kagum karena mobil itu sangat luas.


"Ini bukan mobil, Ummi. Ini kamar bisa jalan, bisa tidur juga, 'kan?" Tukas Via dengan kedua mata yang berbinar.


"Via suka mobil begini?" Tanya Aira.


"Suka, Ummi." Via menjawab dengan begitu antusias.


Mobil pun kini berjalan menuju restaurant, dan di sepanjang perjalanan, Aira terus merayu Arsyad agar memberi bocoran kejutan apa yang di siapkan oleh sang suami, namun sayangnya Arsyad masih bersikukuh tak memberi tahu.


Kini mobil berhenti di depan restaurant dan seperti biasa, sopir membukakan pintu untuk keluarga Arsyad. Namun bukannya turun dari mobil, lagi-lagi Aira harus di buat terpaku karena apa yang di lihatnya.


Tempat itu sudah sangat ramai, ada begitu banyak orang yang datang dan dekorasi tempat itu juga tidak seperti restaurant mereka. "Mas, kayaknya pak sopir salah alamat deh," bisik Aira yang membuat Arsyad tertawa geli.


"Nggak, Sayang. Ini sudah benar," jawab Arsyad sambil tertawa kecil.


Ia segera turun dari mobil begitu juga dengan Aira, dan saat itu juga tiba-tiba lampu mati yang membuat Aira dan Via terkejut. "Mas, kamu yakin ini masih restaurant kita? Kamu nggak jual, 'kan?" Tanya Aira yang sudah sangat kebingungan.


"Ummi, mati lampu." Via berseru takut, ia langsung memegang baju Aira dan sesaat kemudian lampu sorot menyala dan menyoroti mereka.


Aira kembali terpaku, entah apa lagi kejutan yang akan Arsyad berikan setelah ini.


Sementara perhatian orang-orang yang hadir di restaurant kini hanya tertuju pada Arsyad dan keluarga kecilnya, mereka pun begitu terpana melihat penampilan Aira dan Arsyad, pasangan serasi, begitulah yang ada dalam benak mereka.

__ADS_1


"Mas, masih ada lagi kejutannya?" Tanya Aira setengah berbisik.


"Ada, siap-siap ya..." beberapa saat kemudian layar proyektor menyala dan menamppilkan foto pernikahan Arsyad dan Aira yang membuat Aira terkejut sekaligus merasa terharu, apalagi saat video akad nikah mereka di putar.


Semua mata kini tertuju pada video yang sudah di siapkan Arsyad, mereka menontonnya dalam diam dan tampak terhipnotis apalagi ketika foto-foto kebersamaan Arsyad dan Aira kembali di tampilkan.


"Mas..." bisik Aira penuh haru, ia kembali mengenang masa-masa pacaran halalnya bersama sang suami dulu.


"Lihat sampai selesai, Sayang." Arsyad balas berbisik sambil tersenyum lembut.


Dan orang-orang yang hadir di tempat itu juga saling berbisik satu sama lain, memuji keromantisan Aira dan Arsyad. Tidak ada foto berciuman, atau berpelukan dengan intim, tapi entah kenapa kebersamaan itu mampu membuat semua orang seolah bisa merasakan cinta tulus pasangan ini. Membuat mereka iri akan kemesraan mereka.


Hingga akhirnya, foto USG kehamilan Aira kini juga di tampilkan, yang seketika membuat Aira menitikan air matanya karena mengingat saat-saat itu, saat dimana ia merasa mendapatkan angerah dan kutukan dalam waktu yang bersamaan.


Aira bersandar pada sang suami yang masih menggendong baby Ali. Foto dan video Aira selama hamil dan selama berada di Pakistan kini di tampilkan satu persatu. Bahkan dalam video itu juga ada Via yang sedang berbicara dengan perut buncit Aira.


Kini semua orang tercengang dan hanya bisa menganga, Aira sungguh hamil dan ia memang tak ada di Indonesia selama di masa kehamilannya itu.


Air mata Aira kembali mengalir saat foto pertama Baby Ali juga di tampilkan bersama dengan nama lengkap dengan tempat tanggal lahirnya. Kemudian foto-foto saat mereka pulang dari Pakistan dan berada dalam pesawat, seolah menjadi bukit kemana Aira menghilang dan kapan ia kembali.


Setelah video usai, lampu kembali menyala dan semua orang bertepuk tangan dengan meriah, Aira masih terpaku di tempatnya, ia menatap Arsyad dengan sayu. "Maafkan aku karena aku tidak ada di sisi kamu saat Dokter menyatakan kamu hamil," lirih Arsyad. "Walaupun begitu, aku adalah orang pertama yang melihat anak kita saat di lahirkan ke dunia." Aira terkekeh sambil mengucek matanya yang rabun karena aira mata.


"Aku memang bukan orang pertama yang menemani kamu saat memeriksa kandungan, bukan orang pertama yang melihat hasil USG kehamilan kamu. Tapi aku adalah orang pertama yang menyapa anak kita, aku menyapanya dengan kalimat adzan." air mata haru Aira tak bisa terbendung lagi.


"Aku sangat mencintaimu dan anak-anak kita, Sayang. Kalian adalah hidupku, duniaku." Aira menggigit bibirnya yang bergetar, ia mengangguk pelan dan akhirnya berhambur ke pelukan sang suami.

__ADS_1


"Sayang..." Arsyad berbisik di telinga sang istri. "Sekarang semua orang tahu bahwa kamu hamil dan melahirkan, jadi jangan pernah lagi nggak tidur cuma karena memikirkan omongan orang, hm?" Aira tertawa terkekeh kecil dan mengangguk pelan.


"Terima kasih, aku suka pengumumannya mengungkap identitas sang pangeran, Mas."


__ADS_2