Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #83 - Demi Menaklukan Cinta


__ADS_3

Via sangat bersenang-senang saat mengikuti festival, ia tertawa lepas, seolah tak punya beban apapun. Ia terlihat sangat bahagia, seolah tak mengenal apa itu sedih. Javeed yang melihat Via bahagia seperti itu tentu juga sangat bahagia, ia merekam Via menggunakan ponselnya.


Setelah acara itu selesai, Javeed membawa Via ke toko mainan karena sudah lama anak itu tidak berbelanja. Namnn Via justru ingin membeli buku dan pensil warna, ia berkata mainan di rumahnya sudah banyakl selain itu, Aira ingin fokus belajar supaya kelak menjadi anak yang pintrar dan membanggakan abi umminya.


"Via ingin melihat abi dan ummi bahagia, Om. Kalau Via jadi anak pintar, mereka pasti bahagia," kata Via sembari memeluk dirinya sendiri. Kini tatapan Via mulai sedikit berubah, sendu, seolah ia menahan sebuah rasa di dadanya.


"Kenapa? Via kangen abi, ya?" Tanya Javeed sembari membawa Aira berkeliling toko, mencari apa yang mungkin Via mau.


"Iya, Om. Via rindu ... sekali dengan abi," jawab Via lirih.


"Memangnya abi nggak pernah telfon?" Tanya Javeed penasaran dan Via menggeleng lemah. Javeed menghela napas panjang, merasa kasihan dengan keadaan Via.


"Ya sudah, kita belanja yuk!" seru Javeed kemudian untuk mengalihkan perhatian Via. "Via mau apa aja, boleh. Om yang bayarin," kata Javeed semangat.


"Terima kasih ya, Om," kata Via sambil tersenyum manis. "Om baik ... sekali, seperti abi. Meskipun Via bukan anak kandungnya, tapi abi sayang sekali sama Via." lanjutnya yang membuat Javeed tercengang, ia langsung berlutut di depan Via agar ia bisa mantap wajah Via. Javeed terkejut mendengar Via mengatakan abinya bukanlah ayah kandungnya.


"Maksudnya bukan ayah kandung?" Tanya Javeed hati-hati.


"Maksudnya bukan ayah kandung itu bukan ayah Via yang sebenarnya, Om. Karena ayah Via sama ibu Via pergi. Jadinya yang sekarang menjadi ayah dan ibu Via abu dan Ummi deh," jawab Via dengan lugas. Pupil mata Javeed melebar mendengar ucapan Via, tak pernah terbersit sedikitpun dalam benaknya bahwa ternyata Via bukanlah anak kandung Aira.


Saat Javeed masih terdiam dan mencoba mencerna informasi yang di berikan Via, Via justru sibuk melihat barang-barang yang ada di toko itu. Saat Via melihat  buku gambar dengan gambar sebuah keluarga, rasa rindu akan kehadiran sang ayah kembali membuncah dalam hatinya.


"Abi, abi kangen Via nggak ya," gumam Via sedih.


Javeed menatap Via penuh simpati, gadis itu tampak sangat menyayangi ayahnya. "Pasti kangen dong, Via." Javeed juga menatap buku gambar itu kemudian ia mengambilnya untuk Via. "Neh, Via ambil aja yang ini. Nanti Via gambar abi dan ummi deh disini,*ucap Javeed sambil tersenyum.

__ADS_1


"Via akan gambar Om juga, kan Om sudah jadi teman baiknya Via," tukas Via. Javeed hanya tersenyum simpul, karena sampai detik ini, setelah semua pendekatan yang ia lakukan pada Via, hanya membuat Via menganggapnya sebagai teman, bukan ayah seperti yang ia harapkan.


"Okay, Om nggak sabar liat hasil gambar Via."


🌱


Di rumahnya, Aira sedang fokus membaca buku ibu hamil sembari memegang perutnya yang semakin hari semakin besar, bahkan sesekali ia merasakan pergerakan dari dalam sana dan itu membuat Aira merasa senang.


Seperti saat ini, ia merasakan gerakan halus dalam perutnya. "Hem, kamu suka gerak ya, Nak. Aktif banget," kata Aira sambil terkekeh.


Sesekali ianmelirik jam dinding, tak sabar menunggu Via pulang. Sebenarnya, Aira sangat percaya pada Javeed, ia yakin pria itu akan menjaga Via namun sebagai ibu, tetap saja ia cemas ketika anaknya tak ada di hadapannya.


Tak berselang lama, terdengar suara cempreng Via yang mengucapkan salam. Aira langsung beranjak dari tempat duduknya dan bergegas membuka pintu sembari menjawab salam Via.


Saat pintu terbuka, Via langsung melemparkan senyum lebarnya pada Aira sementara Aira hanya bisa melongo, melihat beberapa paper bag yang di tenteng Via.


"Dua-duanya, Ummi. Pergi ke festival dulu setelah itu pergi belanja," jawab Via santai.


"Aduh, maaf ya," ucap Aira pada Javeed, ia melemparkan tatapan menyesalnya pada pria itu karena ia yakin Javeed menguras isi dompetnya untuk Via. "Totalnya habis berapa?" Tanya Aira kemudian.


"Mau di bayar?" Tanya Javeed sambil terkeh dan tentu saja Aira mengangguk. "Bayar dengan kasih sayang kamu aja," ucapnya kemudian yang langsung membuat Aira mendelik sementara Javeed lagi-lagi hanya terkekeh.


"Ya udah aku pulang dulu, mau mandi habis ini mau ke toko," kata Javeed kemudian.


"Tunggu dulu...." cegah Aira saat Javeed hendak kembali ke rumahnya. "Tadi Via habis berapa?" Tanyanya kekeh.

__ADS_1


"Ai, udahlah. Aku belanjakan Via bukan kamu, dan Via sudah aku anggap adik sendiri jadi kamu nggak usah mikir bayaran apapun, okay? Tapi kalau kamu mau melakukan sesuatu hal, kamu..." Javeed menelan ludahnya, ia melirik Via yang kini sudah berjalan masuk ke dalam dengan langkah setengah melompat." Kamu telfon saja abinya Via, katanya dia kangen sama abinya."


Deg


Hati Aira terkesiap mendengar mendengar ucapan Javeed, ia pun langsung menoleh, menatap Via yang kini sibuk mengeluarkan barang belanjaanya. Kemudian Aira kembali menatapnya Javeed dan bertanya," Apa dia mengatakan sesuatu? "


"Iya, aku baru tahu ternyata dia bukan anak kandungmu," ucap Javeed lirih. Aira hanya diam namun tersenyum tipis. "Dia juga bilang kalau dia sangat merindukan abinya, dia bilang kalian bertengkar dan sama-sama menangis." hati Aira tercubit mendengar ucapan Javeed. Ia teringat dengan pertengkarannya dengan Arsyad di rumah sakit dulu, saat itu ia dan Arsyad memang sama-sama menangis dan Via menyaksikan semua itu.


"Ai...." panggil Javeed dengan lembut. "Kalau kamu butuh teman cerita, aku ada disini."


"Rayuan yang luar biasa." Aira menggumam sambil tertawa pelan, sementara Javeed yang mendengarnya pun ikut tertawa.


"Aku rasa, kamu adalah satu-satunya wanita yang sadar di rayu saat di rayu," ungkap Javeed. "Kalau begini terus, memang nggak akan ada pria yang bisa menaklukanmu dengan rayuan." lanjutnya.


"Karena memang seharusnya wanita tidak di taklukan dengan rayuan," ujar Aira


"Lalu dengan apa? Dengan akad nikah?"


🌱


"Kamu serius?" pekik Fahmi saat Arsyad meminta Fahmi menguruskan pembuatan Visa ke Pakistan. "Dalam keadaan seperti ini, jelas kamu akan di tolak oleh pihak penerbangan mana pun Arsyad!" seru Fahmi yang tak habis fikir dengan keinginan Arsyad.


"Minta surat rujukan dari rumah sakit, katakan saja aku perlu berobat kesana atau apapun itu, yang penting aku bisa pergi kesana secepatnya," mohon Arsyad memelas.


"Astagfirullah, jangan gila kamu. Ini bisa bahaya buat nyawa kamu."

__ADS_1


"Nggak apa-apa karena itu semua demi Aira dan Via.


__ADS_2