
"Kata Dokter dia tertekan..." Ummi Firda berkata sembari menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya juga untuk suaminya yang baru saja sampai di rumah.
"Lalu bagaimana dengan kandungannya? Aku khawatir itu berdampak pada kandungannya," ucap Abi cemas sembari membantu sang istri menyusun makanan di meja makan.
"Jika keadaan dia selalu seperti ini, maka besar kemungkinan kita akan kehilangan cucu kita, apalagi ini sudah kedua kalinya dia pingsan selama hamil."
"Sudah dua kali?"
"Iya, Aira bilang dulu dia juga pingsan saat tahu Arsyad menikah lagi."
"Ya Allah, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Aku juga nggak tahu ,Bang. Aku kasihan sama Aira, seandainya bisa, biar aku aja yang menanggung semua rasa sakit dan kesedihannya." kedua mata Ummi Firda sudah berkaca-kaca, rasanya sungguh menyesakkan melihat Aira dalam keadaan terpuruk ini.
"Selamat pagi..." Ummi Firda dan Abi Gabriel menoleh saat mendengar suara Aira.
"Eh, Abi. Sudah sampai dari tadi? Kok aku nggak tahu?" Aira berkata sembari membuka kulkas, ia mengambil susu kotak dan meminumnya. Sementara Ummi dan Abi hanya bisa terdiam menatap Aira yang tampaknya berusaha keras bersikap baik-baik saja.
"Kenapa kamu turun, Aira? Seharusnya kamu istirahat aja di kamar, biar Ummi bawakan sarapanmu ke kamar," ujar Ummi Firda.
"Aku baik-baik aja kok." bibir Aira berkata demikian , namun tidak dengan matanya. "Aku baik-baik aja. Aku ... baik-baik aja." suaranya mulai tercekat dan matanya kembali berkaca-kaca, namun dengan cepat Aira mengucek matanya itu ,memaksakan bibirnya tersenyum .
"Sayang..." Abi Gabriel merentangkan tangannya dan Aira pun langsung berhambur ke pelukan sang ayah. Abi Gabriel langsung mendekap putrinya itu dengan erat. "Menangislah jika kamu ingin menangis,Nak. "
"Nggak, Bi. Aku sudah lelah menangis," lirih Aira. Suaranya gemetar, begitu juga dengan bibirnya. ia sunguh ingin menangis , namun ia sudah lelah. Semuanya sudah berakhir dan mungkin ini yang terbaik untuk semuanya.
Setelah membaca pesan yang ia dapatkan, Aira memang langsung merasa tertekan, sama seperti saat ia mengetahui sang suami telah menikah lagi. Dan sama seperti saat itu, ia kembali jatuh pingsan. Hati Aira kembali sakit, sesak dan perih. Namun ia sudah lelah terpuruk, sudah lelah sedih dan menangis. Ia harus bangkit dan mengumpulkan puing-puing hatinya yang hancur demi Via dan janin yang ia kandung. Jalan hidup yang baru menunggunya di depan sana.
Aira melerai pelukannya, ia menarik napas kemudian menghembuskannya, mencoba menegarkan hatinya yang masih rapuh. "Apa menu sarapan hari ini? Aku sudah sangat lapar." Aira berkata dengan nada ceria, namun keceriaan itu sudah jelas palsu. Walaupun begitu, Ummi dan Abi ikut tersenyum untuk menyemangati sang buah hati.
__ADS_1
Tak berselang lama, Jibril datang bersama Via yang ia gendong ."Kamu dari mana, Jibril? Pagi-pagi sudah menghilang," tegur Ummi Firda.
"Cari ponsel baru untuk Aira,Ummi. Ponsel Aira 'kan rusak." Jibril meletakkan kotak ponsel itu di meja. "Ponsel baru, sim card baru." jelas Jibril penuh arti dan Aira mengerti maksudnya.
"Terima kasih, Kak. Atas ponsel baru dan sim card barunya." Aira berkata sambil tersenyum .
"Dari mana kamu dapat ponsel baru pagi-pagi sekali seperti ini?" Tanya Abi Gabriel yang justru menatap putranya itu dengan curiga.
"Yang pasti aku nggak merampok, Bi. Karena aku bukan mafia ."
"Jibril Emerson...." tegur sang ibu sementara sang Jibril hanya cengengesan.
"Via makan es krim ?" Tanya Aira kemudian yang melihat ada noda di baju Via dan sepertinya itu es krim.
"Anak-anak suka es krim jadi aku belikan tadi, aku Om yang baik, kan?" kata Jibril dengan bangga yang bukannya membuat Aira senang justru membuat ia kesal .
"Via nggak boleh makan es krim di pagi hari, Kak. Dan Via cuma boleh makan es krim seminggu dua kali. Kemarin dan dua hari yang lalu dia sudah makan es krim."
Abi Gabriel memperhatikan Aira yang terlihat sangat berjuang keras untuk melawan rasa sakitnya. Dan ia sangat bersyukur dengan adanya Via yang hadir sebagai pelipur lara Aira. Bahkan, Jibril yang kata orang dingin dan kaku, namun nyatana dia begitu hangat untu Aira dan selalu mampu menghibur sang adik.
...----------...
Arsyad terpaksa tinggal di restaurant untuk sementara waktu, sampai keadaan tenang kembali. Dan ia baru teringat bahwa ponselnya masih ada di rumahnya.
Karena Arsyad tak ingin pulang sampai sang ibu yang memintanya pulang, Arsyad meminta salah satu karyawan restaurant untuk mengambil ponselnya.
Di rumahnya, Anggun hanya duduk diam di tengah ranjangnya dengan mata yang sudah bengkak karena menangis semalaman.
Ada perasaan bersalah dalam hatinya saat mengingat apa yang sudah ia lakukan tadi malam. Anggun membalas pesan Aira dengan kata-kata yang begitu kejan karena Anggun sedang dalam perasaan yang begitu kacau, ia tak bisa berfikir jernih. Dan sekarang ia takut, bagaimana jika Arsyad dan Ummi Ridha tahu apa yang sudah ia lakukan? Habis lah dirinya.
__ADS_1
Anggun juga terkejut dengan berita kehamilan Aira, apalagi usia kehamilan Aira yang lebih tua dari kehamilannya.
Lamunan Anggun buyar saat ia mendengar suara bel pintu dari bawah. Anggun segera turun dari kamarnya untuk membuka pintu.
"Cari siapa?" Tanya Anggun pada seorang pria di depannya.
"Saya dari restaurant, Bu. Di suruh pak Arsyad untuk mengambil hp."
"Oh, iya. Sebentar ya." Anggun segera bergegas mengambil ponsel Arsyad, tak lupa ia membersihkan semua pesan dan catatan panggilan tak terjawab dari Aira yang kontaknya sudah ia blokir.
Sementara Ummi Ridha kini juga duduk merenung sembari menatap surat hasil pemeriksaan Aira yang dari rumah sakit Singapura. Dimana surat itulah yang membuat harapannya pada Aira langsung pupus.
Ummi Ridha menghela napas berat, ia membuang surat-surat itu ke tong sampah.
Saat memeriksa ponselnya, Ummi Ridha mengernyit karena ada banyak panggilan tak terjawab dari Aira tadi malam. Itu pasti saat dirinya sibuk dengan acara. Ummi Ridha mencoba menghubungi Aira kembali namun nomor telfonnya tidak aktif.
"Sudahlah, lagi pula aku udah nggak punya hubungan apapun lagi dengan dia." ia menggumam sembari meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. "Tapi kenapa dia menghubungiku? Apa semuanya baik-baik saja?"
...---------...
"Pakistan?" Pekik Aira saat Jibil bercerita pada kedua orang tuanya bahwa temannya kembali menghubunginya untuk mengajak ia ke Pakistan.
"Iya, tapi Kakak nggak jadi ikut, kakak mau di rumah aja. Jagain kamu sama Via," jawab Jibril sembari menikmati hidangan sarapaannya.
Teman-temannya memang mengajak Jibril pergi ke Pakistan sejak dulu, karena mereka penasaran dengan negara itu dan juga mereka suka wanita-wanita disana yang cantik dan putih. Ya, begitulah kata mereka.
Awalnya Jibril pun begitu antusias untuk ikut dan kedua orang tuanya sudah mengizinkan, namun dalam keadaan seperti ini, ia ingin terus ada di samping sang adik.
"Emm bagaimana kalau ... aku ikut, Kak?" cicit Aira kemudian. "Aku sama Via, kita liburan ke Pakistan? Aku juga nggak pernah kesana sebelumnya."
__ADS_1
TBC...